<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cerita dewasa</title>
	<atom:link href="http://www.ceritadewasaindo.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritadewasaindo.com</link>
	<description>Cerita Dewasa indonesia, cerita 17 tahun, cerita seks, cerita tante girang, cerita malam pertama, cerita panas, cerita porno, cerita seks, cerita mesum.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 04:58:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Take And Give</title>
		<link>http://www.ceritadewasaindo.com/take-and-give.html</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaindo.com/take-and-give.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 04:58:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[anusnya]]></category>
		<category><![CDATA[batang]]></category>
		<category><![CDATA[berat badan]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[istriku]]></category>
		<category><![CDATA[kamar tidur]]></category>
		<category><![CDATA[keluar]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[lebih]]></category>
		<category><![CDATA[masuk]]></category>
		<category><![CDATA[mengarang]]></category>
		<category><![CDATA[mulai]]></category>
		<category><![CDATA[pokok]]></category>
		<category><![CDATA[puting susu]]></category>
		<category><![CDATA[suara]]></category>
		<category><![CDATA[tak]]></category>
		<category><![CDATA[tak bisa]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaindo.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Begitu memasuki kamar tidur, segera kutelanjangi dia dan merebahkannya ke atas ranjang. Dia dalam keadaan setengah mabuk, tapi masih tetap dapat menjaga kesadarannya. “Sayang, aku akan melakukan sesuatu yang sedikit berbeda malam ini. Apa kamu bersedia?” tanyaku begitu berada di atas ranjang. “Aku bersedia” jawabnya segera. ***** Shinta istriku, mempunyai tinggi dan berat badan yang <a href="http://www.ceritadewasaindo.com/take-and-give.html"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu memasuki kamar tidur, segera kutelanjangi dia dan merebahkannya ke atas ranjang. Dia dalam keadaan setengah mabuk, tapi masih tetap dapat menjaga kesadarannya.</p>
<p>“Sayang, aku akan melakukan sesuatu yang sedikit berbeda malam ini. Apa kamu bersedia?” tanyaku begitu berada di atas ranjang.</p>
<p>“Aku bersedia” jawabnya segera.</p>
<p>*****</p>
<p>Shinta istriku, mempunyai tinggi dan berat badan yang sedang-sedang saja. Payudaranya tak bisa dikatakan besar tapi putingnya adalah sebuah puting susu terbesar dari semua wanita yang pernah kukenal saat dia sedang bergairah. Shinta seorang wanita yang pemalu, kecuali jika sedang berada di dalam kamar cinta kami.</p>
<p>Setelah lebih dari setahun dalam kehidupan seksual kami, aku sering berbisik di telinganya ditengah percintaan kami sambil kumainkan kelentitnya, dan mengatakan padanya tentang keinginanku untuk melihat seorang lelaki lain yang ‘bermain’ dengan tubuhnya. Dan Tuhan, ternyata hal ini membuat nafsunya semakin liar. Dan untuk beberapa bulan terakhir, aku mulai mengarang sebuah cerita dan menceritakan kisah fantasiku tersebut kepadanya saat kami sedang bercinta.</p>
<p>Hingga sampailah pada saat yang paling membuat jantungku berdebar… untuk menanyakan kepadanya apakah dia mau membuat semua fantasi itu menjadi nyata. Tentu saja kutanyakan hal ini saat kami sedang bercinta, dan dia menjawab ya dalam erangannya. Akhirnya minggu kemarin itu semua menjadi kenyataan.</p>
<p>Setelah pencarian dalam beberapa minggu dalam dunia maya, akhirnya kudapatkan seorang lelaki yang kuanggap memenuhi semua persyaratanku, kubuat janji untuk bertemu langsung dengannya di salah satu café di kotaku. Aku langsung merasa cocok dengan pilihanku begitu pertama kali melihatnya, setelah sedikit basa-basi dengannya, kami langsung ke pokok permasalahan, istriku.</p>
<p>Aku tawarkan tentang rencanaku untuk mengajak istriku keluar untuk dinner dan akan membuatnya mabuk dulu…</p>
<p>Rencananya adalah membuatnya mabuk, tapi tidak terlalu mabuk. Sebab saat istriku mengkonsumsi alkohol, bisaanya libidonya jadi melonjak tinggi. Kami mengatur dimana lelaki ini harus berada, namanya Yudi, bersembunyi di dapur. Sepulangnya aku dan istriku dari dinner, kami berdua berendam dulu dengan air hangat baru setelahnya naik ke atas ranjang.</p>
<p>*****</p>
<p>Kemudian aku memakaikan penutup mata padanya agar dia tak dapat melihat.</p>
<p>Dan lalu kuikatkan kedua tangannya pada tiang tempat tidur. Tak usah dikatakan lagi, sebuah lenguhan lirih langsung terdengar dari mulutnya. Tapi dia tak tahu apa yang akan kulakukan terhadapnya.</p>
<p>“Aku akan memijatmu dengan baby oil” Shinta selalu menyukainya. “Aku akan mengambil baby oilnya dulu di kamar mandi”.</p>
<p>Aku keluar dari kamar tidur dan langsung pergi ke basement menghampiri Yudi. Yudi dapat melihat kalau aku sudah sangat terangsang. Kami berdua kembali ke kamar setelah sebelumnya mengambil baby oilnya dulu. Yudi terkejut saat dia melihat istriku terikat pada ranjang dengan kedua matanya terrikat kain penutup.</p>
<p>Aku dan Yudi sudah sepakat kalau dia tidak akan bicara sebelum kuperintahkan. “Sayang, apa kamu juga mau memakai pelicin?” tanyaku.</p>
<p>“Oh, ya. Boleh juga” bisiknya pelan.</p>
<p>Dan aku membuat Yudi terkejut saat kusodorkan pelicin itu kepadanya. Kuberi dia isyarat agar melumurkannya pada payudara Shinta. Aku tak perlu memerintahkannya dua kali. Dituangkannya pelicin itu di seluruh gundukan daging payudara istriku dengan kedua tangannya dengan penuh perasaan. Segera saja puting payudara Shinta mengeras.</p>
<p>Dia mulai mengerang hebat “Sentuh vaginaku” perintahnya.</p>
<p>Yudi menatapku dan aku megisyaratkan padanya agar dia melakukan apa yang diinginkan oleh istriku. Dituangkannya banyak pelicin pada vagina istriku. Saat Yudi melakukan hal itua, istriku melenguh hebat. Yudi mulai menyentuh kelentitnya dan suara erangan istriku semakin bertambah keras saja. Aku berdiri tepat di tepi ranjang dan dapat kusaksikan semua yang dilakukan Yudi terhadap istriku. Dan kemudian hal itu terjadi. Yudi menusukkan jari tengahnya masuk ke dalam vagina Shinta yang basah. Kulihat punggung Shinta terangkat dari atas kasur dan erangannya semakin keras terdengar…</p>
<p>Setelah sepuluh menit, dia melenguh keras “Jilat vaginaku sayang”.</p>
<p>Kembali Yudi menatapku. Kuisyaratkan padanya agar dia mengerjakan apapun yang dikehendaki istriku lagi… Yudi tak menyia-nyiakan waktu. Dia menurunkan wajahnya tepat ke vaginanya. Pelicin itu dengan rasa strawberry. Tentu saja dia jadi menjilati kelentit Shinyta seperti orang gila saja.</p>
<p>Dan kemudian hal itu memukulku. Yudi tidak punya kumis seperti aku. Yang dapat kuperbuat hanya mengharapkan agar Shinta tak menyadari hal tersebut. Erangan dan lenguhan Shinta semakin bertambah keras dan keras. Tak dapat kupercaya betapa terangsangnya dia. Punggung Shinta melengkung ke atas seakan dia berada di surga. Yudi berhenti beberapa saat untuk mengambil nafas.</p>
<p>“Kamu menikmatinya sayang? Apa kamu ingin mendengar cerita yang lainnya lagi?” tanyaku.</p>
<p>“Ya sayang”.</p>
<p>Yudi tahu apa rencanaku. Dimasukkannya dua jari besarnya itu ke dalam vaginanya yang basah. Begitu dia melakukan hal itu, punggung Shinta melengkung ke atas lagi. Aku jadi semakin berani.</p>
<p>“Apa kamu ingin agar aku bermain dengan putingmu, sayang?” kembali Shinta mengiyakan. Maka saat Yudi sedang memainkan vaginanya, kucengkeram payudaranya dan menjepit putingnya dengan keras.</p>
<p>“Apa kamu ingin seseorang menjilati vaginamu, sayang” dia melenguh lagi.</p>
<p>Aku jadi semakin berani ” Jika ada seorang lelaki lain di sini, sekarang ini, apakah kamu akan mengijinkan dia melakukannya padamu?”.</p>
<p>Erangannya semakin keras “Ya. Aku pasti akan suka itu…”.</p>
<p>“Apa kamu akan membiarkan jarinya bermain di vaginamu, sayang?”.</p>
<p>“Ya”.</p>
<p>“Apa kamu akan menghisap penisnya?”.</p>
<p>“Ya. Pasti”.</p>
<p>“Maukah kamu mencobanya sekarang? Aku akan memakai sebuah dildo baru d vaginamu dan kamu bisa menghisap penisku. Bayangkan saja kalau ini adalah batang penis lelaki lain”.</p>
<p>Ya, ya, ya” sebuah erangan keras terlepas dari bibirnya.</p>
<p>Tak mau membuang kesempatan itu, kuturunkan penisku ke mulutnya. Shinta membuka mulutnya lebar-lebar dan langsung menelan selurh batang penisku ke dalam mulutnya. Kurasa aku pasti akan langsung keluar. Ada seorang lelaki lain yang sedang bermain dengan vaginanya, saat istriku menghisap batang penisku yang sangat keras.</p>
<p>“Aku akan melepaskan ikatanmu sekarang dan menarik tubuhmu ke tepi ranjang, tapi kamu tidak boleh melepaskan penutup matamu dengan alas an apapun juga” aku tetap berbicara dengannya.</p>
<p>Dengan cepat kulepaskan ikatannya dan menariknya ke tepi ranjang hingga pahanya menjuntai di lantai. Dia tetap memaki penutup matanya seperti seorang istri yang baik. Kemudian aku rebah di atas ranjang dan mendekatkan penisku ke wajah istriku lagi. Shinta menggenggamnya dan membawanya masuk ke dalam mulutnya. Aku melihat ke arah Yudi. Dia sudah melucuti pakaiannya dan berdiri di tepi ranjang.</p>
<p>“Sayang, apa kamu sudah siap dengan dildo yang baru?” tanyaku padanya.</p>
<p>“Tuhan, ya. Setubuhi aku dengan itu sayang” dia mengerang.</p>
<p>Yudi semakin bergerak mendekat padanya tanpa menyentuh atau naik ke atas ranjang. Aku dapat melihat semuanya. Dengan perlahan digenggamnya batang penisnya sendiri dan menggerakkannya kedepan mengarah ke vagina Shinta. Aku terhenti karena terkejut lagi. Ini adalah pertama kalinya aku melihat batang penisnya. Jauh lebih besar dan panjang dariku…</p>
<p>Ini membuatku takut. Aku yakin kalau Shinta akan segera tahu. Tapi sebelum aku merubah pikiranku, Yudi sudah mendorong masuk ke dalam tubuh Shinta.</p>
<p>Baru beberapa centi saja Shinta sudah mengerang sangat keras. Yudi mengambil hal itu sebagi perintah dan segera melesakkan seluruh batang penisnya ke dalam vagina istriku. Shinta menjadi tak terkendali… tapi kemudian dia menyadari apa yang tengah berlangsung… dia berhenti menghisapku dan mulai bergerak untuk meraih penutup matanya. Aku mengentikan tangannya tepat pada waktunya.</p>
<p>“Ada apa ini?” erangnya pelan.</p>
<p>“Kamu suka?” tanyaku tanpa mempedulikan pertanyaannya.</p>
<p>Dia diam beberapa saat lalu menjawab “Ya, tapi siapa yang berada di antara pahaku?”</p>
<p>Yudi terus menyetubuhinya. Dia tak pernah berhenti…</p>
<p>“Sayang, apa kamu ingin kuhentikan ini semua?” tanyaku.</p>
<p>Lagi-lagi, setelah beberapa detik dia baru menjawab “Tidak. Jangan!”</p>
<p>“Apa kamu ingin dia menyetubuhimu dengan keras?” tanyaku lagi.</p>
<p>“Tuhan, ya. Tentu saja. Dan aku ingin menghisap batang penismu juga” jawabnya.</p>
<p>Yudi seakan disulut. Dia mengayun semakin keras dan keras. Seluruh batang penisnya tenggelam dalam tubuh istriku. Paha Shinta mengait erat tubuh Yudi lebih merapat. Dia menggenggam batang penisku dan mulai menghisapnya dengan rakus. Dia seperti seorang wanita gila yang menjadi liar.</p>
<p>Dapat kurasakan spermaku akan meledak dengan hebat “Aku hampir keluar” kataku pada Shinta.</p>
<p>Dia melenguh dan mulai menghisap lebih cepat lagi. Tak beberapa lama kemudian kusemburkan spermaku dalam mulut Shinta dan dia menelannya secepat yang dia bisa. Kemudian kulihat ke atas dan dapat kusaksikan kalau Yudi juga sudah hampir keluar. Ini adalah saat mengambil keputusan bagiku. Apakah aku akan membiarkan orang lain menumpahkan spermanya dalam vagina istriku atau tidak.</p>
<p>Kupikir ini adalah hak Shinta untuk memilih “Shinta, apa kamu mau dia keluar di dalam atau kamu mau dia keluar di atas perutmu?”</p>
<p>Dikeluarkannya batang penisku dari dalam hisapan mulutnya dan mengejutkanku dengan jawaban yang dia berikan “Aku mau dia keluar di dalam” erangnya.</p>
<p>Dan akibat ucapan itu, wajah Yudi jadi memerah dan dia mengayun semakin keras. Kemudian tiba-tiba saja dia berhenti dan tak bergerak sama sekali. Aku tahu kemudian kalau dia orgasme. Geraman hebat keluar dari mulutnya. Shinta meraih tubuhnya dan menariknya jatuh menindih tubuhnya sendiri. Begitu bibir Shinta menemukan bibir Yudi, dia langsung saja melumatnya dengan liar. Aku duduk dan menyaksikan lidah Shinta merangsak masuk jauh ke dalam mulut Yudi. Shinta sangat terbakar.</p>
<p>Lalu sebelah tangan Shinta bergerak ke atas dan melepaskan penutup matanya. Aku tak dapat menebak apa yang akan dilakukannya kemudian. Apakah dia tak suka dengan lelaki yang kubawa ini. Aku tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawabannya. Shinta menatapnya dan menciumnya kembali. Saat dia sedang menciumnya, diraihnya batang penisku dan membuatnya keras lagi. Shinta benar-benar sedang terbakar hebat. Dia menghentikan ciumannya dan mencoba mengatur nafasnya yang tersengal.</p>
<p>“Aku ingin penisnya dalam mulutku dan aku mau kamu menyetubuhiku dari belakang jauh lebih keras darinya” katanya.</p>
<p>Aku terkejut , tapi tanpa menunggu lagi, Yudi dan aku mengambil tempat. Shinta sangat menginginkan batang penisnya. Dalam genggamannya, batang penis itu dia arahkan masuk seluruhnya kedalam mulutnya yang mendambakan. Aku berada diantara pahanya dan melesakkan penisku yang keras ke dalam lubang vaginanya yang terisi sperma.</p>
<p>Tak bisa kupercaya betapa panas dan basahnya vagina Shinta… Dalam setiap dorongan, dapat kudengar sperma Yudi dipaksa keluar dari dalam vagina Shinta. Aku menyetubuhi istriku sambil melihatnya menghisap batang penis Yudi. Dia terus mengerang bagaikan seorang wanita gila. Dan kemudian tanpa memberi peringatan, dia menghentikan hisapannya pada penis Yudi lalu menatapku.</p>
<p>“Aku mau penisnya dalam anusku” ucapnya tegas.</p>
<p>Ini benar-benar membuatku sangat terkejut. Aku hanya pernah melakukan anal seks dengan istriku tiga kali dan selalu saja baru sebentar dia merasan kesakitan. Dan ukuran batang penisku lebih kecil dari Yudi. Sambil memeluk istriku, aku berguling ke samping dengan penisku masih terbenam dalam tubuhnya. Yudi mengambil pelicin dan mengoleskannya ke pantatnya. Dengan jari tengahnya dia mulai memasuki lubang anus istriku. Aku sangat yakin kalau istriku akan menjerit. Tapi kupikir Shintaa pengaruh alkohol yang diminumnya, Shintaa dapat kurasakan dia malah mendorong pantatnya ke belakang berlawanan arah dengan gerak laju jari Yudi agar jarinya semakin masuk lebih ke dalam.</p>
<p>Setelah kurang lebih 3 menitan, Yudi mengeluarkan jarinya dan merebahkan diri di belakang istriku. Istriku menggenggam batang penisnya dan menuntunnya tepat menuju ke lubang anusnya. Sedikit demi sedikit mulai masuk. Istriku meraih kepalaku dan menempelkan bibirku dengan bibirnya, dia menciumku seakan dia belum pernah melakukannya denganku. Yudi dan aku menyelaraskan ayunan kami. Shinta mengerang seakan gila. Pengaruh dari sebuah batang penis milik lelaki lain pernah memasuki vagina istriku dan sekarang berada di dalam lubang anusnya, sudah lebih dari cukup buatku. Aku mulai menyemburkan spermaku jauh di dalam vagina Shinta Dia tahu aku sudah keluar dan dihentikannya ciumannya terhadapku.</p>
<p>Yudi juga sudah berada di batas akhirnya…</p>
<p>“Kamu mau aku keluar di dalam?” teriaknya keras.</p>
<p>“Ya, ya, lakukan, keluarlah di dalam anusku”</p>
<p>Sekali lagi aku dikejutkan, Shintaa istriku tak pernah mengijinkanku keluar dalam lubang anusnya. Beberapa detik kemudian aku menyaksikan Yudi berejakulasi di dalam lubang anusnya. Aku sudah merasa kelelahan. Kuraih selimut dan menariknya menutupi tubuh kami semua. Shinta berbaring dan memandangku ” Oh Tuhan, aku tak pernah membayangkan kalau kamu akan melakukan ini padaku”.</p>
<p>Dia menghabiskan malam bersama kami. Batang penisku masih tenggelam di dalam vaginanya dan penis Yudi berada dalam lubang anusnya. Kukatakan pada Yudi kalau sudah cukup untuk malam ini, dia tersenyum dan menyarankan agar beristirahat untuk beberapa menit. Setelah beberapa menit kukeluarkan penisku dari dalam vagina istriku dan Yudi juga mengeluarkan penisnya dari lubang anusnya. Shinta berbalik dan mengucapakan terimakasih padanya. Beberapa waktu kemudian akhirnya kami semua jatuh tertidur.</p>
<p>*****</p>
<p>Seusai sesi dari seks yang dahsyat, aku langsung jatuh terlelap. Shinta berada diantara aku dan Yudi. Pastinya ini sudah beberap jam ketika kupikir aku sedang bermimpi. Mataku tetap terpejam, tapi aku yakin kalau aku merasakan ranjang bergerak.</p>
<p>Aku terjaga sekarang, kucermati suara yang terdengar. Dapat kudengar suara bibir yang saling melumat dan lenguhan pelan dari Shinta. Lalu dapat kurasakan berguling dan pantatnya menekan salah satu pahaku. Aku pura-pura tak merasakannya, tapi dengan hati-hati kutengokkan kepalaku sedikit dan mengintip apa yang tengah terjadi.</p>
<p>Pastilah sudah kalau Shinta sudah beraksi kembali. Dengan bantuan sinar lampu yang redup, dapat kusaksikan kepala Shinta bergerak naik turun pada batang penis Yudi yang keras. Tuhan, dia sangat menyukai benda tersebut. Ditelannya keseluruhan batang itu dan terus melenguh seakan tidak akan ada lagi hari esok. Yudi hanya terbaring di sana dengan mata terpejam. Dapat kulihat kalau dia sangat menikmati apa yang dilakukan istriku terhadapnya.</p>
<p>Keduanya tak tahu kalau aku menyaksikan mereka. Aku hanya berbaring dan melihat. Setelah beberapa saat lamanya, lalu Yudi memegang kepala Shinta, menjauhkannya dari batang penisnya dan mendekatkannya ke arah mulutnya. Aku belum pernah merasakan ciuman seperti cara istriku mencium Yudi. Kedua lidah mereka saling masuk sedalamnya dalam rongga mulut yang lainnya. Dengan sebuah gerakan cepat, istriku telah berada di atas tubuh Yudi.</p>
<p>Shinta menggenggam batang penis Yudi dan menuntunnya masuk ke dalam tubuhnya. Dalam setiap dorongan yang teramat pelan, batang penis Yudi semakin masuk ke dalam dan lebih ke dalam lagi sampai akhirnya Shinta mendapatkan keseluruhan batang penis itu dalam tubuhnya. Sekarang pelan-pelan Shinta bergerak naik turun pada batang itu dan Yudi menjepit kedua putting payudara Shinta semakin keras dalam setiap ayunan tubuh Shinta. Shinta sangat senang jika putingnya di beri perhatian…</p>
<p>Tak dapat kupercaya istriku menyetubuhi lelaki ini lagi. Dan kali ini Shinta pikir kalau aku masih tertidur. Awalnya aku ingin menyentuhnya agar dia tahu kalau aku menyaksikan mereka. Tapi aku tak melakukannya. Aku tetap diam tak bersuara dan melihat. Sekarang Shinta menunggangi penisnya dengan keras dan cepat. Dia benar-benar sedang terbakar. Dengan sebelah tangannya istriku mulai memainkan kelentitnya sendiri. Hal ini memberitahukanku kalau dia ingin meraih orgasmenya, orgasme dengan segera. Jari lentiknya bergerak dengan gila di kelentitnya. Dan hal ini kelihatannya membuat Yudi semakin terangsang. Dia mulai bergerak mendorong keatas untuk menjemput setiap hentakan kebawah yang dilakukan Shinta.</p>
<p>Seakan berjam-jam rasanya Shinta menunggangi batang penis Yudi yang keras. Paling tidak sedikitnya dia mendapatkan orgasme lebih dari tiga kali. Dan kemudian kudengar suara erangan Yudi.</p>
<p>“Aku hampir keluar Shinta” katanya dengan suara yang bergetar.</p>
<p>“Keluarkan Yud, keluarlkan dalam vaginaku, berikan padaku sekarang” sekarang Shinta memohon padanya.</p>
<p>Dan tiba-tiba Yudi mendorong ke atas dengan sangat keras dan menahan tubuhnya dalam posisi tersebut untuk beberapa menit. Aku tahu kalau dia sedang orgasme dengan hebat sekarang. Shinta juga menahan gerakannya dan sebuah senyuman lebar terkembang di wajahnya. Kembali dia mendekatkan wajahnya dan mencium Yudi dengan liar dan penuh gairah.</p>
<p>Ketika meraka berhenti berciuman, Shinta berkata pada Yudi dengan suara pelan “Kita harus berhati-hati agar tak membangunkan suamiku”. Yudi hanya tersenyum saja dan menganggukkan kepalanya.</p>
<p>Perlahan Shinta bangkit dari batang penis Yudi dan sperma lelaki itu meleleh keluar dari vaginanya yang basah. Yudi memberinya sebuah ciuman singkat dan turun dari ranjang. Dia mengenakan pakaiannya dan kenudia dia keluar dari kamar. Kupikir dia pergi meninggalkan rumahku. Shinta memelukku dan aku masih tetap diam, berharap kalau dia tak merasakan ereksiku.</p>
<p>Pagi harinya aku dibangunkan oleh ciuman shinta di pipiku. Shinta sudah bangun terlebih dulu dan menyiapkan sebuah sarapan untukku. Dia rebah di sisiku dalam keadaan telanjang saat aku menyantap sarapan pagi ini dia atas ranjang bagaikan seorang raja saja. Kupandang dia dan tersenyum.</p>
<p>“Ada yang salah?” tanyanya.</p>
<p>“Tidak ada. Tak ada yang salah sedikitpun. Tapi jika aku tahu jauh lebih awal caranya untuk mendapatkan layanan sarapan pagi di atas ranjang seperti ini, adalah dengan mengatur agar istriku disetubuhi sampai gila, pasti aku sudah melakukannya dari dulu” dia hanya tertawa saja sambil melihatku menyantap sarapan yang dihidangkannya</p>
<p>Setelah aku selesaikan sarapanku, dia bertanya “Tentang semalam, bagaimana menurutmu? Kamu suka?”.</p>
<p>“Semalam sangat hebat. Kulakukan semua itu hanya untukmu, sayang. Semua wanita bermimpi untuk bercinta dengan dua orang lelaki sekaligus” jawabku.</p>
<p>Shinta memotongku dengan cepat ” Jadi sama juga denagn lelaki, semaua lelaki mempunyai mimpi untuk menyetubuhi dua orang wanita dalam waktu yang sama”.</p>
<p>“Tentu. Lelaki mana yang tak akan suka bercinta dengan dua orang wanita diatas ranjang dan waktu yang sama”.</p>
<p>Lalu dia mengajukan sebuah pertanyaan besar padaku “Kalau kamu disuruh memilih seorang wanita untuk bergabung dengan kita di atas ranjang, siapa yang akan kamu pilih?” tanyanya.</p>
<p>Ini adalah sebuah pertanyaan yang menjebak, pikirku dan aku harus sangat berhati-hati dengan jawaban pilihanku. Aku hanya tersenyum dan berkata padanya ” Siapa yang akan kamu pilihkan untukku…”.</p>
<p>“Tidak adil. Semalam kamu sudah memilihkan untukku dan aku menyukainya. Nah, katakana padaku siapa yang kamu pilih dan mungkin aku dapat memberikannya untuk kamu setubuhi malam ini”.</p>
<p>Kutunggu beberapa detik. Aku sangat ingin melakukannya, jadi aku harus berpikir keras. Tapi aku sudah tahu siapa yang aku inginkan. Dia adalah adik kandung Shinta sendiri, Rully. Dia punya penampilan yang dapat membuat semua lelaki akan berlutut dan memohon agar dapat bercinta dengannya. Tapi yang paling membuatku tergila-gila padanya adalah saat dia memakai rok. Rully memilki sepasang paha yang mematikan…</p>
<p>Tapi Rully selalu terkesan dingin padaku setiap keluarga besar kami berkumpul. Tapi setiap kali aku memandangnya, hasrat untuk menyetubuhinya selalu membakar benakku.</p>
<p>Cukup sudah, kupikir kenapa aku tidak memberitahu istriku. Ku tatap langsung di matanya “Jika aku disuruh memilih seorang wanita yang akan ikut bergabung di ranjang kita, dia adalah Rully, adikmu” jawabku. Aku yakin kalau dia akan marah dengan jawaban yang kuberikan.</p>
<p>Tapi dia malah hanya tersenyum dan mulai tertawa “Aku tahu itu. Bisa kulihat kalau kamu suka padanya karena kamu selalu memandangnya saat keluarga kita berkumpul. Kamu suka padanya”.</p>
<p>“Tentu saja aku suka padanya” sekarang adalah waktu untuk menentukan. “Apa yang membuatku tertarik dengan adikmu adlah pahanya. Kamu tahu kan, kalau aku sangat suka dengan paha yang indah” kataku padanya.</p>
<p>“Dan kamu ingin agar aku membawa dia ke ranjang kita agar kamu dapat menyetubuhinya, benar kan?” tanyanya.</p>
<p>“Kamu kan bertanya padaku siapa yang aku inginkan” belaku.</p>
<p>Dia kembali tertawa “Apa kamu menginginkan Rully nanti malam?’</p>
<p>“Ya…” jawabku. Dia kembali tersenyum.</p>
<p>Kami berdua turun dari ranjang dan mandi. Setelah itu dia menyuruhku untuk pergi keluar dan jangan kembali hingga nanti malam “Aku akan mempersiapkan kejutan untukmu…”</p>
<p>Aku menuruti permintaannya. Kunyalakan mobilku dan pergi ke pusat kota. Pertanyaan besar menghantuiku, apakah dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu…</p>
<p>Akhirnya setelah melewati waktu yang seakan berabad-abad lamanya aku kembali ke rumah. Kubuka pintu depan dengan jantung yang berdetak keras dan masuk ke dalam rumah. Tak kujumpai seorangpun di ruang depan. Begitu aku memasuki ruang keluarga, suara musik dari stereo set terdengar lembut, Rully dan Shinta duduk di Sofa dan aku duduk di kursi di depannya. Mereka berdua beristirahat di atas sofa sambil mendengarkan suara musik yang mengalun pelan. Kuperhatikan mata Rully terpejam dan dia hanya diam saja.</p>
<p>“Selamat datang sayang. Kejutan untukmu sudah siap” sambut istriku</p>
<p>Shinta memegang paha Rully dan bertanya padanya “Rully, kamu mau tidur di mana?” tak ada jawaban dari Rully.</p>
<p>“Kamu mau tidur di kamar yang mana malam ini?” Shinta kembali bertanya dan lagi-lagi tak ada jawaban dari adiknya.</p>
<p>“Kukira dia pingsan” Shinta meberitahuku. Aku hanya tertawa.</p>
<p>“Nah, kurasa lebih baik dia tidur di kamar kita”. Sambungnya lagi.</p>
<p>Aku tersenyum lagi “Kita tidak bisa melakukannya pada adikmu, sayang”.</p>
<p>“Percaya padaku saja. Rully tak akan cepat bangun. Aku sudah memberinya enam butir obat tidur dosis tinggi” kata Shinta meyakinkanku.</p>
<p>“Kamu tak seharusnya melakukan itu, sayang” kataku padanya.</p>
<p>“Oh, diamlah dan bantu aku mengangkatnya ke kamar”. Jawabnya memotong.</p>
<p>Dengan berhati-hati kuangkat tubuh Rully yang ramping ke kamar kami. Dia masih tetap terlelap saat kurebahkan dia ke atas ranjang. Shinta mendudukkannya lagi dan melepaskan kaos yang dikenakannya tepat di depanku. Tak ada bra di sana. Ini pertama kalinya kulihat payudaranya yang kencang secara langsung dan begitu dekat. Bukit daging itu sangat sempurna, putingnya mencuat keras menghiasi puncaknya.</p>
<p>“Bantu aku melepaskan roknya” kata Shinta pelan sambil merebahkan kembali tubuh Rully. Begiru Shinta sudah melepaskan rok itu dari kaki adiknya, kembali aku mendapatkan sebuah kejutan lain. Rully kecil, di usianya yang tiga puluh dua, dia membuat vaginanya tercukur bersih tanpa rambut.</p>
<p>Istriku melihatku memandangi vagina adiknya “Aku tahu kalau kamu akan menyukainya” katanya dengan nada menggoda</p>
<p>Setelah kami selesai menelanjangi Rully dan merebahkannya dengan baik, istriku melucuti semua pakaiannya dan rebah disamping tubuh telanjang adiknya lalu menatapku. “Nah, apa kamu mau naik ke atas ranjang sekarang?” tanyanya makin menggoda.</p>
<p>Layaknya orang gila saja, kutelanjangi diriku dengan cepat dan segera meloncat naik ke samping tubuh Rully yang sebelahnya. Kuberi sebuah pandangan penuh Tanya pada istriku “Sekarang apa?”.</p>
<p>“Lakukanlah, sentuh dia” jawab istriku.</p>
<p>“Mana mungkin? Nanti dia akan terbangun” kataku ragu.</p>
<p>Shinta tertawa keras “Lihat. Rully mulai kedinginan dan dia tak akan terbangun sampai besok”.</p>
<p>“Tentu” .</p>
<p>Shinta membuatku terkejut dan menaruh tangannya tepat di vagina adiknya yang dicukur bersih “Iya kan. Jika dia bangun, apa bisa aku melakukan ini?”</p>
<p>“Terserahlah” jawabku.</p>
<p>Dan kembali aku dibuatnya terkejut ketika dibentangkannya lebar-lebar paha Rully dengan tangannya lalu menusukkan dua jarinya ke dalam lubang vagina adiknya. Rully hanya berbaring dan tak bergerak sama sekali. Shinta mengeluarkan kedua jarinya lalu menyodorkannya ke mulutku.</p>
<p>“Ini kesempatanmu untuk mencicipi bagaimana rasanya vagina adikku. Bagaimana, mau mencobanya?” dengan cepat kutarik kedua jari istriku dan memasukkannya ke dalam mulutku dan menghisapnya dengan rakus.</p>
<p>“Mau menjilat yang nyata?” tanya Shinta</p>
<p>Dia tak perlu bertanya padaku dua kali. Dengan cepat aku bangkit dan mengatur posisi diantara paha Rully dan menyelam ke vaginanya serta mulai memberinya jilatan lidahku. Begitu aku menjilati vaginanya, tanganku bekerja pada payudaranya. Tuhanku, payudaranya terasa sangat kencang dan lembut. Putingnya smekin bertambah keras dan panjang. Rully kedinginan tapi tubuhnya kelihatannya mulai terangsang. Shinta mulai bergerak ke selangkanganku dan mengocok batang penisku yang keras.</p>
<p>“Wah, kamu senang ya menjilat adikku? Aku mau menghisap penismu saat kamu menjilat vaginanya” katanya menggoda. Aku berputar dan memberikan batang penisku pada mulutnya. Dia menghisapnya dengan hebat.</p>
<p>Lalu aku mulai perhatikan kalau pinggul Rully bergerak sedikit. Aku pikir kalau Rully mengira jika ini adalah mimpi. Tapi kemudian kurasakan tangannya berada di atas kepalaku, mendorongkan wajahku dengan kuat ke vagina tak berambutnya. Aku jadi semakin cepat menjilati. Kupandang ke atas pada wajah Rully dan sekarang kedua matanya sudah terbuka lebar.</p>
<p>“Oh Tuhan, kamu bilang jilatannya hebat” kata Rully dengan suara keras. Ini sangat mengejutkanku. Shinta menghentikan hisapannya dan tertawa dengan keras.</p>
<p>“Apakah dia pasangan bercinta yang hebat?” tanya Rully pada kakaknya.</p>
<p>“Oh, ya. Tentu saja… Apa kamu mau mencobanya sekarang?” balas istriku.</p>
<p>“Ya. Itu pasti” pinta Rully sambil mendorongku menjauh dari vagina tak berambutnya yang basah dan menarikku menaiki tubuh seksi rampingnya.</p>
<p>Sepertinya penisku tahu kemana harus pergi dengan tepat. Tepat ke vaginanya yang basah. Dengan dua-tiga kali dorongan, aku sudah berada jauh di dalam vaginanya. Sekarang Shinta berbaring di sebelah Rully menyaksikanku menyetubuhi adiknya dengan liar “Pelan sedikit, sayang. Ingat kalau Rully menginap dan kamu punya kita berdua untuk dipuaskan malam ini”.</p>
<p>Kudorong batang penisku sedalam-dalamnya. Rully mengerang keras. Aku bisa memastikan kalau dia sudah dekat dengan orgasmenya.</p>
<p>“Apa ini yang kamu inginkan, sayang?” tanya istriku.</p>
<p>“Ya”.</p>
<p>“Ada yang lainnya agar aku dapat mewujudkan fantasimu, sayang?” tanyanya lagi.</p>
<p>“Ya. Hisap putting Rully saat aku menyetubuhinya, sayang… kumohon” Shinta memegang salah satu payudara Rully dan mulai menghisapnya dengan liar.</p>
<p>Rully mengerang semakin keras sekarang. Istriku menghentikan hisapannya sejenak untuk mengambil nafas. Saat dia melakukan hal ini, sebuah cairan putih bening menetes keluar dari mulut Shinta. Itu adalah air susu… Tuhan, tak mungkin pikirku. Rully habis melahirkan bayinya tiga tahun yang lalu dan kupikir mungkin suaminya telah menyuruhnya agar dia tetap menjaga agar air susu itu tersimpan dalam payudaranya. Kudekatkan mulutku pada putting yang satunya dan mulai menyusu seperti seorang bayi yang baru lahir. Ini adalah pertama kalinya aku merasakan air susu ibu dan Tuhanku, rasanya sangat manis.</p>
<p>Aku tahu kalau aku tak akan mampu bertahan lebih lama lagi sekarang. Dan beberapa menit kemudian, spermaku menyembur jauh di dalam vagina adiknya yang panas. Rully juga mendapatkannya, punggungnya melengkung terangkat dari atas kasur dan mendorongkan pinggulnya ke penisku dengan kerasnya.</p>
<p>Pelan-pelan orgasme kami mereda. Shinta masih menghisap putting payudara Rully. Aku bergerak turun dari atas tubuh Rully agar dia dapat bernafas dengan lega. Rully mencengkeram rambut Shinta.</p>
<p>“Ada apa?” tanya Shinta dengan suara keras.</p>
<p>“Kamu bilang kalau kamu akan membersihkan vaginaku sehabis dia keluar di dalamku”. jawab Rully. Shinta turun diantara paha Rully dan mulai menjilat dan menghisapi spermaku di vagina adiknya. Andaikan sekarang aku memegang kamera…</p>
<p>Cukup sudah, pemandangan dari Shinta yang menjilati vagina adiknya sendiri membuat penisku mengeras kembali. Aku bangkit dan bergerak ke belakang Shinta. Hanya dengan satu dorongan saja, seluruh batang penisku sudah terbenam dalam cengkeraman vagina Shinta yang panas. Semakin keras aku mengocok vaginanya, semakin bertambah cepat pula jilatannya pada vagina Rully. Setelah kurang lebih selama sepuluh menitan menyodok vaginanya dengan keras, kusemburkan lagi spermaku untuk yang kedua kalinya kurang dalam tiga puluh menit ini. Astaga, kuraskan vagina Shinta mencengkeram batang penisku dengan sangat erat dan dia mengerang keras tapi tak pernah menghentikan kegiatan menjilatnya. Aku tahu kalau dia mendapatkan sebuah orgasmeyang hebat juga. Dan Rully juga meraih orgasmenya tak lama berselang. Kami bertiga dalam waktu yang bersamaan. Ini adalah sebuah mimpi yang jadi nyata bagiku…</p>
<p>Aku rebah ke ranjang diantara Rully dan istriku. Mereka berdua memelukku. Sekarang sudah jam 3 pagi. Kami semua libur keesokan harinya, tapi Rully harus tidur dulu sebelum dia pulang. Maka kami memutuskan beristirahat saja sekarang.</p>
<p>Istriku berbisik di telinga Rully, “Mungkin lain kali kalau kamu menginap, Bob dapat menelpon Yudi, temannya dan memintanya untuk menginap agar kita dapat melakukannya berempat” itu membuatku berkhayal. Aku tahu Shinta tak begitu menginginkan Yudi. Tapi sekarang dia sangat ingin membagi adiknya dengan lelaki itu.</p>
<p>Ya tentu saja kukabulkan keinginannya, “Minggu depan kita akan melakukannya jika Rully dapat kabur dari suaminya” kataku.</p>
<p>“Kamu yang atur dan aku tak akan pergi kemanapun selama akhir pekan”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaindo.com/take-and-give.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Airport</title>
		<link>http://www.ceritadewasaindo.com/airport.html</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaindo.com/airport.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 17:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[bandara]]></category>
		<category><![CDATA[jalani]]></category>
		<category><![CDATA[kumis]]></category>
		<category><![CDATA[lebat]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia airline]]></category>
		<category><![CDATA[naiki]]></category>
		<category><![CDATA[pasrah]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan penerbangan]]></category>
		<category><![CDATA[tiket pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[unyil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaindo.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun yang lalu aku dan Lily bertamasya ke Disney World di Orlando, Amerika Serikat. Karena keuangan yang agak pas-pasan, kami membeli tiket pesawat dari perusahaan penerbangan yang lebih murah. Pilihan kami jatuh pada Malaysia Airline (selain murah, pada saat itu sedang ada harga promosi). Semua perencanaan terlihat begitu baik. Kami berangkat dari Jakarta sekitar <a href="http://www.ceritadewasaindo.com/airport.html"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua tahun yang lalu aku dan Lily bertamasya ke Disney World di Orlando, Amerika Serikat. Karena keuangan yang agak pas-pasan, kami membeli tiket pesawat dari perusahaan penerbangan yang lebih murah. Pilihan kami jatuh pada Malaysia Airline (selain murah, pada saat itu sedang ada harga promosi).</p>
<p>Semua perencanaan terlihat begitu baik. Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam 7 malam. Sesuai jadwal yang telah diberitahukan, kami transit selama 1 jam di Kuala Lumpur untuk melanjutkan ke penerbangan selanjutnya langsung ke bandara John F Kennedy (JFK) di New York .</p>
<p>Itu yang kami tahu. Akan tetapi pada kenyataannya kami harus transit sekali lagi di Dubai (Arab). Aku sempat kecewa karena kami tidak diberitahukan akan hal ini sebelumnya. Aku sempat menanyakan tempat transit mana saja yang akan kami jalani pada perusahaan travel tempat kami memesan tiket namun mereka mengatakan bahwa kami hanya transit satu kali di Kuala Lumpur .</p>
<p>Aku sempat mengira kami telah salah naik pesawat karena persinggahan pesawat kami di Dubai itu. Setelah mengetahui kapal yang kami naiki benar-benar menuju ke New York , kami hanya pasrah saja.</p>
<p>Pemeriksaan yang bertele-tele di bandara Dubai sungguh melelahkan. Kami harus mengantri sekitar 1 jam untuk melewati pemeriksaan bagasi saja.</p>
<p>Setelah barang-barang bawaan kami melewati alat sensor, seorang petugas menghampiri tas koper istri saya dan berseru dengan suara agak keras untuk menanyakan siapa pemilik koper tersebut. Istri saya maju dan mengatakan kepadanya bahwa tas itu miliknya.</p>
<p>Petugas tersebut memandangi Lily cukup lama. Salah satu hal yang paling kuingat dari wajahnya adalah kumis yang lebat seperti Pak Raden dalam film si Unyil. Lalu ia membuka koper itu dan mulai mengacak-acak isinya. Isi koper itu hanyalah pakaian-pakaian dan peralatan kosmetik Lily. Tangan pria itu (sebut saja si Kumis) mengeluarkan satu kantong berisi bubuk hitam dari dalam koper.</p>
<p>“What is this?” tanyanya dengan logat yang sulit dimengerti.</p>
<p>Lily menjawab gugup, “Coffee.”</p>
<p>Alis si Kumis mengkerut. Matanya menatap tajam Lily. Lalu ia mengatakan beberapa kalimat yang sulit dipahami. Kemungkinan besar apa yang ingin dikatakan si Kumis (dengan menggunakan bahasa inggris yang sangat aneh) adalah membawa kopi dilarang.</p>
<p>Aku mendekati petugas itu dan menanyakan lebih jelas permasalahannya. Si Kumis masih saja mengacak-acak koper itu seakan mencari sesuatu yang hilang. Tanpa merapihkan isi koper itu lagi, ia menutupnya dan memandang aku dengan wajah curiga.</p>
<p>“Who are you?” aku menduga ia mengucapkan kata-kata tersebut.</p>
<p>“I’m her husband. What’s the problem, sir?”</p>
<p>Ia terus memandangi kami berdua secara bergantian. Ia memanggil dua orang petugas lain di belakangnya dengan gerak isyarat. Lalu ia berkata, “Follow me!”</p>
<p>Dua koper kami diangkat oleh salah satu opsir yang baru dipanggil si Kumis sedang yang satunya lagi menggiring kami untuk mengikuti si Kumis. Si Kumis berjalan dengan cepat masuk ke dalam ruangan tertutup di pojok lorong tak jauh dari WC.</p>
<p>Ruangan yang tak lebih dari 3 x 3 meter itu sangat terang dan seluruh temboknya dilapisi cermin setinggi 2 meter dari lantainya. Koper kami dilemparkan dengan kasar ke atas meja di pinggir. Ketiga pria itu (termasuk si Kumis) telah masuk ke dalam ruangan. Pria yang memiliki brewok lebat menutup pintu lalu menguncinya.</p>
<p>Kami berdua berdiri terpaku di hadapan mereka bertiga. Aku merasa cemas akan semua ini. Apa yang akan terjadi? Apa masalah yang begitu besar sehingga kami harus diperiksa di ruangan terpisah? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang memenuhi pikiranku (mungkin tak beda jauh dengan benak Lily).</p>
<p>Baru saja aku ingin membuka mulut untuk menanyakan permasalahannya, si Kumis mengatakan sesuatu yang tak jelas. Kata-kata yang dapat tertangkap oleh telingaku hanyalah “stand”, “wall” (dan “against” setelah berpikir beberapa detik untuk mencernanya). Menurut perkiraanku mereka ingin kami berdiri menghadap tembok. Informasi ini kuteruskan ke Lily yang tidak mengerti sama sekali perkataan si Kumis.</p>
<p>Dengan enggan kami membalik badan kami menghadap tembok. Dari pantulan cermin di depan kami, aku melihat si Brewok dan pria yang satunya lagi yang berbadan lebih tegap (sebut saja si Tegap) menghampiri kami. Telapak tangan kami ditempelkan di tembok (cermin) di depan kami dan kaki kami direnggangkan dengan menendang telapak kaki kami agar bergeser menjauh.</p>
<p>Si Brewok mulai memeriksa seluruh tubuhku. Dimulai dari atas dan bergerak ke bawah. Pemeriksaan berlangsung cepat. Beberapa benda di kantong baju dan celanaku dikeluarkan dan diletakkannya di meja terpisah.</p>
<p>Sama halnya seperti yang terjadi pada diriku, si Tegap memeriksa Lily dari atas ke bawah. Sekilas aku melihat dari cermin, si Tegap menggerayangi payudara Lily walau hanya sebentar.</p>
<p>Tak ada ekspresi yang berubah dari wajah Lily. Sejak tadi ekspresi yang terlihat hanyalah ekspresi kecemasan. Aku menepis pemikiran bahwa si Tegap mencari kesempatan dalam kesempitan pada tubuh istriku. Mungkin saja memang ia harus memeriksa bagian dada Lily, toh dadaku juga diperiksa oleh si Brewok, pikirku.</p>
<p>Benda-benda juga dikeluarkan dari kantong jaket, baju dan celana Lily. Meja itu dipenuhi oleh uang receh, permen, sapu tangan dan kertas-kertas tak berguna dari isi kantong kami berdua.</p>
<p>Kemudian setelah harus mencerna hampir lima kali kata-kata yang tak jelas dari si Kumis (yang ternyata adalah atasan si Brewok dan si Tegap), aku menyadari bahwa ia menyuruh kami untuk membuka pakaian kami. Jantungku seperti berhenti berdetak. Lily masih belum dapat mengira-ngira perkataan si Kumis itu.</p>
<p>Tanpa memberitahu istriku, aku mencoba untuk memprotes kepada si Kumis. Namun si Kumis membentak, yang kuduga isinya (jika diterjemahkan): “Jangan macam-macam! Cepat laksanakan!” Beberapa kata yang dapat tertangkap jelas oleh telingaku adalah “Don’t play” dan “Quick”.</p>
<p>Aku membisikkan kepada istriku keinginan si Kumis. Mata Lily membesar dan mulutnya terbuka sedikit karena kaget.</p>
<p>Si Tegap dan si Brewok sudah berdiri di samping kami dan mengawasi kami dengan pandangan tajam. Aku melirik ke pinggang si Brewok. Pandanganku tertumpu pada pistol yang menggantung di pinggang tersebut.</p>
<p>Perasaan takut sudah menguasai diriku. Aku mulai melepaskan pakaianku dari sweater, kemeja, kaos dan celana panjang. Pada saat aku melepaskan kemejaku, Lily masih belum beranjak untuk melepaskan pakaiannya. Karena takut istriku dilukai, aku memberi pandangan isyarat kepadanya agar ia segera melepaskan pakaiannya.</p>
<p>Akhirnya dengan berat hati ia melepaskannya satu per satu. Jaket, kemeja, kaos dalam dan terakhir celana jeansnya. Kami berdua berdiri hanya dengan pakaian dalam kami.</p>
<p>Si Kumis berkata sesuatu yang sama sekali tidak dapat kumengerti. Detik berikutnya si Tegap menarik tangan Lily dan membawanya ke sisi tembok yang bersebelahan dengan tembok di hadapan kami. Tangan si Brewok menahanku ketika aku hendak mengikuti Lily. “Don’t move!” katanya kepadaku dengan sangat jelas.</p>
<p>Aku masih dapat melihat Lily (dari bayangan di tembok cermin) berdiri tak jauh di sebelah kananku. Ia menghadap tembok namun pada sisi yang berbeda dengan tembokku.</p>
<p>Lalu si Brewok menarik tanganku agar kedua telapak tanganku menempel di tembok cermin dan merenggangkan kakiku. Si Tegap melakukan hal yang sama pula terhadap Lily.</p>
<p>Si Brewok yang berdiri di belakangku, meraba-raba bagian tubuhku yang ditutupi oleh celana dalamku, mencari-cari sesuatu untuk ditemukan. Setelah itu sambil menggelengkan kepalanya, ia mengatakan sesuatu kepada si Kumis.</p>
<p>Pada saat itulah aku melihat tangan si Tegap menggerayangi tubuh Lily. Dengan jelas aku melihat tangannya meremas payudara Lily selama beberapa detik. Tangannya bergerak ke bagian bawah tubuh Lily. Kemudian si Tegap berjongkok di belakang Lily dan aku tak dapat lagi melihat apa yang dikerjakannya setelah itu. Lily memejamkan matanya. Alisnya sedikit mengkerut.</p>
<p>Selama sekitar 20 detik, aku tak berani memalingkan wajahku untuk melihat apa yang dikerjakan si Tegap pada istriku. Lalu ia berdiri dan berkata pelan kepada si Kumis (lagi-lagi aku tak dapat menangkap kata-kata yang diucapkan mereka).</p>
<p>Si Kumis berkata-kata lagi diikuti dengan ditariknya celana dalamku ke bawah oleh si Brewok. Belum sempat kaget, aku mendengar Lily menjerit kecil. Rupanya celana dalamnya sudah ditarik ke bawah sampai ke lututnya, sama seperti yang dilakukan si Brewok terhadap celana dalamku. Setelah itu si Tegap meraih kaitan di belakang BH Lily dan melepaskannya dengan cepat. Si Tegap meraih BH itu dan menariknya satu kali dengan keras sehingga lepas dari tubuh Lily.</p>
<p>Secepat kilat Lily menutupi kedua dadanya. Aku pun menutupi kemaluanku. Kami berdua berdiri tegang. Si Kumis berjalan perlahan menghampiriku lalu bergerak ke arah Lily. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri dan memperhatikan tubuh istriku. Aku rasa, Lily mulai akan menangis.</p>
<p>Si Kumis memberi isyarat kepada si Tegap. Lalu si Tegap menghampiriku dan berdiri menantang di sampingku. Aku hanya melirik sekali dan mendapati wajahnya berubah menjadi lebih kejam tiga kali lipat.</p>
<p>Sambil mengatakan sesuatu, si Kumis mendorong pentungan hitam (yang biasa dibawa oleh polisi) yang dipegangnya ke arah tangan Lily yang menutupi buah dadanya. Aku dapat melihat istriku menjatuhkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Si Kumis kembali memandangi Lily dan kali ini pandangannya terkonsentrasi ke arah payudara istriku.</p>
<p>Hampir semenit penuh ia memandangi tubuh Lily. Lily hanya memejamkan matanya, mungkin karena takut (atau malu?).</p>
<p>Dengan menggunakan pentungan hitamnya itu, si Kumis menurunkan celana dalam Lily dari lutut sampai ke mata kakinya. Lalu ia memaksa Lily untuk merenggangkan kakinya sehingga mau tak mau ia melangkah keluar dari celana dalamnya.</p>
<p>Pada saat si Kumis mulai menggerayangi payudara istriku, aku beringsut dari tempatku untuk mencegahnya. Namun bukan aku yang mencegah perbuatan si Kumis, si Tegap dibantu oleh si Brewok menahan tubuhku untuk tetap berdiri di tempat.</p>
<p>Aku meneriaki si Kumis untuk menghentikan perbuatannya. Teriakanku disambut dengan tamparan keras pada pipi kananku. Aku merasakan rasa asin yang kutahu berasal dari darah yang mengalir dalam mulutku. Akhirnya aku hanya berdiri dan berdiam diri.</p>
<p>Tak beberapa lama setelah itu, si Kumis berjongkok di depan Lily sehingga aku tak dapat melihat apa yang dilakukannya. Dari sudut pandangku, aku hanya dapat melihat dari bayangan di cermin bagian belakang tubuh si Kumis yang sedang berjongkok di antara kedua paha Lily.</p>
<p>Tidak terdengar suara apa pun selain suara detak jantungku yang semakin keras dan cepat. Lily tetap memejamkan matanya dengan alis sedikit mengkerut, sama seperti tadi.</p>
<p>Lily tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi masuk ke dalam ruangan itu. Istriku memang agak penakut dan kurang berani mengungkapkan pendapatnya pada orang lain. Walaupun demikian, aku agak heran dengan sikap istriku saat itu yang tidak memprotes sedikit pun atas perbuatan si Kumis terhadap dirinya. Atau mungkin saja si Kumis tidak melakukan apa-apa saat itu, batinku.</p>
<p>Setelah lima menit berlalu dalam keheningan, tiba-tiba istriku mengeluh (lebih menyerupai mendesah), “Hhwwhhh…” Aku melirik ke arahnya dan mendapati ia tidak lagi menutup matanya. Matanya agak membelalak dan mulutnya terbuka sedikit.</p>
<p>Setelah itu, si Kumis berdiri dan menghampiri si Tegap. Ia memberi isyarat dengan tangannya kepada si Tegap dan si Brewok untuk meninggalkan ruangan itu.</p>
<p>Aku yakin (sangat yakin, untuk lebih tepatnya) bahwa aku melihat beberapa jari si Kumis mengkilap karena basah. Hanya dengan melihat hal itu, cukup bagiku untuk menduga apa yang telah dilakukan si Kumis terhadap istriku.</p>
<p>Si Kumis berkata-kata kepada kami. Kali ini aku yakin ia mengatakannya dalam bahasa inggris. Walau aku hanya dapat menangkap sepenggal kalimat (“may pass”), namun aku yakin bahwa ia menyuruh kami mengenakan kembali pakaian kami dan memperbolehkan kami untuk melanjutkan perjalanan kami.</p>
<p>Awalnya aku tak mempercayai pendengaranku (dan tafsiranku terhadap kata-katanya). Namun setelah mereka keluar dari ruangan itu dan meninggalkan kami berdua saja, aku semakin yakin.</p>
<p>Aku menyuruh Lily untuk mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Dan ia mulai menangis terisak-isak sambil mengenakan pakaiannya.</p>
<p>Setelah selesai mengenakan seluruh pakaian kami, aku memeluk istriku yang masih menangis. Dalam pelukanku tangisannya semakin menjadi. Aku hanya mengelus-elus rambutnya dan menenangkan hatinya dengan mengatakan bahwa semua itu sudah berakhir.</p>
<p>Sesampai kami di hotel (di Orlando), Lily akhirnya menceritakan apa yang diperbuat si Kumis terhadap dirinya. Ia bercerita bahwa sambil menjilati klitorisnya, si Kumis menggesek-gesekkan jarinya ke kemaluan istriku. Pada akhirnya si Kumis memasukkan satu – dua jarinya ke dalam liang kewanitaannya lalu mengocoknya beberapa kali.</p>
<p>Lily mengatakan bahwa dirinya merasa jijik atas perbuatan si Kumis. Setelah beberapa saat, aku menanyakan padanya apakah ia terangsang saat itu.</p>
<p>Mendengar pertanyaan itu, Lily langsung mencak-mencak dan mengambek. Dalam rajukannya, ia menanyakan kenapa aku berpikiran seperti itu.</p>
<p>Aku mengungkapkan bahwa aku melihat jari-jari si Kumis basah pada saat ia menghampiriku sebelum keluar dari ruangan itu. Lily menjawab bahwa jari-jari itu basah karena terkena ludah dari lidah yang menjilati klitorisnya. Karena tak mau melihat dirinya merajuk lagi, akhirnya aku menerima penjelasannya dan meminta maaf karena telah berpikiran seperti itu.</p>
<p>Sebenarnya di dalam otak, logikaku terus berputar. Bagaimana mungkin ludah si Kumis dapat membasahi sepanjang jari-jarinya itu, pikirku. Dalam hatiku yang terdalam sebenarnya aku tahu bahwa jari-jari si Kumis bukan basah oleh ludah melainkan oleh cairan yang meleleh dari kemaluan istriku.</p>
<p>Namun aku menepis pendapatku itu dan tidak berniat membahasnya lagi dengan Lily agar kami dapat menikmati sisa waktu kami di Amerika itu.</p>
<p><small><strong><br />
</strong></small></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://www.ceritadewasaindo.com/airport.html" title="cerita hot anak ku">cerita hot anak ku</a> (1)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaindo.com/airport.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>anak_SD_bercinta_dgn_tante girang</title>
		<link>http://www.ceritadewasaindo.com/anak_sd_bercinta_dgn_tante-girang.html</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaindo.com/anak_sd_bercinta_dgn_tante-girang.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 04:51:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video Sex]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[dgn]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[gan]]></category>
		<category><![CDATA[girang]]></category>
		<category><![CDATA[Tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaindo.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[anak_SD_bercinta_dgn_mbak-mbak.. free download gan&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>anak_SD_bercinta_dgn_mbak-mbak..<br />
<img src="http://thumbnails29.imagebam.com/18084/c6b417180832146.jpg" alt="anak sd sama tante" /><br />
free download gan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaindo.com/anak_sd_bercinta_dgn_tante-girang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>VIDEO bokep Dientot sama pacar kakak sendiri</title>
		<link>http://www.ceritadewasaindo.com/video-bokep-dientot-sama-pacar-kakak-sendiri.html</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaindo.com/video-bokep-dientot-sama-pacar-kakak-sendiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 17:02:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video Sex]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>
		<category><![CDATA[Dientot]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[gan]]></category>
		<category><![CDATA[kakak]]></category>
		<category><![CDATA[monggo]]></category>
		<category><![CDATA[pacar]]></category>
		<category><![CDATA[sama]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaindo.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[VIDEO bokep Dientot sama pacar kakak sendiri.. monggo di download gan&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>VIDEO bokep Dientot sama pacar kakak sendiri..<br />
<img src="http://t1.pixhost.org/thumbs/2882/9924106_dikentot_sama_pacar_kakak.jpg" alt="ngentot dengan pacar kakak" /><br />
monggo di download gan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaindo.com/video-bokep-dientot-sama-pacar-kakak-sendiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ema Gatal</title>
		<link>http://www.ceritadewasaindo.com/ema-gatal.html</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaindo.com/ema-gatal.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 05:09:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Lucah]]></category>
		<category><![CDATA[Abang]]></category>
		<category><![CDATA[batang]]></category>
		<category><![CDATA[bilik]]></category>
		<category><![CDATA[laa]]></category>
		<category><![CDATA[nak]]></category>
		<category><![CDATA[pulak]]></category>
		<category><![CDATA[pun]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[tak]]></category>
		<category><![CDATA[tapi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaindo.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Hi&#8230; bertemu kita di MelayuBoleh.. Aku nak ceritakan kisah benar yang baru saja aku lalui tempoh hari.. kira-kira minggu lepas, 19 Mac 2001. Waktu tu aku kat Taman Melati, main bola friendly match. Masa tu agak hujan sikit.. dan padang becak dan kotor. Dan kebetulan masa kat situ.. ada laaa dua tiga orang awek lepak <a href="http://www.ceritadewasaindo.com/ema-gatal.html"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hi&#8230; bertemu kita di MelayuBoleh.. Aku nak ceritakan kisah benar yang baru saja aku lalui tempoh hari.. kira-kira minggu lepas, 19 Mac 2001.</p>
<p>Waktu tu aku kat Taman Melati, main bola friendly match. Masa tu agak hujan sikit.. dan padang becak dan kotor. Dan kebetulan masa kat situ.. ada laaa dua tiga orang awek lepak kat bangku bawah seating berbumbung&#8230; aku tengah pakai kasut masa tu&#8230; Aku pun saja la ayat&#8230; (pada mulanya takde niat nak pasang perangkap&#8230; )</p>
<p>&#8220;Nak tengok abang main bola ker?&#8221;</p>
<p>Awek tu menjawab&#8230;</p>
<p>&#8220;Takdelaa saja turuun boring duduk kat rumah!&#8221;</p>
<p>Hmm tak kisahlaaa.. aawek tu tak la cun sangat.. ok biasa jer.. tapi seksi la jugak.. tu yang meruntun jiwa tuh&#8230; So macam biasa aku pun main la bola.. sesekali tu tayang gak skill kat depan awek tuh.. ceh wah&#8230; nak berlagak la pulak&#8230; Pedulik ahapa aku kaann&#8230;</p>
<p>Nak dipendekkan cerita.. habislah pulak game tu&#8230; Geng aku menang besar&#8230; aku la heronya.. striker beeebbbb&#8230; 4 gol berbalas 0 aku score 3 bangga giler aku, depan awek pulak tu. Aku pun dengan kotoor-kotor di baju dan badan pun pergi la kat wek tu&#8230; dengan sengih yang menyeringai aku pun menyapa kat awek tu&#8230;</p>
<p>&#8220;Tinggal kat mana?&#8221; Di pun menjawab&#8230;</p>
<p>&#8220;Kat belakang ni haa&#8230; rumah bujang jer..&#8221;</p>
<p>Dalam hati aku.. hmm rumah bujang&#8230; anak dara ler ni&#8230; baiikkk punyer&#8230; bagus gak buat sup&#8230;. sedap menjilat hehehe.. kegatalan aku mula naik&#8230; stim pulak tengok dia dalam keadaan seksi meksi&#8230; Dia tanya aku..</p>
<p>&#8220;Basah kotor ni.. tak nak cuci ker?&#8221;</p>
<p>&#8221; Nak cuci kat mana? Ada tempat cuci ke?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sini takde.. tapi kalau nak cuci kat rumah saya pun boleh&#8230;&#8221;(http://ceritalucahku.blogspot.com)</p>
<p>Terkedu aku dengar&#8230; terdiam kejap.. fikir kejap.. tapi takpe laa.. nak cuci jer bukannya buat apa2 pun&#8230; hehehe.. niat nak pasang perangkap tu takde lagi&#8230; tapi kalau dah rezeki takkan nak tolak&#8230; rugi laaaa&#8230;. Aku pun ikutlah dia balik rumah&#8230;. Masuk je dalam rumah.. fulamak.. rumah dia bersih.. cantik.. segan aku nak masuk dengan kotor2 begini. Rumah dia rumah apartment&#8230; 3 bilik 2 bilik air&#8230;</p>
<p>&#8220;Masuk je la bang&#8230; takpe&#8230; bukannya ada orang&#8230;&#8221;</p>
<p>Waktu tu dah senja dah.. gelap.. segan gak aku takde orang tapi takpe laa takkan nak balik kotor camni kan? Dia pun suakan tuala kat aku&#8230; ceh.. tuala dia tak la besar sangat.. muat-muat jer.. nak kasi aku nampak seksi jugak ker&#8230; tak kisah.. aku belasah jer&#8230; masuk bilik&#8230; terlupa nak tutup pintu&#8230;</p>
<p>Aku pun tanggal semua pakaian&#8230; bogel kejap sebelum capai tuala nak tutup bahagian yang perlu&#8230; Aku terperasan bayangan orang tengah perhatikan aku&#8230; aku nampak gak kat cermin&#8230; aku rasa si Ema ni intai aku&#8230; tapi aku rasa perasaan aku jer masa tu&#8230; Keluar saja dari bilik aku tengok dia sengih menyeringai macam clown&#8230; apehal lak? takpe laa.. aku terus masuk bilik air mandi lama-lama adalaaaa agak-agak setengah jam&#8230;</p>
<p>Keluar dari bilik air.. aku terus menghala ke bilik tadi&#8230; Sebelum masuk tengok dia kat depan ruang tamu&#8230; pakai tuala.. berkemban&#8230; Mak oi.. seksi habis.. lagi seksi.. siot betul&#8230; Tergoda aku dibuatnya&#8230; Aku rasa memang macam nak serbu dia.. nak romen dia.. tapi hati aku kata sabar&#8230; dahlaa orang bagi tunmpang bersihkan diri, pastu nak buat hal pulak&#8230;</p>
<p>&#8220;Aik.. seksinya&#8230; baru nak mandi ker.. &#8221;</p>
<p>&#8220;Taak.. baru je sudah&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku mula naik gatal..</p>
<p>&#8220;Kenapa tak salin baju.. kang abang londehkan tuala Ema kang&#8221;</p>
<p>&#8220;Elee.. kalau abang londeh towel Ema, towel abang tu tak londehkan ker?&#8221;</p>
<p>Aku dah mula stim dengar dia respon baik&#8230;</p>
<p>&#8220;Meh sini abang nak londehkan..&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau nak.. marila sini cuba&#8221;<br />
Aku pun terus pergi kat dia.. tarik towel dia&#8230; Dia pulak tarik towel aku&#8230;</p>
<p>&#8220;Kenapa abang lambat sangat respon?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ema tak tahan sangat ker?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmmm&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku pun terus kucup bibir dia, dan dia terus balas&#8230; Kami sama-sama hanyut. Body dia fulamak toksah cakap&#8230; potongan model beb&#8230; Terliur tengok&#8230; Aku teruskan ciuman mesra dan romantik aku tu. Dia peluk aku&#8230; kami geselkan kemaluan kami&#8230; dia dah stim..</p>
<p>&#8220;Ahh.. bang&#8230; &#8221;</p>
<p>Aku teruskan ciuman aku ke seluruh badan dia. Sampai ke puki dia aku jilat sikit-sikit.. bulu dia sikti jer.. tu yang sedap menjilat tu.</p>
<p>&#8220;Abaaaanngg&#8230; aaahhh&#8221; Dia dah mula mengerang&#8230;</p>
<p>Agak lama jugak aku menjilat.. sampaikan dia dah tak tahan dan terus nak kulum batang aku. Kami pun buat la posisi 69. Sedap jugak dia kulum batang aku.</p>
<p>&#8220;Aaahh&#8230; isap kuat sikit&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Baanngg.. mainkan lidah tu kuat sikti bang.. Ema tak tahan ni&#8221;</p>
<p>&#8220;Ema nak fuck tak&#8221;</p>
<p>&#8220;Lagi cepat lagi bagus bang&#8221;</p>
<p>Aku pun tukar posisi&#8230; kangkangkan kaki dia.. suakan batang aku&#8230; tak kecik tak besar.. normal asian size.. 6&#8243; kekadang 6-1/2 &#8220;.</p>
<p>&#8220;Baannggg&#8221; TUP&#8230; aku jolok masuk&#8230; senangnyaa&#8230;.</p>
<p>&#8220;Aik biasa buat ker?&#8221;</p>
<p>Dia senyum simpul..</p>
<p>&#8220;Saya ni janda bang..&#8221;</p>
<p>Aku senyum&#8230; Peduli apa aku.. barang pun masik okay&#8230; senang masuk memang la.. ketat tu ada la sikit.. sedap tu tak terkira laa&#8230;</p>
<p>&#8220;Abang&#8230; jangan pancut dalam yee..&#8221;</p>
<p>&#8220;Takpe.. jangan risau ..dengan syarat..&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Abang nak pancutkan dalam mulut Ema.. Ema kena telan semua&#8221;</p>
<p>&#8220;Orait. takde haall&#8221;</p>
<p>Akupun apalagi.. terus la mendayuung&#8230;.</p>
<p>&#8220;Aaahhh&#8230;!&#8221; Ema mengerang tak tentu hala&#8230; menjerit kuat&#8230; sampai aku pun risau dia sakit.. tapi dia ni cekap. Pegang peluk pinggang aku kuat-kuat! Tak boleh la nak lari&#8230; terpaksa la aku terus menjolok dalam-dalam. Dan aku bagaikan terasa sehingga terkena dinding faraj dia.. Sedap tak teer kira la masa tu&#8230;</p>
<p>Lama jugak kitorang main.. tukar posisi&#8230; main agak dalam masa 20 minit.. Masa tu masing2 dah nak kejang.. dah rasa nak klimaks.. Ema dah sound aku..</p>
<p>&#8220;Baanngg.. aahh&#8230; tak tahan.. laju lagi bang..&#8221;</p>
<p>Aku pun standby nak pancut..</p>
<p>&#8220;Abang nak keluar ni.. Ema standby ye&#8221; terketar-ketar suara aku cakap kat dia Ema terus nganga mulut dia luas-luas&#8230; Aku pulak dah nak terpancut sangat-sangat.</p>
<p>Aku terus tarik batang aku&#8230; masuk kat mulut dia.. goncang dengan tangan&#8230; Ema pegang pulak dengan tangan dia.. aku dan tak tahan sangat&#8230; cuuutt.. crruuttt&#8230; cruuttt&#8230;</p>
<p>&#8220;Aaahhhhhhh.. Aaarrgghhh!!!&#8221; Dengan segera dan sepenuh kederat aku memancutkan semua air mani aku ke dalam mulut dia&#8230; Bagaikan gunung berapi..</p>
<p>Aku pun terkulai layu&#8230; mulut dia masih lagi mengulum batang aku&#8230; menghisap dan menjilat.. aku kira dia ni tak puas lagi&#8230;</p>
<p>&#8220;Tak puas lagi ke Ema&#8230;?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ema puas main.. tapi tak puas minum air mani abang&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm&#8230; sikit sangat ker..&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak laaa banyak.. tapi sedap pulak rasa.. &#8221;</p>
<p>&#8220;Kita rileks kejap&#8230; nanti kita main lagi nak tak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eeee Mestilaaaa naakk.. bestnyaa abang ni.. Aabng tidur sini malam ni okay&#8221;</p>
<p>&#8220;Orait jer.. takde hal&#8230; tapi apa kata kengkawan Ema nanti&#8221;</p>
<p>&#8220;Alaa diorang tu takde hal laa.. kekadang diorang tu bawak jantan balik gak.. kejap orang tu kejap orang ni&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmm&#8230; Ema?&#8221;</p>
<p>&#8220;Alaa abang ni&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku tak kisah la dia bawak jantan lain.. peduli apa.. dia pun dah syok kat aku.. janda pun janda laaa. dapat gak aku main free.. Kebetulan pulak janda kaya&#8230; hmm sedap aku dapat makan&#8230;</p>
<p>Dia ni kuat gak sponsor aku&#8230; Kaya katakaaaan&#8230; Dia yang nak sponsor.. aku tak mintak pun&#8230; bagus gak.. kirra sugar mummy ler ni.. heheh</p>
<p>&#8220;Kalau macam tu.. malam ni sampai ke esok pagi&#8230; Abang nak main ngan Ema.. non-stop&#8230; okay tak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmm.. takan nak tolak pulak&#8230; sorry la nak cakap taknak.. hehehe&#8221; Kitorang gelak jer lepas tu.. Ema ni kuat sex rupanya..</p>
<p>&#8220;Ema&#8230; kalau setipa malam buaat nak tak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lagi Ema suka.. kalau boleh sepanjang masa atas katil dengan abang&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku pun dengna bangganya mencium dia.. dan teruskan game round yang kedua&#8230; Dalam amsa yang sama&#8230; aku beranikan diri tanya dia&#8230;</p>
<p>&#8220;Ema&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmm&#8230; takpela..&#8221;</p>
<p>&#8220;Alaaa bang ni cakap laa..&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti Ema tak suka&#8230; Ema marah..&#8221;</p>
<p>&#8220;Alaa.. janji Ema tak marah&#8230; bang cakap laaa&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kawan Ema balik nanti&#8230; ajak diorang main sekali boleh tak?&#8221;</p>
<p>Ema senyap kejap.. tunduk&#8230;</p>
<p>&#8220;Sorry la Ema.. okay tak payah la ajak diorang kita main dua saja okay..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ema tak marah laa abang&#8230; terpikir jer.. larat ker abang nak layan 3 orang sekali..&#8221;</p>
<p>Aku senyum..</p>
<p>&#8221; Alaa cuba la dulu.. kalau tak larat&#8230; kita dua dah laa..&#8221;</p>
<p>Dia senyum dan membalas&#8230;</p>
<p>&#8220;Kalau diorang tak bawak jantan lain boleh la kut.. tak tau la diorang camna..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ajak la jantan2 tu main sekali&#8230; kita party sex..&#8221;</p>
<p>Ema terus dakap aku.. dan cium aku dan terus kulum batang aku&#8230;</p>
<p>&#8220;Abaanngg&#8230; pancut dalam mulut ye bang&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Arrgghh&#8230; dah tentu&#8230;&#8221;</p>
<p>Kitorang teruskan permainan yang amat dahsyat&#8230; sampai yang paling dahsyat.. aku main bontot dia.. ketat beb&#8230; Dan paling best.. main dengan 3 orang sekaligus&#8230; dengan dua rang kawan dia lagi.. Cun tu cun la sikit.. dan seksi tu memang laa&#8230; Aku cukup bertuah kenal dengan janda sorang ni&#8230;</p>
<p>Hujung minggu ni aku akan ke rumah dia lagi.. dia ajak aku stay ngan dia&#8230; untuk dua malam sebab dia tak ke mana. Dan aku pun tak kemana&#8230; jadinya.. Kitorang akan buat seks selam dua hari tanpa henti lagi ler&#8230; Penat jugak melayan janda sorang ni.. kuat seks sangat. Lain kali kalau ada masa mengizinkan, aku akan cerita aku main ngan dia&#8230; dengan dua orang kawan dia&#8230;</p>
<p>Dan aku dalam proses mencari mana2 awek cun/ janda pun takpe yang dahagakan seks&#8230; boleh contact aku di sparoth@mymaxis.com.my</p>
<p>Tinggalkan no telefon dan aku akan telefon dengan kadar segera! Lepas ni aku nak ke The Mall cari bohsiaaaa&#8230;. Ada gak kenal sorang aawek tu.. cun&#8230; tapi susah nak dapat seks dari dia ni.. kena melobi sikit&#8230; tu yang malas tu. Tapi takpe.. barang dia mesti sedap.</p>
<p>Dan kalau ada masa, aku akan cerita ketika aku main dengan seorang pelacur dari China kat Hotel kat Jalan Pudu. Yang ini lagi best.. Minah ni graduate Universiti di China. Disebabkan susah cari kerja, datang sini nak cari kerja.. dan disebabkan susah jugak, terpaksa la melacurkan dii.. kesian dengar dia cerita.. tapi main dengan dia best gilaaaaa&#8230;. Eiva namanya.. aku rasa nama samaran dia kut.. tapi pedulik hapa aku.. RM360++ untuk semalaman.. best main ngan dia.. communication susah sikit.. dia pun reti org putih sikit2 jer.. tapi seronok tak terkata&#8230;</p>
<p>Dan dengan dia ni aku pancut kat dalam mulut dan puki dia&#8230; dah la pulak tu tak pakai kondom sebab aku taknak.. dan dia tak kisah&#8230; Isshh tak tahan pulak aku ni.. aku rasa nak cari Eiva lagi laa.. okay bye.. gambar kitorang tengah main pun ada&#8230;. hehehe nanti kalau ada masa.. lepas aku edit bahagian gambar aku tu.. boleh la aku tayangkan kat interent okay?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaindo.com/ema-gatal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikita mirzani hot bugil 2012</title>
		<link>http://www.ceritadewasaindo.com/nikita-mirzani-hot-bugil-2012.html</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaindo.com/nikita-mirzani-hot-bugil-2012.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 16:55:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video Sex]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[jablay]]></category>
		<category><![CDATA[Lagi]]></category>
		<category><![CDATA[Main]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Mirip]]></category>
		<category><![CDATA[Neh]]></category>
		<category><![CDATA[tari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaindo.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[Skandal Shireen Sungkar. Skandal mesum ariel cut tari. Jenk Thia sweet. Smp Ngesek Di Taman Santi sang jablay. Madura lautan seks. Mirip Wulan guritno Artis. Anak SMU Bikin ulah. Smu Di Perkosa Istri orang euy. Main di WC. Janda Gatel. Pulang sekolah malah ngentot. Widya sampe puaaas. Main di kampus. Malaysia abizzz. Yusniar pamer anu. <a href="http://www.ceritadewasaindo.com/nikita-mirzani-hot-bugil-2012.html"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Skandal Shireen Sungkar. Skandal mesum ariel cut tari. Jenk Thia sweet. Smp Ngesek Di Taman Santi sang jablay. Madura lautan seks. Mirip Wulan guritno Artis. Anak SMU Bikin ulah. Smu Di Perkosa Istri orang euy. Main di WC. Janda Gatel. Pulang sekolah malah ngentot. Widya sampe puaaas. Main di kampus. Malaysia abizzz. Yusniar pamer anu. Cewek bahenol abizz. Smp Ngesek Di Taman Goyangan asmara. Goa bergoyang. Guru Perkosa Murid Hebat bener neh. Ariel cut tari bokep. Smu Palembang. Horni bangeeetsss. Kenalan di chatting. Lagi orgasme. Gairah anak SMU. Ngentot Anak Smp Cewek tivi. Lagi donk. Cewek cupu. Lagi mandi. Anak bina usaha. Gairah beraksi. Anak SMK. Doggy style. Mahasiswa jogja. Main di mobil. Main rame-rame. Mandi madu. Video mesum luna maya ariel. Menjerit neh..!!. Anak pejabat. Kurang belaian. Mirip dea imutz. Budak sekolah. Main dengan pacar teman. Ngintip orang main. Pacaran dengan gadis SMP. Ngintip memek ayu ting ting dan bokep ayu ting ting. Pemerkosaan cewe di angkot.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaindo.com/nikita-mirzani-hot-bugil-2012.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya..Istri Yang Dirayu</title>
		<link>http://www.ceritadewasaindo.com/saya-istri-yang-dirayu.html</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaindo.com/saya-istri-yang-dirayu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 04:51:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kolot]]></category>
		<category><![CDATA[laki laki]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[menikmati seks]]></category>
		<category><![CDATA[nama saya]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[niko niko]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman hidup]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaindo.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Nama saya Diana. Saya sedang bingung sekali saat ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Karenanya saya akan mencoba menceritakan sedikit pengalaman hidup saya yang baru saya hadapi baru-baru ini. Saya berumur 27 tahun. Saya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak satu. Saya menikah dengan seorang pria bernama Niko. Niko adalah suami yang baik. Kami <a href="http://www.ceritadewasaindo.com/saya-istri-yang-dirayu.html"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama saya Diana. Saya sedang bingung sekali saat ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Karenanya saya akan mencoba menceritakan sedikit pengalaman hidup saya yang baru saya hadapi baru-baru ini.</p>
<p>Saya berumur 27 tahun. Saya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak satu. Saya menikah dengan seorang pria bernama Niko. Niko adalah suami yang baik. Kami hidup berkecukupan. Niko adalah seorang pengusaha yang sedang meniti karir.</p>
<p>Karena kesibukannya, dia sering pergi keluar kota. Dia kasihan kepada saya yang tinggal sendiri dirumah bersama anak saya yang berusia 2 tahun. Karenanya ia lantas mengajak adiknya yang termuda bernama Roy yang berusia 23 tahun untuk tinggal bersama kami. Roy adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah PTS. Kehidupan rumah tangga saya bahagia, hingga peristiwa terakhir yang saya alami.</p>
<p>Selama kami menikah kehidupan seks kami menurut saya normal saja. Saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan orgasme. Tahulah, saya dari keluarga yang kolot. Memang di SMA saya mendapat pelajaran seks, tetapi itu hanya sebatas teori saja. Saya tidak tahu apa yang dinamakan orgasme.</p>
<p>Saya memang menikmati seks. Saat kami melakukannya saya merasakan nikmat. Tetapi tidak berlangsung lama. Suami saya mengeluarkan spermanya hanya dalam 5 menit. Kemudian kami berbaring saja. Selama ini saya sangka itulah seks. Bahkan sampai anak kami lahir dan kini usianya sudah mencapai dua tahun. Dia seorang anak laki-laki yang lucu.</p>
<p>Di rumah kami tidak mempunyai pembantu. Karenanya saya yang membersihkan semua rumah dibantu oleh Roy. Roy adalah pria yang rajin. Secara fisik dia lebih ganteng dari suami saya. Suatu ketika saat saya membersihkan kamar Roy, tidak sengaja saya melihat buku Penthouse miliknya. Saya terkejut mengetahui bahwa Roy yang saya kira alim ternyata menyenangi membaca majalah ‘begituan’.</p>
<p>Lebih terkejut lagi ketika saya membaca isinya. Di Penthouse ada bagian bernama Penthouse Letter yang isinya adalah cerita tentang fantasi ataupun pengalaman seks seseorang. Saya seorang tamatan perguruan tinggi juga yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik.</p>
<p>Saya tidak menyangka bahwa ada yang namanya oral seks. Dimana pria me’makan’ bagian yang paling intim dari seorang wanita. Dan wanita melakukan hal yang sama pada mereka. Sejak saat itu, saya sering secara diam-diam masuk ke kamar Roy untuk mencuri-curi baca cerita yang ada pada majalah tersebut.</p>
<p>Suatu ketika saat saya sibuk membaca majalah itu, tidak saya sadari Roy datang ke kamar. Ia kemudian menyapa saya. Saya malu setengah mati. Saya salting dibuatnya. Tapi Roy tampak tenang saja. Ketika saya keluar dari kamar ia mengikuti saya.</p>
<p>Saya duduk di sofa di ruang TV. Ia mengambil minum dua gelas, kemudian duduk disamping saya. Ia memberikan satu gelas kepada saya. Saya heran, saya tidak menyadari bahwa saya sangat haus saat itu. Kemudian ia mengajak saya berbicara tentang seks. Saya malu-malu meladeninya. Tapi ia sangat pengertian. Dengan sabar ia menjelaskan bila ada yang masih belum saya ketahui.</p>
<p>Tanpa disadari ia telah membuat saya merasa aneh. Excited saya rasa. Kini tangannya menjalari seluruh tubuh saya. Saya berusaha menolak. Saya berkata bahwa saya adalah istri yang setia. Ia kemudian memberikan argumentasi bahwa seseorang baru dianggap tidak setia bila melakukan coitus. Yaitu dimana sang pria dan wanita melakukan hubungan seks dengan penis pada liang kewanitaan.</p>
<p>Ia kemudian mencium bagian kemaluan saya. Saya mendorong kepalanya. Tangannya lalu menyingkap daster saya, sementara tangan yang lain menarik lepas celana dalam saya. Ia lalu melakukan oral seks pada saya. Saya masih mencoba untuk mendorong kepalanya dengan tangan saya. Tetapi kedua tangannya memegang kedua belah tangan saya. Saya hanya bisa diam. Saya ingin meronta, tapi saya merasakan hal yang sangat lain.</p>
<p>Tidak lama saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya alami seumur hidup saya. Saya mengerang pelan. Kemudian dengan lembut menyuruhnya untuk berhenti. Ia masih belum mau melepaskan saya. Tetapi kemudian anak saya menangis, saya meronta dan memaksa ingin melihat keadaan anak saya. Barulah ia melepaskan pegangannya. Saya berlari menemui anak saya dengan beragam perasaan bercampur menjadi satu.</p>
<p>Ketika saya kembali dia hanya tersenyum. Saya tidak tahu harus bagaimana. Ingin saya menamparnya kalau mengingat bahwa sebenarnya ia memaksa saya pada awalnya. Tetapi niat itu saya urungkan. Toh ia tidak memperkosa saya. Saya lalu duduk di sofa kali ini berusaha menjaga jarak. Lama saya berdiam diri.</p>
<p>Ia yang kemudian memulai pembicaraan. Katanya bahwa saya adalah seorang wanita baru. Ya, saya memang merasakan bahwa saya seakan-akan wanita baru saat itu. Perasaan saya bahagia bila tidak mengingat suami saya. Ia katakan bahwa perasaan yang saya alami adalah orgasme. Saya baru menyadari betapa saya telah sangat kehilangan momen terindah disetiap kesempatan bersama suami saya.</p>
<p>Hari kemudian berlalu seperti biasa. Hingga suatu saat suami saya pergi keluar kota lagi dan anak saya sedang tidur. Saya akui saya mulai merasa bersalah karena sekarang saya sangat ingin peristiwa itu terulang kembali. Toh, ia tidak berbuat hal yang lain.</p>
<p>Saya duduk di sofa dan menunggu dia keluar kamar. Tapi tampaknya dia sibuk belajar di kamar. Mungkin dia akan menghadapi mid-test atau semacamnya. Saya lalu mencari akal supaya dapat berbicara dengannya. Saya kemudian memutuskan untuk mengantarkan minuman kedalam kamar.</p>
<p>Disana ia duduk di tempat tidur membaca buku kuliahnya. Saya katakan supaya dia jangan lupa istirahat sambil meletakkan minuman diatas meja belajarnya. Ketika saya permisi hendak keluar, ia berkata bahwa ia sudah selesai belajar dan memang hendak istirahat sejenak. Ia lalu mengajak saya ngobrol. Saya duduk ditempat tidur lalu mulai berbicara dengannya.</p>
<p>Tidak saya sadari mungkin karena saya lelah seharian, saya sambil berbicara lantas merebahkan diri diatas tempat tidurnya. Ia meneruskan bicaranya. Terkadang tangannya memegang tangan saya sambil bicara. Saat itu pikiran saya mulai melayang teringat kejadian beberapa hari yang lalu.</p>
<p>Melihat saya terdiam dia mulai menciumi tangan saya. Saat saya sadar, tangannya telah berada pada kedua belah paha saya, sementara kepalanya tenggelam diantara selangkangan saya. Oh, betapa nikmatnya. Kali ini saya tidak melawan sama sekali. Saya menutup mata dan menikmati momen tersebut.</p>
<p>Nafas saya semakin memburu saat saya merasakan bahwa saya mendekati klimaks. Tiba-tiba saya merasakan kepalanya terangkat. Saya membuka mata bingung atas maksud tujuannya berhenti. Mata saya terbelalak saat memandang ia sudah tidak mengenakan bajunya. Mungkin ia melepasnya diam-diam saat saya menutup mata tadi.</p>
<p>Tidak tahu apa yang harus dilakukan saya hanya menganga saja seperti orang bodoh. Saya lihat ia sudah tegang. Oh, betapa saya ingin semua berakhir nikmat seperti minggu lalu. Tangan kirinya kembali bermain diselangkangan saya sementara tubuhnya perlahan-lahan turun menutupi tubuh saya.</p>
<p>Perasaan nikmat kembali bangkit. Tangan kanannya lalu melolosi daster saya. Saya telanjang bulat kini kecuali bra saya. Tangan kirinya meremasi buah dada saya. Saya mengerang sakit. Tangan saya mendorong tangannya, saya katakan apa sih maunya. Dia hanya tersenyum.</p>
<p>Saya mendorongnya pelan dan berusaha untuk bangun. Mungkin karena intuisinya mengatakan bahwa saya tidak akan melawan lagi, ia meminggirkan badannya. Dengan cepat saya membuka kutang saya, lalu rebah kembali. Ia tersenyum setengah tertawa. Dengan sigap ia sudah berada diatas tubuh saya kembali dan mulai mengisapi puting susu saya sementara tangan kanannya kembali memberi kehidupan diantara selangkangan saya dan tangan kirinya mengusapi seluruh badan saya.</p>
<p>Selama kehidupan perkawinan saya dengan Niko, ia tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini saat kami melakukan hubungan seks. Seakan-akan seks itu adalah buka, mulai, keluar, selesai. Saya merasakan diri saya bagaikan mutiara dihadapan Roy.</p>
<p>Kemudian Roy mulai mencium bibir saya. Saya balas dengan penuh gairah. Sekujur tubuh saya terasa panas sekarang. Kemudian saya rasakan alatnya mulai mencari-cari jalan masuk. Dengan tangan kanan saya, saya bantu ia menemukannya. Ketika semua sudah pada tempatnya, ia mulai mengayuh perahu cinta kami dengan bersemangat.</p>
<p>Kedua tangannya tidak henti-hentinya mengusapi tubuh dan dada saya. Saya hanya bisa memejamkan mata saya. Aduh, nikmatnya bukan kepalang. Tangannya lalu mengalungkan kedua tangan saya pada lehernya. Saya membuka mata saya. Ia menatap mata saya dengan sejuta arti. Kali ini saya tersenyum. Ia balas tersenyum. Mungkin karena gemas melihat saya, bibirnya lantas kembali memagut.</p>
<p>Oh, saya merasakan waktunya telah tiba. Kedua tangan saya menarik tubuhnya agar lebih merapat. Dia tampaknya mengerti kondisi saya saat itu. Ini dibuktikannya dengan mempercepat laju permainan. Ahh, saya mengerang pelan. Kemudian saya mendengar nafasnya menjadi berat dan disertai erangan saya merasakan kemaluan saya dipenuhi cairan hangat.</p>
<p>Sejak saat itu, saya dan dia selalu menunggu kesempatan dimana suami saya pergi keluar kota untuk dapat mengulangi perbuatan terkutuk itu. Betapa nafsu telah mengalahkan segalanya. Setiap kali akan bercinta, saya selalu memaksanya untuk melakukan oral seks kepada saya. Tanpa itu, saya tidak dapat hidup lagi. Saya benar-benar memerlukannya.</p>
<p>Dia juga sangat pengertian. Walaupun dia sedang malas melakukan hubungan seks, dia tetap bersedia melakukan oral seks kepada saya. Saya benar-benar merasa sangat dihargai olehnya.</p>
<p>Ceritanya dulu suami saya Niko punya komputer. Kemudian oleh Roy disarankan agar berlangganan internet. Menurutnya juga dapat dipakai untuk berbisnis. Suami saya setuju saja. Pernah Roy melihat saya memandangi Niko saat dia menggunakan internet, kemudian dia tanya kepada saya, apa saya kepingin tahu.</p>
<p>Niko yang mendengar lalu menyuruh Roy untuk mengajari saya menggunakan komputer dan internet. Pertama-tama saya suka karena banyak yang menarik. Hanya tinggal tekan tombol saja. Bagus sekali. Tetapi saya mulai bosan karena saya kurang mengerti mau ngapain lagi.</p>
<p>Saat itulah Roy lalu menunjukkan ada yang namanya Newsgroup di internet. Saat pertama kali baca saya terkejut sekali. Banyak berita dan pendapat yang menarik. Tetapi waktu saya tidak terlalu banyak. Saya harus mengurus anak saya. Dia baru dua tahun. Saya sayang sekali kepadanya. Kalau sudah tersenyum dapat menghibur saya walaupun dalam keadaan sedih.</p>
<p>Saya tidak mengerti program ini. Hanya Roy ajarkan kalau mau menulis tekan tombol ini. Terus begini, terus begini, dan seterusnya. Tetapi saya tidak cerita-cerita sama dia kalau kemarin saya sudah kirim berita ke Newsgroup. Takut dia marah sama saya. Saya hanya bingung mau cerita sama siapa. Masalahnya saya benar-benar sudah terjerumus. Saya tidak tahu bagaimana harus menghentikannya.</p>
<p>Kini saya bagaikan memiliki dua suami. Saya diperlakukan dengan baik oleh keduanya. Saya tahu suami saya sangat mencintai saya. Saya juga sangat mencintai suami saya. Tetapi saya tidak bisa melupakan kenikmatan yang telah diperkenalkan oleh Roy kepada saya.</p>
<p>Suami saya tidak pernah curiga sebab Roy tidak berubah saat suami saya ada di rumah. Tetapi bila Niko sudah pergi keluar kota, dia memperlakukan saya sebagaimana istrinya. Dia bahkan pernah memaksa untuk melakukannya di kamar kami. Saya menolak dengan keras. Biar bagaimana saya akan merasa sangat bersalah bila melakukannya ditempat tidur dimana saya dan Niko menjalin hubungan yang berdasarkan cinta.</p>
<p>Saya katakan dengan tegas kepada Roy bahwa dia harus menuruti saya. Dia hanya mengangguk saja. Saya merasa aman sebab dia tunduk kepada seluruh perintah saya. Saya tidak pernah menyadari bahwa saya salah. Benar-benar salah.</p>
<p>Suatu kali saya disuruh untuk melakukan oral seks kepadanya. Saya benar benar terkejut. Saya tidak dapat membayangkan apa yang harus saya lakukan atas ‘alat’nya. Saya menolak, tetapi dia terus memaksa saya. Karena saya tetap tidak mau menuruti kemauannya, maka akhirnya ia menyerah.</p>
<p>Kejadian ini berlangsung beberapa kali, dengan akhir dia mengalah. Hingga terjadi pada suatu hari dimana saat saya menolak kembali dia mengancam untuk tidak melakukan oral seks kepada saya. Saya bisa menikmati hubungan seks kami bila dia telah melakukan oral seks kepada saya terlebih dahulu.</p>
<p>Saya tolak, karena saya pikir dia tidak serius. Saya berpikir bahwa dia masih menginginkan seks sebagaimana saya menginginkannya. Ternyata dia benar-benar melakukan ancamannya. Dia bahkan tidak mau melakukan hubungan seks lagi dengan saya. Saya bingung sekali. Saya membutuhkan cara untuk melepaskan diri dari kerumitan sehari-hari. Bagi saya, seks merupakan alat yang dapat membantu saya menghilangkan beban pikiran.</p>
<p>Selama beberapa hari saya merasa seperti dikucilkan. Dia tetap berbicara dengan baik kepada saya. Tetapi setiap kali saya berusaha mengajaknya untuk melakukan hubungan seks dia menolak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya berusaha semampu saya untuk merayunya, tetapi dia tetap menolak.</p>
<p>Saya bingung, apa saya tidak cukup menarik. Wajah saya menurut saya cukup cantik. Pada masa-masa kuliah, banyak sekali teman pria saya yang berusaha mencuri perhatian saya. Teman wanita saya bilang bibir saya sensual sekali. Saya tidak mengerti bibir sensual itu bagaimana. Yang saya tahu saya tidak ambil pusing untuk hal-hal seperti itu.</p>
<p>Saya tidak diijinkan terlalu banyak keluar rumah oleh orang tua saya kecuali untuk keperluan les ataupun kursus. Saya orangnya supel dan tidak pilih-pilih dalam berteman. Mungkin hal ini yang (menurut saya pribadi)menyebabkan banyak teman pria yang mendekati saya.</p>
<p>Sesudah melahirkan, saya tetap melanjutkan aktivitas senam saya. Dari sejak masa kuliah saya senang senam. Saya tahu saya memiliki tubuh yang menarik, tidak kalah dengan yang masih muda dan belum menikah. Kulit saya putih bersih, sebab ibu saya mengajarkan bagaimana cara merawat diri.</p>
<p>Bila saya berjalan dengan suami saya, selalu saja pria melirik kearah saya. Suami saya pernah mengatakan bahwa dia merasa sangat beruntung memiliki saya. Saya juga merasa sangat beruntung memiliki suami seperti dia. Niko orangnya jujur dan sangat bertanggung jawab. Itu yang sangat saya sukai darinya. Saya tidak hanya melihat dari fisik seseorang, tetapi lebih dari pribadinya.</p>
<p>Tetapi Roy sendiri menurut saya sangatlah ganteng. Mungkin itu pula sebabnya, banyak teman wanitanya yang datang kerumah. Katanya untuk belajar. Mereka biasa belajar di teras depan rumah kami. Roy selain ganteng juga pintar menurut saya. Tidaklah sulit baginya untuk mencari wanita cantik yang mau dengannya.</p>
<p>Saya merasa saya ditinggalkan. Roy tidak pernah mengajak saya untuk melakukan hubungan seks lagi. Dia sekarang bila tidak belajar dikamar, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman-teman wanitanya. Saya kesepian sekali dirumah. Untung masih ada anak saya yang paling kecil yang dapat menghibur.</p>
<p>Hingga suatu saat saya tidak dapat menahan diri lagi. Malam itu, saat Roy masuk ke kamarnya setelah menonton film, saya mengikutinya dari belakang. Saya katakan ada yang perlu saya bicarakan. Anak saya sudah tidur saat itu. Dia duduk di tempat tidurnya. Saya bilang saya bersedia melakukannya hanya saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat.</p>
<p>Dengan gesit dia membuka seluruh celananya dan kemudian berbaring. Dia katakan bahwa saya harus menjilati penisnya dari atas hingga bawah. Walaupun masih ragu-ragu, saya lakukan seperti yang disuruh olehnya. Penisnya mendadak ‘hidup’ begitu lidah saya menyentuhnya. Kemudian saya disuruh membasahi seluruh permukaan penisnya dengan menggunakan lidah saya.</p>
<p>Dengan bantuan tangan saya, saya jilati semua bagian dari penisnya sebagaimana seorang anak kecil menjilati es-krim. Tidak lama kemudian, saya disuruh memasukkan penisnya kedalam mulut saya. Saya melonjak kaget. Saya bilang, dia sendiri tidak memasukkan apa apa kedalam mulutnya saat melakukan oral seks kepada saya, kenapa saya harus dituntut melakukan hal yang lebih.</p>
<p>Dia berkata bahwa itu disebabkan karena memang bentuk genital dari pria dan wanita berbeda. Jadi bukan masalah apa-apa. Dia bilang bahwa memang oral seks yang dilakukan wanita terhadap pria menuntut wanita memasukkan penis pria kedalam mulutnya. Sebenarnya saya juga sudah pernah baca dari majalah-majalah Penthouse miliknya, saya hanya berusaha menghindar sebab saya merasa hal ini sangatlah tidak higienis.</p>
<p>Karena khawatir saya tidak memperoleh apa yang saya inginkan, saya menuruti kemauannya. Kemudian saya disuruh melakukan gerakan naik dan turun sebagaimana bila sedang bercinta, hanya bedanya kali ini, penisnya berada di dalam mulut saya, bukan pada liang senggama saya.</p>
<p>Selama beberapa menit saya melakukan hal itu. Saya perlahan-lahan menyadari, bahwa oral seks tidaklah menjijikkan seperti yang saya bayangkan. Dulu saya membayangkan akan mencium atau merasakan hal-hal yang tidak enak. Sebenarnya hampir tidak terasa apa-apa. Hanya cairan yang keluar dari penisnya terasa sedikit asin. Masalah bau, seperti bau yang umumnya keluar saat pria dan wanita berhubungan seks.</p>
<p>Tangannya mendorong kepala saya untuk naik turun semakin cepat. Saya dengar nafasnya semakin cepat, dan gerakan tangannya menyebabkan saya bergerak semakin cepat juga. Kemudian menggeram pelan, saya tahu bahwa dia akan klimaks, saya berusaha mengeluarkan alatnya dari mulut saya, tetapi tangannya menekan dengan keras. Saya panik. Tidak lama mulut saya merasakan adanya cairan hangat, karena takut muntah, saya telan saja dengan cepat semuanya, jadi tidak terasa apa-apa.</p>
<p>Saat dia sudah tenang, dia kemudian melepaskan tangannya dari kepala saya. Saya sebenarnya kesal karena saya merasa dipaksa. Tetapi saya diam saja. Saya takut kalau dia marah, semua usaha saya menjadi sia-sia saja. Saya bangkit dari tempat tidur untuk pergi berkumur. Dia bilang bahwa saya memang berbakat. Berbakat neneknya, kalau dia main paksa lagi saya harus hajar dia.</p>
<p>Sesudah nafasnya menjadi tenang, dia melakukan apa yang sudah sangat saya tunggu-tunggu. Dia melakukan oral seks kepada saya hampir 45 menit lebih. Aduh nikmat sekali. Saya orgasme berulang-ulang. Kemudian kami mengakhirinya dengan bercinta secara ganas.</p>
<p>Sejak saat itu, oral seks merupakan hal yang harus saya lakukan kepadanya terlebih dahulu sebelum dia melakukan apa-apa terhadap saya. Saya mulai khawatir apakah menelan sperma tidak memberi efek samping apa-apa kepada saya. Dia bilang tidak, malah menyehatkan. Karena sperma pada dasarnya protein. Saya percaya bahwa tidak ada efek samping, tetapi saya tidak percaya bagian yang ‘menyehatkan’. Hanya saya jadi tidak ambil pusing lagi.</p>
<p>Tidak lama berselang, sekali waktu dia pulang kerumah dengan membawa kado. Katanya untuk saya. Saya tanya apa isinya. Baju katanya. Saya gembira bercampur heran bahwa perhatiannya menjadi begitu besar kepada saya. Saat saya buka, saya terkejut melihat bahwa ini seperti pakaian dalam yang sering digunakan oleh wanita bila dipotret di majalah Penthouse. Saya tidak tahu apa namanya, tapi saya tidak bisa membayangkan untuk memakainya.</p>
<p>Dia tertawa melihat saya kebingungan. Saya tanyakan langsung kepadanya sebenarnya apa sih maunya. Dia bilang bahwa saya akan terlihat sangat cantik dengan itu. Saya bilang “No way”. Saya tidak mau dilihat siapapun menggunakan itu. Dia bilang bahwa itu sekarang menjadi ’seragam’ saya setiap saya akan bercinta dengannya.</p>
<p>Karena saya pikir toh hanya dia yang melihat, saya mengalah. Memang benar, saat saya memakainya, saya terlihat sangat seksi. Saya bahkan juga merasa sangat seksi. Saya menggunakannya di dalam, dimana ada stockingnya, sehingga saya menggunakan pakaian jeans di luar selama saya melakukan aktivitas dirumah seperti biasa. Efeknya sungguh di luar dugaan saya. Saya menjadi, apa itu istilahnya, horny sekali.</p>
<p>Saya sudah tidak tahan menunggu waktunya tiba. Dirinya juga demikian tampaknya. Malam itu saat saya melucuti pakaian saya satu persatu, dia memandangi seluruh tubuh saya dengan sorot mata yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kami bercinta bagaikan tidak ada lagi hari esok.</p>
<p>Sejak saat itu, saya lebih sering lagi dibelikan pakaian dalam yang seksi olehnya. Saya tidak tahu dia mendapatkan uang darimana, yang saya tahu semua pakaian ini bukanlah barang yang murah. Lama-kelamaan saya mulai khawatir untuk menyimpan pakaian ini dilemari kami berdua (saya dan Niko) sebab jumlahnya sudah termasuk banyak. Karenanya, pakaian ini saya taruh di dalam lemari Roy.</p>
<p>Dia tidak keberatan selama saya bukan membuangnya. Katanya, dengan pakaian itu kecantikan saya bagai bidadari turun dari langit. Pakaian itu ada yang berwarna hitam, putih maupun merah muda. Tetapi yang paling digemari olehnya adalah yang berwarna hitam. Katanya sangat kontras warnanya dengan warna kulit saya sehingga lebih membangkitkan selera.</p>
<p>Saya mulai menikmati hal-hal yang diajarkan oleh Roy kepada saya. Saya merasakan semua bagaikan pelajaran seks yang sangat berharga. Ingin saya menunjukkan apa yang telah saya ketahui kepada suami saya. Sebab pada dasarnya, dialah pria yang saya cintai. Tetapi saya takut bila dia beranggapan lain dan kemudian mencium perbuatan saya dan Roy.</p>
<p>Saya tidak ingin rumah tangga kami hancur. Tetapi sebaliknya, saya sudah tidak dapat lagi meninggalkan tingkat pengetahuan seks yang sudah saya capai sekarang ini.</p>
<p>Suatu ketika, Roy pulang dengan membawa teman prianya. Temannya ini tidak seganteng dirinya, tetapi sangat macho. Pada mukanya masih tersisa bulu-bulu bekas cukuran sehingga wajahnya sedikit terlihat keras dan urakan. Roy memperkenalkan temannya kepada saya yang ternyata bernama Bari.</p>
<p>Kami ngobrol panjang lebar. Bari sangat luas pengetahuannya. Saya diajak bicara tentang politik hingga musik. Menurut penuturannya Bari memiliki band yang sering main dipub. Ini dilakukannya sebagai hobby serta untuk menambah uang saku. Saya mulai menganggap Bari sebagai teman.</p>
<p>Bari semakin sering datang kerumah. Anehnya, kedatangan Bari selalu bertepatan dengan saat dimana Niko sedang tidak ada dirumah. Suatu ketika saya menemukan mereka duduk diruang tamu sambil meminum minuman yang tampaknya adalah minuman keras. Saya menghampiri mereka hendak menghardik agar menjaga kelakuannya.</p>
<p>Ketika saya dekati ternyata mereka hanya minum anggur. Mereka lantas menawarkan saya untuk mencicipinya. Sebenarnya saya menolak. Tetapi mereka memaksa karena anggur ini lain dari yang lain. Akhirnya saya coba walaupun sedikit. Benar, saya hanya minum sedikit. Tetapi tidak lama saya mulai merasa mengantuk. Selain rasa kantuk, saya merasa sangat seksi.</p>
<p>Karena saya mulai tidak kuat untuk membuka mata, Roy lantas menyarankan agar saya pergi tidur saja. Saya menurut. Roy lalu menggendong saya ke kamar tidur. Saya heran kenapa saya tidak merasa malu digendong oleh Roy dihadapan Bari. Padahal Bari sudah tahu bahwa saya sudah bersuami. Saya tampaknya tidak dapat berpikir dengan benar lagi.</p>
<p>Kata Roy, kamar saya terlalu jauh, padahal saya berat, jadi dia membawa saya ke kamarnya. Saya menolak, tetapi dia tetap membawa saya ke kamarnya. Saya ingin melawan tetapi badan rasanya lemas semua. Sesampainya dikamar, Roy mulai melucuti pakaian saya satu persatu. Saya mencoba menahan, karena saya tidak mengerti apa tujuannya. Karena saya tidak dalam kondisi sadar sepenuhnya, perlawanan saya tidak membawa hasil apa apa.</p>
<p>Kini saya berada diatas tempat tidur dengan keadaan telanjang. Roy mulai membuka pakaiannya. Saya mulai merasa bergairah. Begitu dirinya telanjang, lidahnya mulai bermain-main didaerah selangkangan saya. Saya memang tidak dapat bertahan lama bila dia melakukan oral seks terhadap saya. Saya keluar hanya dalam beberapa saat. Tetapi lidahnya tidak kunjung berhenti. Tangannya mengusapi payudara saya. Kemudian mulutnya beranjak menikmati payudara saya.</p>
<p>Kini kami melakukannya dalam ‘missionary position’. Begitulah istilahnya kalau saya tidak salah ingat pernah tertulis dimajalah-majalah itu. Ah, nikmat sekali. Saya hampir keluar kembali. Tetapi ia malah menghentikan permainan. Sebelum saya sempat mengeluarkan sepatah katapun, tubuh saya sudah dibalik olehnya. Tubuh saya diangkat sedemikian rupa sehingga kini saya bertumpu pada keempat kaki dan tangan dalam posisi seakan hendak merangkak.</p>
<p>Sebenarnya saya ingin tiduran saja, saya merasa tidak kuat untuk menopang seluruh badan saya. Tetapi setiap kali saya hendak merebahkan diri, ia selalu mengangkat tubuh saya. Akhirnya walaupun dengan susah payah, saya berusaha mengikuti kemauannya untuk tetap bangkit. Kemudian dia memasukkan penisnya ke dalam liang kewanitaan saya. Tangannya memegang erat pinggang saya, lalu kemudian mulai menggoyangkan pinggangnya. Mm, permainan dimulai kembali rupanya.</p>
<p>Kembali kenikmatan membuai diri saya. Tanpa saya sadari, kali ini, setiap kali dia menekan tubuhnya kedepan, saya mendorong tubuh saya kebelakang. Penisnya terasa menghunjam-hunjam kedalam tubuh saya tanpa ampun yang mana semakin menyebabkan saya lupa diri.</p>
<p>Saya keluar untuk pertama kalinya, dan rasanya tidak terkira. Tetapi saya tidak memiliki maksud sedikitpun untuk menghentikan permainan. Saya masih ingin menggali kenikmatan demi kenikmatan yang dapat diberikan olehnya kepada saya. Roy juga mengerti akan hal itu. Dia mengatur irama permainan agar bisa berlangsung lama tampaknya.</p>
<p>Sesekali tubuhnya dibungkukkannya kedepan sehingga tangannya dapat meraih payudara saya dari belakang. Salah satu tangannya melingkar pada perut saya, sementara tangan yang lain meremasi payudara saya. Saat saya menoleh kebelakang, bibirnya sudah siap menunggu. Tanpa basa-basi bibir saya dilumat oleh dirinya.</p>
<p>Saya hampir mencapai orgasme saya yang kedua saat dia menghentikan permainan. Saya bilang ada apa, tetapi dia langsung menuju ke kamar mandi. Saya merasa sedikit kecewa lalu merebahkan diri saya ditempat tidur. Jari tangan saya saya selipkan dibawah tubuh saya dan melakukan tugasnya dengan baik diantara selangkangan saya. Saya tidak ingin’mesin’ saya keburu dingin karena kelamaan menunggu Roy.</p>
<p>Tiba-tiba tubuh saya diangkat kembali. Tangannya dengan kasar menepis tangan saya. Iapun dengan langsung menghunjamkan penisnya kedalam tubuh saya. Ah, kenapa jadi kasar begini. Belum sempat saya menoleh kebelakang, ia sudah menarik rambut saya sehingga tubuh saya terangkat kebelakang sehingga kini saya berdiri pada lutut saya diatas tempat tidur.</p>
<p>Rambut saya dijambak kebelakang sementara pundaknya menahan punggung saya sehingga kepala saya menengadah keatas. Kepalanya disorongkan kedepan untuk mulai menikmati payudara saya. Dari mulut saya keluar erangan pelan memintanya untuk melepaskan rambut saya. Tampaknya saya tidak dapat melakukan apa-apa walaupun saya memaksa. Malahan saya mulai merasa sangat seksi dengan posisi seperti ini.</p>
<p>Semua ini dilakukannya tanpa berhenti menghunjamkan dirinya kedalam tubuh saya. Saya merasakan bahwa penisnya lebih besar sekarang. Apakah ia meminum semacam obat saat dikamar mandi? Ah, saya tidak peduli, sebab saya merasakan kenikmatan yang teramat sangat.</p>
<p>Yang membuat saya terkejut ketika tiba-tiba dua buah tangan memegangi tangan saya dari depan. Apa apaan ini? Saya mulai mencoba meronta dengan sisa tenaga yang ada pada tubuh saya. Kemudian tangan yang menjambak saya melepaskan pegangannya. Kini saya dapat melihat bahwa Roy berdiri diatas kedua lututnya diatas tempat tidur dihadapan saya.</p>
<p>Jadi, yang saat ini menikmati saya adalah… Saya menoleh kebelakang. Bari! Bari tanpa membuang kesempatan melumat bibir saya. Saya membuang muka, saya marah sekali, saya merasa dibodohi. Saya melawan dengan sungguh-sungguh kali ini. Saya mencoba bangun dari tempat tidur. Tetapi<br />
Bari menahan saya. Tangannya mencengkeram pinggang saya dan menahan saya untuk berdiri. Sementara itu Roy memegangi kedua belah tangan saya. Saya sudah ingin menangis saja.</p>
<p>Saya merasa diperalat. Ya, saya hanya menjadi alat bagi mereka untuk memuaskan nafsu saja. Sekilas teringat dibenak saya wajah suami dan anak saya. Tetapi kini semua sudah terlambat. Saya sudah semakin terjerumus.</p>
<p>Roy bergerak mendekat hingga tubuhnya menekan saya dari depan sementara Bari menekan saya dari belakang. Dia mulai melumat bibir saya. Saya tidak membalas ciumannya. Tetapi ini tidak membuatnya berhenti menikmati bibir saya. Lidahnya memaksa masuk kedalam mulut saya. Tangan saya dilingkarkannya pada pinggangnya, sementara Bari memeluk kami bertiga.</p>
<p>Saya mulai merasakan sesak napas terhimpit tubuh mereka. Tampaknya ini yang diinginkan mereka, saya bagaikan seekor pelanduk di antara dua gajah. Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar disekujur tubuh saya. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkan saya melambung di luar batas imajinasi saya sebelumnya. Saya keluar dengan deras dan tanpa henti. Orgasme saya datang dengan beruntun.</p>
<p>Tetapi Roy tidak puas dengan posisi ini. Tidak lama saya kembali pada ‘dog style position’. Roy menyorongkan penisnya kebibir saya. Saya tidak mau membuka mulut. Tetapi Bari menarik rambut saya dari belakang dengan keras. Mulut saya terbuka mengaduh. Roy memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksa saya mengulum penisnya.</p>
<p>Kemudian mereka mulai menyerang tubuh saya dari dua arah. Dorongan dari arah yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada diarah lainnya semakin menghunjam. Saya hampir tersedak. Roy yang tampaknya mengerti kesulitan saya mengalah dan hanya diam saja. Bari yang mengatur segala gerakan.</p>
<p>Tidak lama kemudian mereka keluar. Sesudah itu mereka berganti tempat. Permainan dilanjutkan. Saya sendiri sudah tidak dapat menghitung berapa banyak mengalami orgasme. Ketika mereka berhenti, saya merasa sangat lelah. Walupun dengan terhuyung-huyung, saya bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaian saya seadanya dan pergi ke kamar saya.</p>
<p>Di kamar saya masuk ke dalam kamar mandi saya. Di sana saya mandi air panas sambil mengangis. Saya tidak tahu saya sudah terjerumus kedalam apa kini. Yang membuat saya benci kepada diri saya, walaupun saya merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun setiap saya teringat kejadian itu, saya merasa basah pada selangkangan saya.</p>
<p>Malam itu, saat saya menyiapkan makan malam, Roy tidak berbicara sepatah katapun. Bari sudah pulang. Saya juga tidak mau membicarakannya. Kami makan sambil berdiam diri.</p>
<p>Sejak saat itu, Bari tidak pernah datang lagi. Saya sebenarnya malas bicara kepada Roy. Saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya tidak suka dengan caranya menjebak saya. Tetapi bila ada suami saya saya memaksakan diri bertindak biasa. Saya takut suami saya curiga dan bertanya ada apa antara saya dan Roy.</p>
<p>Hingga pada suatu kesempatan, Roy berbicara bahwa dia minta maaf dan sangat menyesali perbuatannya. Dikatakannya bahwa ‘threesome’ adalah salah satu imajinasinya selama ini. Saya mengatakan kenapa dia tidak melakukannya dengan pelacur. Kenapa harus menjebak saya. Dia bilang bahwa dia ingin melakukannya dengan ’someone special’.</p>
<p>Saya tidak tahu harus ngomong apa. Hampir dua bulan saya melakukan mogok seks. Saya tidak peduli kepadanya. Saya membalas perbuatannya seperti saat saya pertama kali dipaksa untuk melakukan oral seks kepadanya.</p>
<p>Selama dua bulan, ada saja yang diperbuatnya untuk menyenangkan saya. Hingga suatu waktu dia membawa makanan untuk makan malam. Saya tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Hanya pada saat saya keluar, diatas meja sudah ada lilin. Saat saya duduk, dia mematikan sebahagian lampu sehingga ruangan menjadi setengah gelap.</p>
<p>Itu adalah ‘candle light dinner’ saya yang pertama seumur hidup. Suami saya tidak pernah cukup romantis untuk melakukan ini dengan saya. Malam itu dia kembali minta maaf dan benar-benar mengajak saya berbicara dengan sungguh-sungguh. Saya tidak tahu harus bagaimana.</p>
<p>Saya merasa saya tidak akan pernah memaafkannya atas penipuannya kepada saya. Hanya saja malam itu begitu indah sehingga saya pasrah ketika dia mengangkat saya ke kamar tidurnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaindo.com/saya-istri-yang-dirayu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembantu Jadi Pejantan</title>
		<link>http://www.ceritadewasaindo.com/pembantu-jadi-pejantan.html</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaindo.com/pembantu-jadi-pejantan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 17:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[balas dendam]]></category>
		<category><![CDATA[belum]]></category>
		<category><![CDATA[daun muda]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[hanya]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[lalu kala]]></category>
		<category><![CDATA[langsung]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[minah]]></category>
		<category><![CDATA[nakal]]></category>
		<category><![CDATA[nya]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[rayu]]></category>
		<category><![CDATA[sama]]></category>
		<category><![CDATA[Sambil]]></category>
		<category><![CDATA[Udah]]></category>
		<category><![CDATA[vitalitas]]></category>
		<category><![CDATA[yah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaindo.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[TERSINGGUNG KATA Rumah yang mewah, uang yang berlebihan dan fasilitas hidup yang lebih dari cukup ternyata bukan kunci kebahagiaan untuk seorang wanita. Apalagi untuk seorang wanita yang muda, cantik dan penuh vitalitas hidup seperti Sari. Sudah satu bulan ini ia ditinggal suaminya bertugas ke luar kota. Padahal mereka belum lagi enam bulan menikah. Pasti semakin <a href="http://www.ceritadewasaindo.com/pembantu-jadi-pejantan.html"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TERSINGGUNG KATA </strong></p>
<p>Rumah yang mewah, uang yang berlebihan dan fasilitas hidup yang lebih dari cukup ternyata bukan kunci kebahagiaan untuk seorang wanita. Apalagi untuk seorang wanita yang muda, cantik dan penuh vitalitas hidup seperti Sari. Sudah satu bulan ini ia ditinggal suaminya bertugas ke luar kota. Padahal mereka belum lagi enam bulan menikah. Pasti semakin mengesalkan juga, untuk Sari, kalau tugas dinas luar kota diperpanjang di luar rencana. Seperti malam itu, ketika Baskoro, suami Sari, menelepon untuk menjelaskan bahwa ia tidak jadi pulang besok karena tugasnya diperpanjang 2 &#8211; 3 minggu lagi. Sari keras mem-protes, tapi menurut suaminya mau tidak mau ia harus menjalankan tugas. Waktu Sari merayunya, supaya bisa datang untuk ‘week-end’ saja, Baskoro menolak. Katanya terlalu repot jauh-jauh datang hanya untuk sekedar ‘indehoy.’ Dengan hati panas Sari bertanya: “Lho mas, apa kamu nggak punya kebutuhan sebagai laki-laki?” Mungkin karena suasana pembicaraan dari tadi sudah agak tegang seenaknya Baskoro menjawab, … “Yah namanya laki-laki, di mana aja kan bisa dapet.”</p>
<p>Dalam keadaan marah, tersinggung, bercampur gemas karena birahi, Sari membanting gagang telepon. Ia merasa sesuatu yang ‘nakal’ harus ia lakukan sebagai balas dendam kepada pasangan hidup yang sudah demikian melecehkannya. Kembali ia teringat kepada pembicaraannya dengan Minah beberapa hari yang lalu, kala ia tanyakan bagaimana pembantu wanitanya itu menyalurkan hasrat sex-nya.</p>
<p>Waktu itu ia bercanda mengganggu janda muda yang sedang mencuci piring di dapur itu. “Minah, kamu rayu aja si Iman. Kan lumayan dapet daun muda.” Minah tersenyum malu-malu. Katanya, “Ah ibu bisa aja … Tapi mana dia mau lagi.” Lalu sambil menengok ke kanan ke kiri, seolah-lah takut kalau ada yang mendengar Minah mengatakan sesuatu yang membuat darah sari agak berdesir. “Bu, si Iman itu orangnya lumayan lho. Apalagi kalau ngeliat dia telanjang nggak pakai baju.” Pura-pura kaget Sari bertanya dengan nada heran: “Kok kamu tau sih?” Tersipu-sipu Minah menjelaskan. “Waktu itu malam-malam Minah pernah ke kamarnya mau pinjem balsem. Diketuk-ketuk kok pintunya nggak dibuka. Pas Minah buka dia udah nyenyak tidur. Baru Minah tau kalau tidur itu dia nggak pakai apa-apa.” Tersenyum Sari menanyakan lebih lanjut. “Jadi kamu liat punyaannya segala dong?” Kata Minah bersemangat, “Iya bu, aduh duh besarnya. Jadi kangen mantan suami. Biarpun punyanya nggak sebesar itu.” Setengah kurang percaya Sari bertanya, “Iman? Si Iman anak kecil itu?” “Iya bu!” Minah menegaskan. “Iya Iman si Pariman itu. Kan nggak ada yang lainnya tho bu.” Lalu dengan nada bercanda Sari bertanya mengganggu,”Terus si Iman kamu tomplok ya?” Sambil melengos pergi Minah menjawab, “Ya nggak dong bu, ” kata Minah sambil buru-buru pergi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PIKIRAN NAKAL </strong></p>
<p>Dalam keadaan hati yang panas dan tersinggung jalan pikiran Sari menjadi lain. Ia yang biasanya tidak terlalu memperdulikan Iman, sekarang sering memperhatikan pemuda itu dengan lebih cermat. Beberapa kali sampai anak muda itu merasa agak rikuh. Dari apa yang dilihatnya, ditambah cerita Minah beberapa hari yang lalu, Sari mulai merasa tertarik. Membayangkan ‘barang kepunyaan’ Iman, yang kata Minah “aduh duh” itu membuat Sari merasa sesuatu yang aneh. Mungkin sebagai kompensasi atau karena gengsi sikapnya menjadi agak dingin dan kaku terhadap Iman. Iman sendiri sampai merasa kurang enak dan bertanya-tanya apa gerangan salahnya.</p>
<p>Pada suatu hari, setelah sekian minggu tidak menerima ‘nafkah batin’nya, perasaan Sari menjadi semakin tak tertahankan. Malam yang semakin larut tidak berhasil membuatnya tertidur. Ia merasa membutuhkan sesuatu. Akhirnya Sari berdiri, diambilnya sebuah majalah bergambar dari dalam lemari dan pergilah ia ke kamar Iman di loteng bagian belakang rumah. Pelan-pelan diketuknya pintu kamar Iman. Setelah diulangnya berkali-kali baru terdengar ada yang bangun dari tempat tidur dan membuka pintu. Wajah Iman tampak kaget melihat Sari telah berdiri di depannya. Apalagi ketika wanita berkulit putih yang cantik itu langsung memasuki ruangannya. Agak kebingungan Iman melilitkan selimut tipisnya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Melihat tubuh Iman yang tidak berbaju itu Sari menelan air liurnya. Lalu dengan nada agak ketus ia berkata, “Sana kamu mandi, jangan lupa gosok gigi.” Iman menatap kebingungan, “Sekarang bu?” Dengan nada kesal Sari menegaskan, ‘Ia sekarang ,,, udah gitu aja nggak usah pake baju segala.” Tergopoh-gopoh Iman menuju ke kamar mandi, memenuhi permintaan Sari. Sementara Iman di kamar mandi Sari duduk di kursi, sambil me!ihat-lihat sekitar kamar Iman. Pikirnya dalam hati, “Bersih, rapih juga ini anak.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MENCOBA JANTAN </strong></p>
<p>Kira-kira sepuluh atau lima belas menit berselang Iman telah selesai. “Maaf bu …,” katanya sambil memasuki ruangan. Ia hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.”Saya pake baju dulu bu,” katanya sambil melangkah menuju lemari pakaiannya. Dengan nada ketus Sari berkata,”Nggak usah. Kamu duduk aja di tempat tidur … Bukan, bukan duduk gitu, berbaring aja.” Lalu sambil melempar majalah yang dibawanya ia menyuruh Iman membacanya. Sambil melangkah keluar Sari sempat berkata “Sebentar lagi saya kembali.” Dengan kikuk dan kuatir Iman mulai membalik halaman demi halaman majalah porno di tangannya. Tapi ia tidak berani bertanya kepada Sari, apa sebenarnya yang wanita itu inginkan.</p>
<p>Setelah saat-saat yang menegangkan itu berlangsung beberapa lama, Iman mulai terangsang juga melihat berbagai adegan senggama di majalah yang berada di tangannya itu. Ia merasa ‘alat kejantanannya mengeras. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Sari melangkah masuk. Iman berusaha bangkit, tapi sambil duduk di tepi pembaringan Sari mendorong tubuhnya sampai tergeletak kembali. Tatapan matanya dingin, sama sekali tidak ada senyuman di bibirnya. Tapi tetap saja ia terlihat cantik. “Iman dengar kata-kata saya ya. Kamu saya minta melakukan sesuatu, tapi jangan sampai kamu cerita ke siapa-siapa. Mengerti?” Iman hanya dapat mengangguk, walaupun ia masih merasa bingung. Hampir ia menjerit ketika Sari menyingkap handuknya terbuka. Apalagi ketika tangannya yang halus itu memegang ‘barang kepunyaan’nya yang tadi sudah tegang keras. “Hm ….. Besar juga ya punya kamu,” demikian Sari menggumam. Diteruskannya mengocok-ngocok ‘daging kemaluan’ Iman, dengan mata terpejam. Pelan-pelan ketegangan Iman mulai sirna, dinikmatinya sensasi pengalamannya ini dengan rasa pasrah.</p>
<p>Tiba-tiba Sari berdiri dan langsung meloloskan daster yang dikenakannya ke atas. Bagai patung pualam putih tubuhnya terlihat di mata Iman. Walaupun lampu di kamar itu tidak begitu terang, Iman dapat menyaksikan keindahan tubuh Sari dengan jelas. Tertegun ia memandangi Sari, sampai beberapa kali meneguk air liurnya. Tidak lama kemudian Sari naik ke tempat tidur, diambilnya posisi mengangkangi Iman. Masih dengan nada ‘judes’ ia berkata … “Yang akan saya lakukan ini bukan karena kamu, tapi karena saya mau balas dendam. Jadi jangan kamu berpikiran macam-macam ya.” Lalu digenggamnya lagi ‘tonggak kejantanan” Iman dan diusap-usapkannya ‘bonggol kepala’nya ke bibir kemaluan’nya sendiri. Terus menerus dilakukannya hal ini sampai ‘vagina’nya mulai basah. Lalu ditatapnya Iman dengan pandangan yang tajam. Katanya dengan suara ketus, … “Jangan kamu berani-berani sentuh tubuh saya.” Setelah itu, … “Juga jangan sampe kamu keluar di ‘punyaan’ saya. Awas ya.” Lalu di-pas-kannya ‘ujung kemaluan’ Iman di ‘bibir liang kewanitaan’nya dan ditekannya tubuhnya ke bawah. Pelan-pelan tapi pasti ‘barang kepunyaan’ Iman menusuk masuk ke ‘lubang kenikmatan’ Sari. ‘Aduh … Ah … Man, besar amat sih” demikian Sari sempat merintih. Setelah ‘kemaluan’ Iman benar-benar masuk Sari mulai menggoyang pinggulnya. Suaranya sesekali mendesah keenakan. Tidak lama kemudian dicapainya ‘orgasme’nya yang pertama. Hampir seperti orang kesakitan suara Sari mengerang-erang panjang. “Aah … Aargh … Aah, aduh enaknya … ” Seperti orang lupa diri Sari mengungkapkan rasa puasnya dengan polos. Tapi ketika Sari sadar bahwa kedua tangan Iman sedang mengusapi pahanya yang putih mulus, ditepisnya dengan kasar. “Tadi saya bilang apa …!” Iman ketakutan, … “Maaf bu.” Lalu perintah Sari lagi, … “Angkat tangannya ke atas.” Iman menurutinya, katanya … “Baik bu.” Begitu melihat bidang dada dan buluketiak Iman Sari kembali terangsang. Sekali lagi ia menggoyang pinggulnya dengan bersemangat, sampai ia mencapai ‘orgasme’nya yang kedua. Setelah itu masih sekali lagi dicapainya puncak kenikmatan, walaupun tidak sehebat sebelumnya. Iman sendiri sebetulnya juga beberapa kali hampir keluar, tapi karena tadi sudah di’wanti-wanti,’ maka ditahannya dengan sekuat tenaga. Rupanya Sari sudah merasa puas, karena dicabutnya ‘alat kejantanan’ Iman yang masih keras itu. Dikenakannya kembali dasternya. Sekarang wajahnya terlihat jauh lebih lembut. Sebelum meninggalkan kamar Iman sempat ia menunjukkan apresiasi-nya. “Kamu hebat Man …” lalu sambungnya “Lusa malam aku kemari lagi ya.” Setelah itu masih sempat ia berpesan, …. “O iya, kamu terusin aja sekarang sama Minah … Dia mau kok.” Iman hanya mengangguk, tanpa mengucapkan apa-apa.</p>
<p>Sampai lama Iman belum dapat tertidur lelap, membayangkan kembali pengalaman yang baru saja berlalu. Kehilangan ke’perjaka’an tidak membuat Iman merasa sedih. Malah ada rasa bangga bahwa seorang wanita cantik dari kalangan berpunya seperti Sari telah memilih dirinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PEJANTAN GAGAH </strong></p>
<p>Sesuai pesannya dua malam kemudian Sari datang lagi ke kamar Iman. Kali ini pemuda itu sudah betul-betul menyiapkan dirinya. Jadi Sari tinggal menaiki tubuhnya dan menikmati ‘alat kejantanan’nya yang keras itu. Walaupun suaranya masih ketus meminta Iman untuk sama-sekali tidak menyentuh tubuhnya, kali ini Sari sampai meremas-remas dada dan pinggul Iman ketika mencapai ‘orgasme’nya. Bahkan tidak lupa wanita cantik itu sempat memuji pemuda yang beruntung itu. Katanya, … “Man, Pariman, kamu hebat sekali. Selama kawin aku belum pernah sepuas sekarang ini. Terma kasih ya.” Iman hanya menjawab terbata-bata, … “Saya … Saya … seneng … Hm … Bisa nyenengin bu Sari.” Sambil membuka pintu kamar Sari berpesan. Katanya, …. “Iya Man, tapi jangan bosen ya.” Lalu tambahnya lagi, … “Udah, sekarang kamu terusin sama Minah sana. Aku mau tidur dulu ya.”</p>
<p>Dua malam kemudian kembali Sari menyambangi kamar Iman. Kebetulan tanpa penjelasan apapun siangnya ia sempat meminta pemuda itu untuk mengganti seprei ranjang dan sarung bantalnya. “Man … Kamu capek nggak? Sari bertanya dengan lembut. Rupanya berkali-kali dipuaskan pemuda itu membuatnya sikapnya lebih ramah. Iman tersenyum, … “Nggak kok bu. Saya siap dan seneng aja melayani ibu.” Tanpa malu-malu langsung Sari melepaskan daster-nya. Setelah itu dilorotnya kain sarung Iman. Dengan takjub ia memandangi kepunyaan lelaki itu. Tanpa sadar sempat ia memuji, … “Aduh Man, udah besar amat sih kepunyaanmu.” Lalu sambil mengocok-ngocoknya Sari sempat berkata, … “Hm Man, keras lagi.” Lalu sambil membaringkan tubuhnya ia meminta, … “Kamu dari atas ya Man. Aku mau coba di bawah.” Langsung Iman memposisikan ‘kemaluan’nya di antara celah paha Sari. Lelaki muda itu betul-betul terangsang melihat kemolekan nyonya muda yang sedang marah kepada suaminya itu. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa ia boleh mencicipi tubuh yang seputih dan semulus ini. Apalagi Sari sekarang tidak lagi judes dan ketus seperti pada malam-malam sebelumnya, sehingga semakin tampak saja kecantikannya. Sempat terpikir oleh pemuda itu mungkin judes dan ketusnya dulu itu hanya untuk mengatasi rasa malu dan gengsinya saja. “Man …” Sari memanggilnya lembut, setengah berbisik. “Iya bu …” “Kamu gesek-gesek punyaanmu ke punyaanku dulu ya. Terus masukinnya nanti pelan-pelan.” Diikutinya permintaan Sari, digesek-geseknya ‘bibir kemaluan’ Sari dengan ‘ujung kejantanannya.’ Sari mendesah kegelian, hingga membuat Iman lupa diri. Tangannya mulai mengusap-usap paha dan perut Sari. Tapi wanita cantik itu menepis tangannya. “Jangan sentuh tubuhku, jangan ….” serunya tegas. Iman segera berhenti, ditariknya tangannya. Tidak berapa lama kemudian terdengar Sari meminta. “Man, masukin pelan-pelan Man. Tapi ingat … Jangan sampai keluar di dalam ya.” Pelan-pelan Iman mendorong ‘batang keras’nya memasuki ‘liang kenikmatan’ Sari. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit, ‘tombak kejantanan’nya menerobos masuk. Sari terus mendesah keenakan. “Maaf bu, saya mohon ijin memegang paha ibu, supaya punya ibu lebih kebuka.” Akhirnya Iman memberanikan diri meminta. Dengan terpaksa Sari mengijinkan, … “Iya deh. Tapi bagian bawahnya aja ya.” Begitu diberi ijin Iman langsung melakukannya. Walaupun tubuhnya tegak, karena kuatir menetesi tubuh Sari dengan keringatnya, ia dapat menghunjamkan ‘barang kepunyaan’nya masuk lebih jauh. “Ah Man, enak sekali.” Sari berseru keenakan. Langsung Iman menggoyangkan pinggulnya, ke kanan dan ke kiri, mundur dan maju. Sari terus mendesah keenakan, semakin lama semakin keras. Pada puncaknya ia menjerit lembut dan mengerang panjang. “Aduh Man, aku udah. Aduh enak sekali. Aaah, Maaan …. Aaah!”</p>
<p>Sementara beristirahat Iman menarik keluar ‘batang kemaluan’nya dan melapnya dengan handuk. Dengan tatapan penuh hasrat Sari memandangi ‘kemaluan’ Iman yang tetap kaku dan keras. Pada ‘ronde’ berikutnya Iman yang bertindak mengambil inisiatif. “Maaf bu …” katanya sambil kedua tangannya mendorong paha mulus Sari hingga terbuka lebar. Sari hanya mengangguk lemah, sikapnya pasrah. Rupanya rasa gengsi atau angkuhnya sudah mulai sirna di hadapan pemuda pejantannya. Ditatapnya wajah Iman dengan seksama. Sekarang baru ia sadar bahwa Iman bukan hanya jantan, tapi juga lumayan ganteng. Begitu berhasil menembus ‘liang kemaluan’ Sari, yang merah merangsang itu, Iman mulai beraksi. Sekali lagi goyangannya berakhir dengan kepuasan Sari. … setelah itu sekali lagi …</p>
<p>Sari tergolek lemah. Dibiarkannya Iman memandangi tubuhnya yang terbaring tanpa busana. Mungkin karena itulah ‘alat kejantanan’ Iman, yang memang belum ber-’ejakulasi,’ tetap berada dalam keadaan tegang. “Man … ” suara Sari terdengar memecah keheningan. “Kamu kok hebat sekali sih? Udah sering ya?” Iman menggelengkan kepalanya. “Belum pernah bu. Baru sekali ini saya melakukan. Sama ibu ini aja.” Dengan heran Sari menatapnya, lalu tersenyum karena teringat sesuatu. Tanyanya langsung, … “Tapi udah dikeluarin sama Minah kan?” Jawab Iman, … “Belum kok bu.” Semakin heran Sari. “Lho yang kemarin-kemarin itu? Kan udah saya kasih ijin.” Dengan polos Iman menjawab, … “Iya bu, tapi saya nggak kepengen.” Sari penasaran, … “Lho kenapa?” Dengan polos Iman menjawab, … “Abis barusan sama ibu yang cantik, masa’ disambung sama mbak Minah. Rasanya kok eman-eman ya bu.” “Jadi selama ini kamu tahan aja?” Jawab Iman, … “Iya bu, menurut saya kok sayang.” Entah bagaimana Sari merasa senang mendengar jawaban Iman. Ada rasa hangat di hatinya. “Ah sayang aku udah puas. Mana besok mens lagi …” Tapi ada rasa kasihan juga yang membersit di hatinya. Hebat juga pengorbanan Iman, yang lahir dari penghargaan kepadanya itu. Akhirnya ia mengambil keputusan …</p>
<p>“Sini Man, sekarang kamu yang baring di sini.” Kata Sari sambil bangun dari posisinya semula. Iman menatapnya dengan pandangan bertanya, tapi diikutinya permintaan majikannya. Sari segera membersihkan ‘barang kepunyaan’ Iman dengan handuk. Karena dipegang-pegang ‘daging berurat’ milik Iman kembali mengeras penuh. Sambil duduk di tepi ranjang Sari mulai mengelus-elusnya. Sempat ia berdecak kagum menyaksikan kekokohan dan kerasnya. Dirasakannya ukuran ‘daging keras’ Iman yang besar, ketika berada dalam genggaman tangannya. Keenakan Iman, hingga matanya sesekali terpejam. Bibirnya juga mendesis, bahkan sesekali mengerang. Tangan kanannya di tempatkannya di bawah kepalanya. Tangan kirinya mengusap-usap lengan Sari yang sedang mengocok-ngocok ‘barang kepunyaan’nya. Kali ini Sari membiarkan apa yang pemuda itu ingin lakukan. Setelah beberapa saat berlalu Iman mulai mendekati puncak pengalamannya. “Bu, saya hampir bu” Lalu lanjutnya lagi, “Awas bu, awas kena, saya udah hampir.” Sari hanya tersenyum. Katanya, “Lepas aja Man, nggak apa-apa kok.” Setelah berusaha menahan, demi memperpanjang kenikmatan yang dirasanya, akhirnya Iman terpaksa menyerah. “Aduh bu aduuuh aaah …” Cairan kental ‘muncrat’ terlontar berkali-kali dari ‘daging keras’nya, yang terus dikocok-kocok Sari. Tanpa sadar kedua tangan Iman mencengkeram lengan Sari dan menariknya. Tubuh wanita itu tertarik mendoyong ke atas tubuh Iman. Akibatnya cairan kental Iman juga tersembur ke dada dan perutnya. Tapi Sari membiarkannya saja, seakan-akan menyukainya. Setelah ‘air mani’nya terkuras habis baru Iman sadar atas perbuatannya. “Maaf bu, saya tidak sengaja …” Matanya terlihat kuatir. Sari hanya tersenyum, “Nggak apa-apa kok Man.” Lalu sambungnya, … “Aduh Man, kentelnya punyaan kamu. Banyak amat sih muatannya. .” Iman bernafas lega, apalagi ketika dilihatnya Sari melap badannya sendiri, lalu setelah itu badan dan ‘batang terkulai’ miliknya dengan handuk.</p>
<p>Sambil bangkit berdiri Sari mengenakan dasternya. Lalu ia berdiri di depan Iman yang masih duduk di tepi pembaringan. “Menurut kamu aku cantik nggak Man?” Tanyanya kepada pemuda itu. “Cantik dong bu, cantik sekali.” Sambil mengelus pipi Iman ia bertanya lagi, … “Kamu bisa nggak sementara nahan dulu?” Iman terlihat kecewa, “Berapa hari bu?” Tersenyum manis Sari menjwab, Yah, sekitar 5-6 hari deh.” Iman mengangguk tanda mengerti dan menatapnya dengan pandangan sayang. Sari membungkuk dan meremas ‘batang kemaluan’ Iman yang masih lumayan keras. “Punya kamu yang besar ini simpan baik-baik ya buat aku.” Lalu dengan gayanya yang manis ‘kemayu’ ia membuka pintu dan melangkah keluar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MENGUMBAR HASRAT </strong></p>
<p>Sementara berlangsungnya masa penantian cukup banyak perubahan yang terjadi. Iman sekarang nampak lebih baik penampilannya daripada waktu-waktu sebelumnya. Rambutnya ia cukur rapi dan pakaian yang dikenakannya selalu bersih. Ia sendiri tampak semakin PD atau percaya diri, kalaupun sikapnya kepada Sari tetap sopan dan santun. Apalagi ia yang dulu-dulu tidak pernah dipandang sebelah mata, oleh nyonyanya, sekarang sering diajak mengobrol atau menonton TV. Semua ini tentu saja menimbulkan tanda-tanya, terutama dari orang-orang seperti Minah. Apalagi Sari sering tanpa sadar membicarakan tentang Iman, dengan nada yang memuji. Di waktu malam Sari kadang-kadang terlihat melamun sendiri. Tapi rupanya bukan memikirkan tentang suaminya yang lama bertugas ke luar Jawa. Ia malah sedang merindukan orang yang dekat-dekat saja.</p>
<p>Setelah selesai masa menstruasi-nya Sari masih menunggu dua hari lagi, setelah itu baru ia merasa siap. Sore itu ketika berpapasan dengan Iman ia memanggilnya. “Shst sini Man.” Iman menghampirinya, … “Ada apa bu?” Dengan berseri-seri Sari menjelaskan, … “Nanti malam ya.” Iman merasa senang. “Udah bu? Kalau begitu saya tunggu di kamar saya ya bu. Nanti saya beresin.” Tapi kata Sari, … “Ah jangan, kamu aja yang ke kamarku. Jam 11-an ya?” Sambil melangkah pergi dengan tersenyum Iman mengiyakan.</p>
<p>Sari benar-benar ingin tampil cantik. Dibasuhnya tubuhnya dengan sabun wangi merk ‘channel.’ Tidak lupa dikeramasnya juga rambutnya yang hitam, panjang dan lebat itu. Lalu dikenakannya gaun malam yang paling ’sexy,’ yang terbuka punggung dan lengannya. Sengaja tidak dipakainya ‘bra.’ Setelah itu masih dibubuhinya tubuhnya dengan ‘perfume’ dan sedikit kosmetik. Begitu juga dengan Iman. Setelah mandi dan keramas dipakainya ‘deodorant’ dan ‘cologne’ pemberian Sari. Jam sebelas kurang sudah diketuknya pintu ruang tidur utama, yaitu kamar Sari.</p>
<p>Sari membuka pintu dan menggandeng tangan Iman. Pemuda itu tertegun menyaksikan kecantikan wanita yang berkulit putih itu. Sari mengajak Iman duduk di tepi ranjang. Ditatapnya mata pemuda itu yang balik menatapnya dengan rasa kagum. Sari tersenyum. “Malam ini kamu hanya boleh manggil aku Sari atau sayang. Mau kan?” Iman mengangguk sambil menelan ludah. Kata Sari lagi, … “Malam ini ini kamu boleh memegang saya dan melakukan apa aja yang kamu mau.” Agak gugup Iman menjawab, … “Eng … Terima kasih … Eng … Sayang. Kamu kok baik sekali. Kenapa? Saya ini orang yang nggak punya apa-apa dan nggak bisa ngasih apa-apa.” Sari merangkulkan tangannya ke leher Iman dan menidurkan kepalanya di bahu iman. “Kamu salah Man. Kamu itu laki-laki yang bisa memberi saya kepuasan yang total. Sejak kawin saya belum pernah mengalami seperti yang saya dapat dari kamu.” Lalu sambil tersenyum Sari meminta, … “Sini Yang, cium aku.” Iman mendekatkan bibirnya ke bibir Sari, lalu menciumnya. Tapi karena kurang berpengalaman akhirnya Sari yang lebih agresif, baru kemudian Iman mengikuti secara lebih aktif. Kedua bibir itu akhirnya saling berpagutan dengan penuh semangat. Dengan penuh gairah Sari melepas baju Iman. Sebaliknya Iman agak malu-malu pada awalnya, tapi akhirnya menjadi semakin berani. Dilepasnya gaun malam Sari, sambil diciuminya lehernya yang ramping, panjang dan molek itu. Dengan gemas tangannya meremas buah dada Sari yang ranum. Karena Sari membiarkan saja akhirnya ia berani menciumi, lalu mengulum puting buah dada yang indah itu. Sari kegelian. Tangannya mengusap-usap tonjolan di celana Iman. Kemudian dibukanya ‘ruitslijting’ celananya. Tangannya menguak celana dalam Iman dan masuk untuk menggenggam ‘batang kemaluan’nya yang telah mengeras. Tangan Iman juga langsung melepas celana dalam Sari, kemudian langsung ditaruhnya tangannya di celah paha Sari. Wanita cantik itu mengerang nikmat, rupanya sebelum dengan Iman rasanya cukup lama juga ‘milik berharga’nya itu tidak disentuh tangan lelaki. Kemudian Sari berlutut di depan Iman, hingga membuat pemuda itu merasa jengah. Ditariknya celana panjang Iman, sampai lepas. Lalu dimintanya Iman berbaring di tempat tidur.</p>
<p>Iman sempat merasa agak kikuk, tapi gairah Sari segera membuatnya merasa nyaman. Dipeluknya wanita itu dikecup-kecupnya lengan, dada, perut, bahkan pahanya. Karena kegelian Sari mendorong dada Iman hingga sampai terbaring. Sekarang gantian ia yang menciumi tubuh pemuda itu. Dengan mantap dilorotnya celana dalam Iman hingga terlepas. Cepat digenggamnya ‘batang kemaluan’ Iman yang sudah tegang keras berdenyut-denyut. “Man, Iman, besarnya punya kamu. Keras lagi …” Iman tersenyum, … “Abis kamu cantik sih Yang.” Sambil mengocok-ngocok ‘kemaluan’ Iman dengan manja Sari berkata, … “Rasanya aku gemes deh Man.” Iman tersenyum nakal, entah apa yang ada dipikirannya. Ia hanya menanggapi singkat, … “Kalau gemes gimana dong Yang?” Sari tersenyum manis. Tiba-tiba diciuminya ‘kemaluan’ Iman, hingga membuat pemuda itu terkejut. Dengan tatapan heran, tapi senang, dilihatnya Sari kemudian menjilati ‘alat kejantanan’nya. Mulai dari ‘bonggol kepala,’ terus sepanjang ‘batang’nya, bahkan sampai ke ‘kantung buah zakar’nya. Ketika Sari mengulum ‘kemaluan’nya di mulutnya Iman mengerang keenakan. “Aduh sayang, aduh enak sekali … Ah enaknya.”</p>
<p>Akhirnya Iman tidak tahan lagi. Ditariknya Sari dengan lembut lalu dibaringkannya terlentang. Didorongnya kedua paha Sari hingga terbuka lebar. Masih sempat diciumi dan dijilatinya tubuh Sari bagian atas, termasuk mengemut puting buah dadanya seperti bayi yang lapar. Lalu pelan-pelan didorongnya ‘alat kejantanan’nya masuk, menguak bibir ‘vagina’ Sari yang ranum, menyusuri liang kenikmatannya. “Pelan-pelan Man, … Punya kamu terasa besar amat sih malam ini, … Aah …” Sari mengerang keenakan. Akhirnya dengan sentakan terakhir Iman menghunjamkan ‘batang kemaluan’nya yang besar itu masuk. Begitu ia menggoyang pinggulnya Sari langsung mendesah. Rasanya nikmat sekali digagahi pemuda yang penuh vitalitas dan enerji ini. Iman terus menggerakkan ‘alat kejantanan’nya maju mundur, hingga membuat Sari mendesah dengan tanpa henti. Akibat gaya Iman yang agresif ini Sari tidak mampu menahan dirinya lebih dari 10 menit. Ia merasa seperti dilambungkan tinggi, sewaktu dicapainya puncak ‘orgasme’nya yang pertama. “Aduh Man, aduh, aku sayang kamu …. Aaah” Erangan panjang keluar dari bibir Sari. Tapi Iman ternyata masih kuat. Diteruskannya gerakan maju-mundur dengan pinggulnya. Akibatnya sensasi nikmat Sari, yang tadi hampir mereda, mulai meningkat lagi. Lima belas menit atau dua puluh menit berlalu sampai terdengar lagi jeritan Sari. “Man … Pariman … Yang … Aku lagi … Yang … Aaah … Aaah” Sekali inipun Iman merasa sudah hampir tiba di ujung daya tahannya. “Sari … Sayang, saya hampir …. Boleh?” Dengan nafas tersengal-sengal Sari memintanya, … “Iya Man, lepas sekarang Man …” Segera Iman mendorong dengan hentakan-hentakan keras. “Sari … Sayang … Aaah” Begitu Iman menyemburkan ’sperma’nya ke dalam ‘vagina’ Sari, ujung kepala kemaluannya berdenyut-denyut. Akibatnya Sari kembali merasa kegelian yang nikmat. “Man aduh Man aduh …”</p>
<p>Sari terkulai lemah. “Peluk aku dong Yang …” Disusupkannya kepalanya di ketiak Iman. Tangannya mengusap-usap dadanya yang berkeringat. “Kamu puas Man …?” Tanya Sari kepada Iman. “Puas Sayang, puas sekali” Dalam keheningan malam mereka berdua terbaring saling berpelukan, sampai Iman merasa tenaganya pulih. Sekali lagi ia minta dilayani. Walaupun Sari sudah merasa cukup, dipenuhinya kemauan pejantan mudanya itu. Dengan kagum dirasakannya bagaimana sekali lagi ia dipuaskan oleh birahi Iman. Akhirnya baru menjelang subuh Iman beranjak pergi untuk kembali ke kamarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaindo.com/pembantu-jadi-pejantan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A MASSAGE FOR MOM.</title>
		<link>http://www.ceritadewasaindo.com/a-massage-for-mom.html</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaindo.com/a-massage-for-mom.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 05:22:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sex stories]]></category>
		<category><![CDATA[area]]></category>
		<category><![CDATA[black bush]]></category>
		<category><![CDATA[buttocks]]></category>
		<category><![CDATA[calves]]></category>
		<category><![CDATA[contact]]></category>
		<category><![CDATA[face]]></category>
		<category><![CDATA[friend beth]]></category>
		<category><![CDATA[glimpse]]></category>
		<category><![CDATA[idea]]></category>
		<category><![CDATA[learner]]></category>
		<category><![CDATA[massage]]></category>
		<category><![CDATA[massages]]></category>
		<category><![CDATA[minute]]></category>
		<category><![CDATA[nipples]]></category>
		<category><![CDATA[resistence]]></category>
		<category><![CDATA[robe]]></category>
		<category><![CDATA[squeeze]]></category>
		<category><![CDATA[stop]]></category>
		<category><![CDATA[time]]></category>
		<category><![CDATA[waist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaindo.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[I remember my mom&#8217;s friend Beth used to come over twice a week and give mom a massage. After that mom would give her a massage. They both undressed for the massage, but covered their buttocks with a towel. I used to come and go as I pleased and they seemed to think nothing of <a href="http://www.ceritadewasaindo.com/a-massage-for-mom.html"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I remember my mom&#8217;s friend Beth used to come over twice a week<br />
and give mom a massage. After that mom would give her a massage.<br />
They both undressed for the massage, but covered their buttocks<br />
with a towel. I used to come and go as I pleased and they seemed<br />
to think nothing of an eleven year old seeing them partially nude.<br />
Some days I would sit and watch as they massaged each other from<br />
head to feet. When I was twelve, I used to watch more frequently.<br />
I was becoming much more curious about their bodies and every once<br />
in a while, I would catch a glimpse of mom&#8217;s nipples as she shifted<br />
positions. I remember one day that Beth got a little careless and<br />
I saw her full black bush as she got up to dress. She quickly<br />
covered with a robe.<br />
A few months after I turned thirteen, Beth left town. Mom<br />
began complaining that she missed her massages. She had aches and<br />
pains when she got home from work. I got the idea that I may be<br />
able to take Beth&#8217;s place and may even get to see my mother&#8217;s body<br />
up close. I was surprised when I approached mom one afternoon when<br />
she got home from work and offered to give her a massage. She<br />
readily agreed and told me to set up the table while she changed.<br />
A few minutes later she returned with her robe on and two<br />
towels. She turned her back to me and wrapped one around her waist.<br />
She then laid face down on the table with her arms at her sides.<br />
I hardly got a glimpse at her breasts. I began rubbing her head as<br />
I&#8217;d seen Beth do and over several minutes moved down her back to<br />
just above the towel. Mom said that I was a good learner and gave<br />
a great massage. I then went to the bottom of the table and began<br />
rubbing her feet. Her legs were together, so when I tried to look<br />
up between her legs, I couldn&#8217;t see anything. When I finished her<br />
feet, mom was really relaxed. I moved up her calves and gently<br />
moved her legs a little more open. She gave no resistence. I paid<br />
particular attention to the back of her knees. I had heard her say<br />
she liked that several times. This time was no exception. She said,<br />
&#8220;That feels wonderful. You&#8217;re really a natural at this, son.&#8221; I<br />
then moved to her thighs. I began kneading her ample thighs one at<br />
a time, stopping just below the towel. I then began massaging both<br />
thighs, placing my fingers between them so that, as I squeezed, her<br />
thighs opened. I was rewarded with a good view of her pubic hair,<br />
but her legs were still close together and I couldn&#8217;t see much.<br />
Still, for a horny thirteen year old, that was exciting. After a<br />
few minutes, mom thanked me and reached for her robe and covered<br />
herself quickly so that all I saw was her bare back.<br />
Over the next couple of days, I thought a lot about my<br />
mother&#8217;s body. I sat the massage table up and when mom arrived<br />
home, I told her I was ready to give her another massage. She<br />
smiled and said she would be right out. Again she returned and with<br />
due modesty stretched out on the table. Mom seemed more relaxed<br />
this time. After I finished her arms and back, I proceeded to her<br />
feet. I noticed that her legs were parted more and she wasn&#8217;t as<br />
tense. As I glanced up under the towel, I could see swirls of her<br />
light brown pubic hair at the “V” of her legs. I took my time on<br />
her feet and calves. As I rubbed the back of her knees, I gently<br />
pressed her legs apart. She didn&#8217;t seem to realize what I was<br />
doing. This time my kneading of her thighs exposed her pubic area!<br />
I actually got a good close look at her lips protruding from her<br />
beautiful cunt. I became bolder and moved my hands higher to the<br />
level of the towel. My probing fingers were no more than six inches<br />
from her cunt. Mom suddenly realized that she was exposed and<br />
quickly closed her legs. She thanked me, saying that she had had<br />
enough. Again she managed to get off the table without exposing<br />
herself any more.<br />
I was afraid that I&#8217;d ruined my chances at seeing more of her<br />
body, but a couple of days later, mom asked me if I would mind<br />
giving her a massage. I gladly agreed. I was much less aggressive<br />
and over the next couple of months, I massaged her two to three<br />
times a week and was rewarded with frequent close up views of mom&#8217;s<br />
beautiful cunt. She also seemed much more relaxed about covering<br />
herself before and after her massage. I was careful not to stare,<br />
but I got several good looks at her nice breasts with their dark<br />
brown nipples.<br />
One afternoon she came into the room and casually laid a towel<br />
over the table. She then removed her robe and, without any effort<br />
to cover her breasts, got onto the table and lay on her stomach.<br />
She then reached down and loosened the towel around her hips and<br />
positioned it over her buttocks the same as she did when Beth gave<br />
her a massage. Fortunately, my waist was below the table, because<br />
my hard on was pressing strongly against my shorts. When I finished<br />
her back, she asked me to massage her buttocks through the towel.<br />
I kneaded her cheeks for about five minutes before she asked me to<br />
move to her feet. Her legs were opened considerably more than they<br />
had been ever in the past. I really took my time on her feet and<br />
calves.<br />
I was enjoying an unobstructed view of her bush. As I worked<br />
her thighs, I noticed that her cunt lips protruded more and they<br />
were very moist. As I squeezed her upper thighs, I noticed that the<br />
closer I got to her pubic area the more the flesh of her pussy<br />
moved with my kneading. I reached under the towel and began<br />
massaging mom&#8217;s buttocks again. This time my thumbs were between<br />
her cheeks and each squeeze opened her very wet cunt widely. After<br />
a minute or so mom said, &#8220;I think we better stop. You give a<br />
wonderful massage.&#8221; She got up, wrapping the towel around her<br />
waist. I could see that her nipples were erect and her face was<br />
flush. She put on her robe and went to her room. I thought I was<br />
going to burst. I went to my room and quickly relieved the pressure<br />
by beating my meat with visions of mom&#8217;s cunt fresh in my mind.<br />
I guess I was too young to realize that she was enjoying this,<br />
too. But she was having feelings of guilt which held her back. The<br />
next massage was even more exciting. Mom had a shower after dinner.<br />
She came out with her robe on and asked for a massage. I eagerly<br />
agreed. When I set the table up, mom just removed her robe and got<br />
on the table. She was nude. She then covered her buttocks with a<br />
towel. The full frontal view had me really excited and I wanted to<br />
give her an especially good massage as a reward. I took great care<br />
with her head, arms and back. Mom was really enjoying the attention<br />
I was giving her. It was a good half hour before I got to her<br />
thighs and buttocks. Her legs were wide apart. Her vagina was very<br />
wet. As my thumbs spread her buttocks, I noticed her hips were<br />
giving slight thrusts. I got an idea. I asked her if she wanted me<br />
to massage the front of her thighs. She answered that she would<br />
like that. She then rolled over on her back.<br />
She pulled the towel out from under her buttocks and laid it<br />
across her stomach, below her bare breasts. Her legs were parted<br />
quite wide. I began just above her knees and worked upward. I<br />
looked up and mom had her eyes closed. Her nipples were standing<br />
straight up. I sensed that she was excited, but I was more<br />
interested in the excitement I was feeling exploring mom&#8217;s body.<br />
Before long, my thumbs were gently rolling the fleshy mound of her<br />
vagina. Her vagina was opening and closing with the motion. Mom&#8217;s<br />
hips were thrusting regularly now and she was breathing very hard.<br />
I didn&#8217;t know if women had orgasms or not, but I sensed she was<br />
having the same feeling I did just before I came. I wondered if she<br />
would shoot semen the way I did. Mom began moaning, &#8220;That&#8217;s<br />
wonderful. Keep massaging me!&#8221; As if I was going to stop! After a<br />
couple of minutes, she calmed down. She got up and put on her robe,<br />
thanked me with a kiss on the cheek and went to her room.<br />
Mom never mentioned the sexual aspect of her massages, but she<br />
was in a real good mood for the next couple of days and gave me<br />
several hugs and told me what a great son I was. One evening, right<br />
after I had finished a shower, mom called me to her room. She had<br />
a robe on and had just got out of her shower. She asked if I would<br />
mind giving her a massage. When I started to go set up the massage<br />
table, she stopped me and said that we should use the bed. She<br />
pulled the blankets back and removed her robe. Standing completely<br />
naked in front of me, she said, &#8220;After you finish, I&#8217;m going to<br />
give you a massage, too.&#8221; She then lay on the sheet on her stomach<br />
with wide open legs. She said with a smile, &#8220;You can start with my<br />
shoulders and back. My scalp is O.K.&#8221; I just had a robe on and got<br />
a great idea. I positioned myself with my knees between her legs<br />
and loosened my robe. When I leaned forward to reach her shoulders,<br />
my penis came in contact with the crack of her ass. As I massaged<br />
her, the motion moved it along her crack.<br />
She made no move to stop me, but as I moved down her back,<br />
the contact stopped. I really got a great view of her pussy as I<br />
rubbed her cheeks. She was already wet and her lips were protruding<br />
nicely. I quickly moved down her legs and as I got to her feet, she<br />
rolled over on her back and spread her legs so I was again between<br />
them. If she noticed my erect penis pointing at her, she didn&#8217;t say<br />
anything. She lay back with her eyes closed and said, &#8220;Massage my<br />
thighs now.&#8221; I knew what she wanted so I moved to the top of her<br />
thighs much faster than usual. Soon I was massaging the fatty part<br />
of her cunt. I could clearly see her clitoris as I opened and<br />
closed her lips. Mom began moaning and her hips were thrusting. One<br />
of my thumbs penetrated as she pushed forward. She groaned and held<br />
her hips up for a second before she rotated a couple of times and<br />
then pulled away so my thumb pulled out. She suddenly stopped. She<br />
said, &#8220;It&#8217;s your turn. Lay on your back.&#8221;<br />
When I complied, she straddled my stomach on her knees and<br />
began rubbing my chest and shoulders. As she massaged, she lowered<br />
her hips so that her slippery cunt pushed on the soft bottom of my<br />
upright penis. She began an up and down motion which was<br />
incredible. I could feel her wetness as it contacted my balls and<br />
then slowly moved toward the head of my penis. I was really getting<br />
excited and knew I was going to come soon. One time when my dick<br />
was positioned just right, I thrust my hips so that I penetrated<br />
her a couple of inches. I gasped as I felt the delicious warmth of<br />
her pussy squeezing on my knob. Mom said, &#8220;Oh no, son. That<br />
wouldn&#8217;t be right. We can massage each other, but that would be<br />
`incest`.&#8221; She then slowly raised herself so that my penis withdrew<br />
and slapped against my stomach.<br />
Mom immediately lowered herself and continued our genital<br />
rubbing. I reached up to stroke her lovely hard nipples. I couldn&#8217;t<br />
hold back any longer and started coming with powerful spurts. That<br />
excited mom and she came, too. Mom then wiped my semen up with a<br />
tissue and lay down beside me.<br />
We soon fell asleep. The next morning, I awoke cuddled against<br />
my nude mother. She had covered us during the night. I began<br />
caressing her breasts. Soon her nipples grew, but she woke up and<br />
said she had to get ready for work. She continued to invite me in<br />
for a &#8220;massage&#8221; about once a week over the next few months. I also<br />
gave her massages on the table.<br />
One day shortly after I turned fifteen, mom had me get on the<br />
table after I finished her massage. She massaged my head, back and<br />
legs. She then had me roll over on my back. She spent a little time<br />
on my thighs, but before long she was lightly running her fingers<br />
up and down my stiff penis. Then she pumped my foreskin a few<br />
strokes. It felt great and I closed my eyes to enjoy this new<br />
experience. A few seconds later she placed my penis between her<br />
palms and rubbed back and forth. The rotation really felt good and<br />
I knew I wasn&#8217;t going to last much longer.<br />
To my great surprise, I felt something warm and slippery<br />
engulf my prick. I looked down to see that mom had put my penis in<br />
her mouth and was moving up and down so that I was fucking her<br />
mouth. I began coming almost immediately. Mom swallowed every drop.<br />
When I finished, she smiled and said, &#8220;I thought you deserved<br />
something special.&#8221;<br />
Over the next couple of days I thought of how I could return<br />
the favor. By the time she invited me to her room a few evenings<br />
later, I knew what I was going to do. We went through the usual<br />
routine until she rolled on her back. When I was massaging her<br />
cunt, I leaned forward and began licking around her protruding pussy<br />
lips. She gasped, &#8220;What are you doing?&#8221; Since she didn&#8217;t pull away,<br />
I kept licking. She obviously liked my new attention. She bent her<br />
knees up and spread her legs wider. Now I had easy access to her<br />
whole cunt. After several minutes, I began sucking her now<br />
enlarged clitoris. Mom was really excited and began humping and<br />
moaning. She came with such force the she squirted juice over my<br />
face.<br />
I kept licking and sucking. A few minutes later mom relaxed<br />
and said, &#8220;Son that was unbelievable. You have exhausted your poor<br />
mother. If you promise not to take advantage of me, I&#8217;m going to<br />
sleep for a while.&#8221; Without waiting for an answer, she closed her<br />
eyes. I was looking at her erect nipples and juicy cunt inviting<br />
me. I waited only a minute before I began caressing her breasts.<br />
Her nipples remained stiff under my touch. Mom&#8217;s breathing was<br />
regular. My penis was pointed at her waiting cunt and I pushed<br />
slowly forward. When it reached her open slit. it easily<br />
penetrated. I leaned forward to suck her nipples as I slowly fucked<br />
her for the first time.<br />
I didn&#8217;t want the feeling to stop, so I kept a slow pace. I<br />
noticed mom&#8217;s breathing changed as her hips began responding. I<br />
could feel her cunt muscles grasping as I ground our pubic bones<br />
together. I began coming without warning when she thrust her hips<br />
toward me. I think she had an orgasm at the same time, but I can&#8217;t<br />
be sure because I was so wrapped up in my orgasm. When I relaxed,<br />
mom continued to act like she was sleeping. I rolled off her and<br />
pulled a sheet over us and fell asleep cuddled against her.<br />
The next morning, mom was in the shower when I got up. It was<br />
a Saturday, so she didn&#8217;t have to work. When I stepped in the<br />
shower with her, she just smiled. We helped each other wash. Her<br />
soapy hands caused my penis to get extra stiff. Mom&#8217;s nipples were<br />
also erect after I soaped them a few minutes. We toweled each other<br />
off and went to the bedroom.<br />
When I began caressing mom&#8217;s buttocks as I hugged her, she<br />
said, &#8220;I feel a little nap coming on.&#8221; We lay on the bed and<br />
caressed each other a while before I began kissing and sucking her<br />
nipples. She lay back with her legs open so I could stimulate her<br />
slippery cunt with my practiced fingers. Her hips were thrusting<br />
into my hand and she was breathing hard when she moaned, &#8220;I&#8217;m going<br />
to sleep now.&#8221; She closed her eyes and relaxed. I sensed she was<br />
ready to fuck but wanted to maintain the pretense that it wasn&#8217;t<br />
wrong if she was &#8220;asleep&#8221;. I mounted her and penetrated fully. Her<br />
body responded immediately. We hugged and ground together. I could<br />
almost feel her clitoris against my dick. I lasted a long time<br />
because I was grinding and not thrusting. It felt super, but I was<br />
in control.<br />
Mom came rather quickly and relaxed a minute. My continued<br />
fucking soon got her going again and when I finally lost control<br />
and began long, slow thrusts, mom was right with me. She came with<br />
two gasps and really held me tightly as I pumped the last drops of<br />
semen deep inside her. I looked at her face and she had her eyes<br />
closed and a smile on her lips. A few minutes later, I rolled off<br />
her and caressed her stomach and thighs. Within two minutes, she<br />
feigned wakening. She said, &#8220;That was a nice nap. I had such a<br />
lovely dream. I feel ready for another shower.&#8221;<br />
That was three years ago. We sleep together every night now,<br />
but mom still must pretend she is asleep before we have<br />
intercourse. We do everything else including sixty-nine, but when<br />
it`s time for penetration, she always says she needs a little nap.<br />
Sometimes it only takes thirty seconds to &#8220;fall asleep&#8221;. I don&#8217;t<br />
mind. She couldn&#8217;t be more responsive if she were wide awake. I&#8217;m<br />
going to college soon. We are both happy that I was accepted at a<br />
local college. It will save money and we can continue our unusual<br />
love life. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaindo.com/a-massage-for-mom.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mommy&#8217;s naked love</title>
		<link>http://www.ceritadewasaindo.com/mommys-naked-love.html</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaindo.com/mommys-naked-love.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 16:52:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sex stories]]></category>
		<category><![CDATA[bikinis]]></category>
		<category><![CDATA[black satin]]></category>
		<category><![CDATA[carnal nature]]></category>
		<category><![CDATA[hot flash]]></category>
		<category><![CDATA[karen miller]]></category>
		<category><![CDATA[mental image]]></category>
		<category><![CDATA[mommy]]></category>
		<category><![CDATA[panties]]></category>
		<category><![CDATA[startling discoveries]]></category>
		<category><![CDATA[trembling hands]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaindo.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[Karen Miller was putting away folded laundry when she made the first of several startling discoveries that would change her life. She had had an unusually busy week, so the laundry had gotten backed up quite a bit, and she had an extra big stack of her son&#8217;s underwear. As she was trying to make <a href="http://www.ceritadewasaindo.com/mommys-naked-love.html"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karen Miller was putting away folded laundry when she made the first of several startling discoveries that would change her life.</p>
<p>She had had an unusually busy week, so the laundry had gotten backed up quite a bit, and she had an extra big stack of her son&#8217;s underwear. As she was trying to make room in his drawer for the clean, folded boxers, she came across something she was not supposed to find buried in the bottom of the drawer.</p>
<p>It was a pair of women&#8217;s panties that had been wadded up and stuffed in the drawer. Karen was so surprised to find them that it took her a few seconds to absorb some critical information about them.</p>
<p>For one, they weren&#8217;t just any panties, but a pair of black satin bikinis. For another, they weren&#8217;t just any woman&#8217;s panties, they were hers, a pair that had gone missing several months ago. And finally, she noticed that the panties were stiff and crusty, completely covered with what she knew was dried semen.</p>
<p>Karen felt her knees go weak and she had to grab the dresser for support as the impact of her discovery hit home. It meant that her son, her shy, sweet, sensitive baby, was masturbating, and using her underwear as a prop.</p>
<p>Suddenly, from nowhere, she got a hot flash and she felt herself get wet between her legs at the mental image of Ray stroking himself and shooting his hot cream on her panties. The very thought shocked her, and she buried her face in a hand as she struggled to compose herself. For Ray was also sexy, as some of her friends had often noted. Indeed, it was a fact that she had noticed as well. But this was different. Now she had proof that her son had a deep carnal nature that was struggling to come into the open.</p>
<p>It all added up to one thing, Karen thought ruefully. It could only mean that Ray was just like her: shy and sweet on the outside, but hot and nasty on the inside.</p>
<p>Unsure of what to do, she quickly replaced the panties in the drawer, and with trembling hands shut it and walked swiftly out of her son&#8217;s room. I must be going crazy, she thought. I can&#8217;t be thinking about &#8230; that. She sat at the kitchen table in their small house, poured herself a glass of juice and sat to think.</p>
<p>As she did, her mind wandered back to how she and Ray had arrived at this juncture.</p>
<p>Karen had grown up the youngest &#8211; and only daughter &#8211; of three children. Her father was a claims adjuster for a major insurance company and her mother was a housewife. Being responsible for a fairly large territory, her father had spent much of his time on the road, giving him ample opportunity to sample the wares of women in a number of towns. Her dad had a highly sexual nature and an easy, garrulous way with people. Her mom, on the other hand, was quiet and somewhat frigid. As long as he kept his affairs in other towns, she tolerated her father&#8217;s running around, but when he took up with a barmaid in their small town, her mother left her father and took Karen with her to another town, where she got a low-income job as a secretary. Karen had been 13 when this happened, and it had been fairly traumatic.</p>
<p>It became quickly apparent that Karen inherited the most dominant features from each of her parents. Form her mother, she inherited her size, a high intellegence, strong survival instincts and a quiet, introspective personality. From her father, she inherited her looks and a bottomless sexual hunger. It was a difficult combination to have. She was just slightly over five feet tall and slim, with a perfectly-proportioned butt and small, tea-cup sized breasts. And she was drop-dead gorgeous, with a pretty, open face, raven black hair, fair skin and dazzling blue eyes the color of a clear sky on a mountain morning.</p>
<p>It didn&#8217;t take the boys at her new high school long to notice the pretty brunette, but for a long time, she held them off, hiding behind her shy nature. Eventually, she loosened up, and gave up her virginity early in her junior year. For the next year or so, she dated pretty regularly, and most of her boyfriends got what they wanted from her. She had always had an active imagination, and once she got started, she was game for most anything when it came to sex.</p>
<p>Because her mother was a staunch Catholic, the idea of Karen using contraceptives was out of the question. For awhile, Karen was able to play Catholic Roulette, timing her cycle so that she avoided sex when she was fertile. Or rather, she avoided letting her boyfriends in her pussy at those times. She quickly learned how to give head and wasn&#8217;t averse to letting a guy have her succulent butt if a blowjob wasn&#8217;t enough.</p>
<p>But when she started going with Donnie Miller during her senior year of high school, that changed. Donnie was a sophomore at the local college, and he was considered quite a catch. His father was on the town council, and was rumored to have higher political aspirations, and his mother came from one of the town&#8217;s wealthiest families.</p>
<p>Donnie hadn&#8217;t wanted to play Catholic Roulette when Karen was fertile, and he paid the price, for a couple of weeks before her high school graduation, Karen came up pregnant. The Millers wanted Karen to quietly have an abortion, but neither she nor her mother would hear of it. Moreover, Karen&#8217;s angry mother insisted that Donnie marry her daughter, or else she would create a tremendousscandal. Her mom may have been quiet, but there were depths to her that no one in that town had seen up to that point.</p>
<p>Nevertheless, it was a doomed marriage. Karen resented that her college dreams had been shattered, and Donnie&#8217;s parents made no attempt to hide their disdain for her, considering her a low-life tramp from the other side of the tracks who had trapped their precious son into marriage. And that disdain extended to her son as well. Karen&#8217;s mother &#8211; and her father &#8211; gave him all the love they could, but the Millers were indifferent to the boy.</p>
<p>After Ray came along, Karen went to work at Wal-Mart while Donnie finished his banking degree. Even then, she suspected he was cheating on her, but could never prove it. After he graduated from college and started with a local bank, Karen found a job as a secretary for a local lawyer.</p>
<p>For seven years, she stayed married to Donnie, and the whole time, she knew he was cheating, but he was too clever to be caught. Yet when she finally succumbed to the persistent advances of her boss, it took less than a month for Donnie to find out. Karen always suspected that it was a set-up, but she found it impossible to fight the money and influence that the Millers had aligned against her.</p>
<p>Defeated, Karen made a deal with her husband. She would waive any alimony claims in return for full custody of Ray and minimal child support. Donnie had never wanted the child to begin with, and had done his best to make the boy&#8217;s life miserable. He had never physically abused his son, or her, but his verbal abuse had been a constant drain on their self-esteem.</p>
<p>As it happened, child support was grudging at best, and after six years of constantly fighting about it, Karen simply wearied of the battle. By that time, she had moved to the nearest large city, the better to fade into the crowd. She had found work as a secretary for a medium-sized corporation, a job she had been recommended for by her former employer, who was perhaps feeling guilty about his role in her downfall. She had bought a small house in a quiet neighborhod, and had settled down with her son.</p>
<p>Feeling betrayed by her body, which had finally yielded to her instincts, Karen initially swore off sex, but after a year or so, she found she missed it, badly. Sometimes, she would accept dates, but refused to get involved in anything serious. And when she went a fairly long period without sex, she sometimes went out looking for it. That ended abruptly, though, when Ray was about 11, when she brought home a guy she&#8217;d met at a bar. They were into it hot and heavy on the couch when Ray stumbled out of his bedroom to get a glass of water. Karen would never forget the hurt look on her son&#8217;s face when he saw what was going on.</p>
<p>After that, Karen swore off alcohol and sex, and dedicated herself to her son. He was a quiet, studious boy whose only passion was long-distance running. That was a pursuit that Karen encouraged, to the point where they took their runs together. As Ray matured into a young man, they became a familiar sight in their neighborhood almost every morning, running quite briskly.</p>
<p>Ray had graduated from high school with honors and had decided to attend a college nearby, so he could live at home and save on the cost of a dorm. He was 19 now, heading into his sophomore year, and was working at a bookstore in a nearby mall. He had grown to be a slender young man of average height, with looks that favored Karen&#8217;s mother, complete with her curly, sandy blond hair. However, he had inherited Karen&#8217;s eyes, deep soulful blue eyes that hinted at unfathomable depths. He had had a few girlfriends, but none that were serious, and Karen had a suspicion that her son was still a virgin.</p>
<p>As she sat at the table contemplating what she had found, that thought gave her a strange thrill, and she had to shake her head vigorously to rid it of the haunting, delicious images that were swirling around in there. She had gone over eight years without sex, at least sex with another person, and maybe it was starting to get to her. Although she was now celibate, she still had the same deep sexual nature she&#8217;d always had, and she made liberal use of her imagination, and the few toys she&#8217;d managed to acquire to help her when she masturbated.</p>
<p>Ray sensed something different about his mom when he came home for dinner that night after work. She seemed distracted, and seemed to look away whenever he spoke. This puzzled him, because usually Karen liked to hang on his every word. When she had made the commitment to do everything she could for her son, that had included paying rapt attention to what he was saying. They often had deep philosophical conversations about wildly divergent topics, ranging from baseball to politics. So for Karen to lose focus on Ray was disconcerting to say the least.</p>
<p>However, he shrugged it off, and went out to see a movie with a friend. Karen watched a ball game on TV for while then went to bed early.</p>
<p>The next day was a Sunday, and they slept in, as they did most Sundays. It promised to be a hot day, and Karen wasn&#8217;t enthusiastic about getting outside. Ray had to work that afternoon, and after he left, Karen decided to play poker on her computer.</p>
<p>Karen played for awhile, but something kept nagging at the back of her mind, so finally she cashed in and decided to rummage around on the computer to see what she could find.</p>
<p>As a mother of a teenage son, Karen had always kept a close watch on what Ray did on the computer, but since he&#8217;d started college, she&#8217;d slacked off, figuring that he was old enough to use the computer without her birddogging him. But for some reason, today, she felt an urge to catch up with what her son was up to on-line. What she found astounded her.</p>
<p>Looking at the History file, she was startled to see that Ray had apparently been poking around in a website that featured erotic fiction. This by itself wasn&#8217;t necessarily something bad. She had used that very site herself at times. But what took her breath away was the nature of the stories Ray had downloaded. In all, there were over a dozen stories in the file, and every single one featured incest between mothers and sons.</p>
<p>Karen trembled from top to bottom as she started looking at some of the stories, and she felt herself flush. Most of the stories were well-written, and all of them were extremely graphic. She could feel the moisture building between her legs as she read each story, and the more she read, the hotter and wetter she got. She tried several times to shake herself out of the near-trancelike state she&#8217;d fallen into, but she could not pull herself away from the stories. Several times she caught herself rubbing her crotch through her shorts, and one time even clutched her breasts and rolled her stiffening nipples, before she realized what she was doing.</p>
<p>God help me, she thought, as she read. This was SO wrong! But there was no denying it any more. She was getting turned on by the erotic fantasy of mothers making love with their sons, and in particular, the idea of making love with her son. She was almost in tears as the implications began to settle in her psyche. But there was more in store.</p>
<p>After finishing reading every story that had been downloaded, Karen fearfully began to search for some other evidence that Ray was fantasizing about her. I didn&#8217;t take long for her to find it.</p>
<p>She uncovered a folder simply titled &#8220;Ray&#8217;s stuff,&#8221; and when she tried to open it, she found it password-protected. Her suspicions aroused, she started trying a number of different passwords in an effort to get in and see what her son was up to. Her hands shook as she typed each failed password. She tried obvious words like Ray, sex, incest, before thinking of word combinations. She tried momlove, lovemom, ilovemom, then typed in raylovesmom and suddenly the folder opened. Karen&#8217;s eys bugged out as she realized that she had stumbled upon the deepest, darkest recesses of her son&#8217;s fertile mind.</p>
<p>There were photos of every sort. Some were seemingly-innocent pictures of her that Ray had scanned in, but also some where he had superimposed her face onto a picture of a naked woman that was built somewhat like her. There were also pictures of women, all of whom resembled her, having all kinds of sex. Besides photos, there were more stories, lots more stories, from several websites, and poetry, all featuring sex between mothers and sons.</p>
<p>Karen read through a few of them, and she felt her arousal spike with each lurid fantasy that she read. After closing out of one story, she came across a poem Ray had written, and it basically described the thoughts he had when they ran together, how he liked to watch her hips move and her legs churn. That was bad enough, she thought, as it confirmed that Ray did indeed have a specific attraction to her.</p>
<p>But then she came to a story that Ray had obviously written, and her heart almost stopped. It was titled, &#8220;What I Want,&#8221; and it described in exquisite detail exactly what Ray wanted to do to her. It was nasty, but also romantic. Simply put, Ray wanted to make love to her, slowly and sensually. He described the touch of her breasts, the smell of her hair, the curve of her butt. As she read it, Karen let out an audible groan and slid her fingers down the front of her shorts, into her panties, where she found her hot, wet pussy and throbbing clit.</p>
<p>And as she read, Karen formed a picture of Ray &#8211; her son, her baby &#8211; naked, and with her equally naked on her bed having sex. Her heart raced as the forbidden, incestuous fantasy built, while her middle finger rolled her swelling clit around and around.</p>
<p>Suddenly, she looked at the clock on the screen and realized that Ray would be home any time now. Frantically, she closed the folder and shut the computer down. She strode briskly to her bedroom, closed and locked the door. She pulled her t-shirt over her head, unhooked and discarded her bra, then slid her shorts down her legs, with her panties coming off with them. She stood naked in front of the mirror as a shaft of late-afternoon sunlight shone through the window. Yes, she told herself, she was still the same sexy creature she&#8217;d been all those years ago, still sexy enough to turn on a handsome, virile young man, never mind that the man was her own son.</p>
<p>She ran her hands down her sides, and up her chest, cupping her breasts and squeezing her nipples. As she continued to caress a breast, with her right hand, her left hand snaked down her stomach, down her abdomen and between her legs. She slid the flat of three fingers through the lush black curls of her pubic bush, over her throbbing-hot mound, wormed a finger around her opening then back up to her clit.</p>
<p>Karen could feel the moist heat building in her crotch as she rolled her clit. She moved her other hand down between her legs and thrust two fingers as far as they could go in her burning snatch. She stared at herself in the mirror, at her lust-lidded eyes and the hands that were caressing her sex, imagining that they were Ray&#8217;s hands working on her.</p>
<p>She needed more, so she squatted down, not missing a beat as she finger-fucked herself. She opened her bottom dresser drawer and reached under the sweatshirts to where she kept her toys. She felt around until she found one that she felt was pretty close to what she imagined Ray&#8217;s hard cock would look like.</p>
<p>She pulled it out and stared at it for several seconds, then ran her tongue over the rubber dong. She got it good and wet with her saliva then slid it into her mouth and sucked it like a cock. She slid it in as far as she could, inhaling nearly two-thirds of its length, feeling the head hit the back of her throat. God, she missed having a cock do that, as the erotic feelings welled up inside her. Unlike some women, she had always loved to suck a hard cock, especially when she could get one all the way in. She liked the taste and texture of a man&#8217;s erection. Sucking a rubber dong approximated the texture of a real cock, but the taste, of course, was nowhere near the same.</p>
<p>When Karen felt like she&#8217;d given herself enough of a mental image of sucking Ray&#8217;s cock, she pulled the dildo out of her mouth, moved it between her legs and pushed it right up her sizzling slit. She humped up and down on the fake cock slowly, sinuously, her eyes closed imagining it was Ray&#8217;s cock that she was riding. A long, loud groan escaped her lips as she slowly fucked herself nearly to oblivion.</p>
<p>The noise caught the attention of Ray, who was in his bedroom changing into some comfortable clothes after coming home from work. Karen had been so into her sex play that she hadn&#8217;t heard him come in, and at that point, she probably wouldn&#8217;t have cared if she had. Ray perked up when he heard what was going on in the next bedroom. He had discovered sometime in his early teens that the way the air conditioner vents were placed between the two bedrooms made it easy for him to hear whatever was happening next door. If he sat in his closet, it was almost like he was in the same room with his mom, and he had spent many a night on his stool, stroking his cock while listening to Karen masturbate. He knew she had a high sex drive and that she had sworn off other men for him. It was one of the many things he loved about his mom.</p>
<p>Usually, though, Karen masturbated at night, before she went to sleep, so it was highly unusual &#8211; a real treat &#8211; for her to be fucking herself here when it was still light outside. Ray could feel his cock swell as he listened to the gasps and moans his mother made as she worked herself over. He slid his boxer shorts off and stood naked by his closet, softly stroking his stiff cock. Continuing to jack himself lightly, he went to his drawer, reached in and pulled out his trusty pair of panties. He got a tremendous thrill out of using his mom&#8217;s panties for this purpose, not to mention the feeling of the satiny cloth on his cock. Reaching into the drawer of his night stand, he pulled out a little baby oil and poured some on the base of his cock and began working it up and down the shaft, simulating the feeling of Karen&#8217;s juices around his cock. Then he moved his stool into the closet, laid a towel on the floor in front of him, sat down and began to stroke himself with purpose.</p>
<p>Karen&#8217;s calves had started to ache from being in the squatting position for so long, so she stood up, keeping the dildo firmly embedded in her pussy, and lay back on the bed. Now she began to fuck herself in earnest as her climax began to quicken.</p>
<p>&#8220;Oh baby, baby, baby,&#8221; she moaned. &#8220;Mmmmmmmmm. Fuck me with your beautiful cock. I want to feel you fill me. Ummm, ahhhh, yeeaaaahh<br />
Ray&#8217;s fist was moving briskly, but not too fast, over his purple boner as he listened to his mother&#8217;s sexy patter. God, I wish that was my cock fucking that pussy, he thought. He looked down at his cock and he knew he could please her with it. It wasn&#8217;t too long, but big enough, maybe 6 1/2-7 inches, and thick, but not fat, with a classicly-proportioned helmet and the shaft was criss-crossed with very prominent veins. He believed that it was the perfect size and shape for Karen&#8217;s petite physique, and he ached to feel it enter her forbidden depths.</p>
<p>Karen&#8217;s pussy lips were just prominent enough to stick out from her mound, offering something like a gate to her pleasure core. And when she had something between them, they gripped almost like a fist,which had left all of her boyfriends weak in the knees when they fucked her. And now she was brazenly imagining that it was her son who was getting that treatment, and the wickedness of the thought spurred her arousal higher and higher. As she approached her orgasm, the dildo was churning faster and faster in her cunt, making obscene squishing noises as she fucked herself with abandon. A series of high-pitched cries burst from her mouth, the pitch getting higher the closer she came to her climax.</p>
<p>Suddenly, she gave an ear-splitting shreak and caught her breath. For a split second she hung on the precipice, then, with a thudding groan, her body went into convulsions as a massive orgasm swept her body from head to toe. For long, agonizing seconds, she came hard on the rubber dong, and she felt the juices of her orgasm pour out over her hand.</p>
<p>As he heard the telltale sound of Karen&#8217;s orgasm, Ray stroked himself harder and harder, feeling the tingle in his balls that signalled his own orgasm had reached the point of no return. With a soft gasp, he stroked hard a final time then watched in awe as his cock spewed out several long arcs of cum onto the towel in front of him. The first shot flew nearly three feet in the air and next several shots went almost as far, until the bursts subsided and the rest of his cum flowed out over his fist. His body shook as he squeezed out the final few drops of semen, then he shook his cock a couple of times and stood up on shaky legs to finish cleaning up.</p>
<p>Karen lay back stunned on her bed as the afterglow of her orgasm shone over her sweaty body. It had been a long time since she cum that intensely, and she knew it was from the idea of fucking her own son. Suddenly, she started as she heard movement in Ray&#8217;s room and realized that he was home, and had probably been home for awhile. What had he heard? Then a slow, almost evil smile played across her face as she realized that she didn&#8217;t care if he&#8217;d heard her or not. For sometime during her frantic self-fuck session, she&#8217;d made up her mind. She was going to do it. She was going to let her son fuck her, to hell with the taboo. She needed a man, and he needed a woman. He loved her and wanted her that way, and she knew now that she loved him and wanted him the same way.</p>
<p>Ray threw on a pair of gym shorts and a tank top and headed for the kitchen to scramble up something to eat, nearly bumping into Karen as she emerged from her bedroom. He couldn&#8217;t help but notice that she was still a little flushed, that her hair was tousled and that she smelled of sex. And he certainly noticed that his mother hadn&#8217;t bothered to put on a bra, from the way her nipples were poking through the material of her t-shirt.</p>
<p>Karen had long known that men liked to see women in t-shirts without a bra, and she figured Ray was no different. Truthfully, bras for Karen were mostly for ornamentation, modesty or to keep her nipples from becoming irritated, especially when she ran. She certainly didn&#8217;t need them for support, since her breasts sat up high and proud in her chest with only a minimum of curve.</p>
<p>Not finding much in the refridgerator, they decided to have pizza delivered, and they sat at the table discussing various subjects. But Karen avoided any mention of what she had found earlier that day. She still had some emotional reservations about that, and didn&#8217;t want to tip her hand just yet. For his part, Ray was pleased to see that whatever had been bothering his mom earlier had dissipated, and that she was back to her old self.</p>
<p>As they worked together in the small kitchen cleaning up after eating, Ray found himself, for at least the thousandth time, sorely tempted to simply take his mom in arms and make his feelings known, but as usual he resisted the urge.</p>
<p>After getting her lunch ready for the next day, Karen kissed Ray on the cheek, the way she always did, and was in bed by 9:30. But it took her awhile to fall asleep. She was strangely excited, as if she was about to embark on an adventure. She still had doubts in her mind about it, but the prospect of doing something so forbidden &#8211; not to mention the chance that she was going to get laid after so long &#8211; thrilled her to the core. Finally, she reached between her legs and briskly masturbated to a quick climax and fell asleep thinking positively wicked thoughts.</p>
<p>Ray waited until he was sure Karen was retired before slipping into the bedroom they used as the office, so to speak. He sat down at the computer, booted up and fished around some before calling up his special folder. It didn&#8217;t take him long to figure out that someone else had been in his folder. With mounting horror, he called up the log that recorded when each file had been opened and closed, and when he did, he groaned.</p>
<p>&#8220;Oh shit,&#8221; he said aloud. &#8220;I&#8217;m fucked.&#8221;</p>
<p>There was only one person who could have been on their computer and looked at his folder, and that was his mom. Ray quickly ascertained that Karen had looked at just about all of the stories he&#8217;d had filed away, including what he called his manifesto, where he detailed exactly what he wanted to do to her. It was obvious that his mother had found his folder, figured out a way in and had seen everything he&#8217;d put in there, the pictures, the stories, the poems.</p>
<p>Then it dawned on him that if Karen had been shocked or upset by what she&#8217;d discovered, she&#8217;d have confronted him. She&#8217;d have been angry and would have caused a big scene.</p>
<p>No, he thought, as a smile slowly played across his face, she&#8217;d done what? She&#8217;d gone to bed in the middle of the afternoon and fucked herself silly, climaxing in the loudest, most explosive orgasm he could remember her having. She had come out without cleaning up and dressed in a tight t-shirt with no bra, her taut nipples straining the cloth of her shirt.. She&#8217;d been her old self, sweet, friendly, talkative, not like she&#8217;d been the day before and earlier that morning.</p>
<p>Was it possible that, far from being shocked and angry, that Karen had been turned on by what she&#8217;d found? Could it be that she might actually consider letting him fuck her? Ray&#8217;s cock began to swell in his shorts as he realized for the first time that his most cherished fantasy, his fondest dream, might come true.</p>
<p>Then he forced himself to face stern reality. Fantasy it might be, but in the real world, mothers didn&#8217;t let their sons fuck them. Still, he resolved to stay off the computer and keep his hands off his dick in case something did happen in the near future. He would bide his time, watch his mom carefully and see where things went.</p>
<p>Nothing was said by either Karen or Ray through the next week, but they both felt a charge in the air. Early on Monday morning, when they took their daily run, Karen watched Ray out of the corner of her eyes, and, sure enough, his gaze did seem to linger on her butt as she ran. And occasionally, she&#8217;d lag back a little and admire the way her son&#8217;s butt moved as he ran.</p>
<p>Karen also took a practical step early in the week when she contacted her gynocologist about birth-control pills. She wanted to take no chances that she&#8217;d come up pregnant by her son. Then on Wednesday, as they ate dinner, Karen looked across the table at Ray and asked if he had any plans for Saturday night.</p>
<p>&#8220;No, I don&#8217;t,&#8221; he replied. &#8220;I get off at 5 and I&#8217;m off Sunday. Why?&#8221;</p>
<p>&#8220;I just thought you might like to go out to dinner,&#8221; Karen said. &#8220;I mean really get dressed up and have kind of a romantic evening. Neither one of us has had a date in so long we&#8217;ve probably forgotten what it&#8217;s like.&#8221;</p>
<p>Ray kept a poker face, even when Karen suggessted they go to one of the city&#8217;s finest restaurants, a four-star establishment reknowned for its cozy, intimate atmosphere. Inside, though, his stomach was doing cartwheels. He couldn&#8217;t believe that after all this time that his dreams might be coming true.</p>
<p>Karen, too, was excited. She&#8217;d thought about it, and realized that deep down she&#8217;d always wanted this. It was why she&#8217;d given up dating, why she&#8217;d devoted as much time as she could to her son. Other men, especially her ex-husband, had disappointed her, used her for their own purposes, then discarded her. Well here was one man who wouldn&#8217;t let her down, who was as devoted to her as she was devoted to him. Ray would treat her right, treat her like the lady she knew she was.</p>
<p>Karen took a half-day off on Friday to do some shopping. She wanted to dress to impress. She had always been frugal with her money, and had saved well, so she had the means to splurge for this event. When Saturday rolled around, she could hardly contain her excitement. She started geting ready in the mid-afternoon, starting with a long, leisurely bath. She used an entire small bottle of bath oil to make sure her skin was baby-smooth and lightly scented. She washed and conditioned her raven hair, carefully shaved her legs, under her arms, then trimmed back her thick, dark bush. On impulse, she decided to shave her lips and around her mound. She was hot as a piston by the time she finished, and had to finger herself to a quick orgasm to take the edge off her arousal. It helped, but she was still trembling with desire when she emerged from the tub.</p>
<p>She heard Ray come in about 4 and heard the shower in the other bathroom going as he started getting ready. For just a moment, she was tempted to just climb in there with him and get started right then, but she held herself back. She knew the waiting, the anticipation, would make it that much more special.</p>
<p>Once her hair was dry, Karen brushed it until it shone like polished obsidian, then carefully appplied her makeup. Most of the time, she went without wearing much makeup. At work, she tended to dress down, not wanting to attract as much attention to herself, and, frankly, with her complexion, she really didn&#8217;t need much anyway. But tonight, she laid it on, finishing with bright red lipstick. She also painted her toenails and fingernails, which she kept fairly long anyway, both in the same shade as her lipstick.</p>
<p>Then Karen moved to the bedroom and began to dress. She had bought a brand-new garter belt, stockings and a skimpy pair of thong panties. When she had those on she pulled out the new party dress she&#8217;d bought. It was a black two-piece ensemble of a satiny material, a snug skirt that stopped 2-3 inches above her knees and a somewhat looser top, with thin straps. Her best pair of high-heels an matching jewelry, earrings, necklace and bracelet completed her preparations. As she gazed at the mirror, turning this way and that, she felt a chill run up and down her spine. It wasn&#8217;t often she openly admired herself, being much too shy and modest for that . But she had to admit, that she looked pretty damn good, and she had a feeling that the man she wanted to impress tonight would be genuinely appreciative.</p>
<p>That proved to be an understatement. Ray&#8217;s jaw dropped and his eyes were like springs as he got his first look at his mother in her finery.</p>
<p>&#8220;God, Mom, you look great!&#8221; he whispered.</p>
<p>Karen just smiled airily as she passed her goggle-eyed son. She turned around to face him then bent over to retrieve her purse, which sat in the chair. In that position, Ray could see down the front of his mother&#8217;s top, and got a quick glimpse of her tits, unfettered as they were. Karen stood up and smiled sweetly at her son, the said, &#8220;let&#8217;s go, handsome.&#8221;</p>
<p>As they walked out to her sedan, Karen remarked on how nice Ray looked. He was wearing his best silk shirt, a pine color, with beige slacks, and loafers stylishly without socks. He was freshly shaved and had even put on after shave, something he rarely did.</p>
<p>Dinner was excellent, and they talked of many things, including Ray&#8217;s ambitions. He was looking to attend law school and become an attorney. He had been brought up hearing chapter and verse on how Karen had been wronged by a legal system that was stacked against her. It was one of the few things she ever got bitter about, and Ray felt a desire to work as an advocate for those in less fortunate circumstances.</p>
<p>They were having dessert and coffee when Karen grew silent, as if pondering something. Then she looked up at Ray and gave her son an even stare.</p>
<p>&#8220;Ray, I want to know something, and please be honest,&#8221; she said.</p>
<p>&#8220;Sure, Mom,&#8221; Ray answered, anticipating what he sensed was coming.</p>
<p>&#8220;How long have you wanted to fuck me?&#8221; Karen said.</p>
<p>Ray just looked down at his lap, at a loss for words.</p>
<p>&#8220;Ray, look at me,&#8221; Karen said, softly, but firmly, grabbing his hands in hers. &#8220;How long have you been fantasizing about me?&#8221;</p>
<p>Ray&#8217;s eyes were moist with emotion as he looked intently at his mother.</p>
<p>&#8220;Mom, I can&#8217;t remember ever not wanting you,&#8221; he said in almost a whisper. &#8220;You&#8217;re the sexiest, most beautiful woman in the world. You could have had any man you wanted, but you chose to give yourself to me. You sacrificed the best years of your life to be a mother and a father to me. Why would I not want you? You&#8217;re everything in world to me.&#8221;</p>
<p>There. It was out. He&#8217;d said what he&#8217;d always wanted to say to his mother, and he wasn&#8217;t going to say any more. She knew how he felt. He wanted her, badly, but he wasn&#8217;t going to beg.</p>
<p>Karen took his hands and brought them up to her lips and kissed them lightly. Her eyes were alive and her mouth was creased in a Mona Lisa smile.</p>
<p>&#8220;You beautiful boy,&#8221; she whispered. &#8220;My beautiful man.&#8221;</p>
<p>She gazed at him for a pregnant second then asked the question she&#8217;d been wanted to ask for a long time.</p>
<p>&#8220;Can I ask you a personal question?&#8221; she said. Then, without waiting for an answer she asked it. &#8220;Have you ever been with a woman before?&#8221;</p>
<p>Ray just shook his head. Now that eveything was on the table, he felt shy, almost inadequate. How could he have ever thought that he could please this seductive creature, this woman of the world? He&#8217;d seen the looks Karen had gotten from every man in the restaurant, indeed from every man they&#8217;d encountered that night. He&#8217;d seen, as well, the smirking looks some of the gave him, as if to say, &#8220;you can&#8217;t handle her. Let a man do the job.&#8221; Even the guy who parked their car at the valet parking looked at him with a sort of disdain.</p>
<p>But in the next instant, it all changed. Karen again brought his hands up and kissed them, more intently this time.</p>
<p>&#8220;Ray, please take me home and love me,&#8221; she whispered. &#8220;I need you. I want you. Ray, please, will you be my man?&#8221;</p>
<p>Ray felt his cock begin to grow like a jack-in-the-box, and a smile creased his face.</p>
<p>&#8220;Mom, I&#8217;ll be your man for as long as you want me to be,&#8221; he said happily. &#8220;I&#8217;ll always be yours.&#8221;</p>
<p>Karen smiled seductively at her son, her soon-to-be lover. They quickly paid the check, giving their waiter a generous tip, and left the restaurant hand-in-hand. When they reached the street, after calling for their car, Karen pulled Ray to her and they kissed, deeply, lovingly, a kiss of passion full of lips and tongues. They were still engrossed in each other when the valet pulled up with her car. Reluctantly, they broke their embrace and climbed in, Ray behind the wheel. As they drove off, Ray winked at the valet, who stood there with an astonished look on his face.</p>
<p>Once they were settled in the car, Karen slid over next to her son. She ran a hand up the inside of his thigh to the telltale bulge in his pants that spoke of his dire need.</p>
<p>&#8220;Ummm, this feels nice,&#8221; she cooed. &#8220;Mind if he comes out to play?&#8221;</p>
<p>Karen didn&#8217;t wait for an answer. She had been sitting on simmer for so long, she couldn&#8217;t stand it. If she could have, she&#8217;d have jumped Ray&#8217;s bones right then. Instead, she settled for unzipping his slacks, reaching into his boxers and pulling out his already-throbbing cock. She softly stroked it and watched in rapture as a ball of pre-cum oozed out from the tip. With her thumb, she lightly spread the natural lube around the head, then went back for more. The next ball of fluid that came out of Ray&#8217;s cock, she scooped up with the nail of her index finger and brought it to her crimson lips. Her tongue flicked out and licked the nail clean of the fluid.</p>
<p>&#8220;Mmmmm, tasty,&#8221; she said. &#8220;I think I&#8217;ll have some more.&#8221;</p>
<p>With that, Karen bent her head down into Ray&#8217;s lap and engulfed the head of his cock with her lips. Slowly she slid his purple boner into her mouth until it hit the back of her throat. Slowly, ever so slowly, so as not to make him cum too soon, she began to bob her head up and down, reveling in the feel and taste of his cock. It had been too long since she&#8217;d had a man in her mouth, and she knew she&#8217;d never go that long without one again. Karen sucked leisurely on Ray&#8217;s cock until he felt like he would cum if she continued.</p>
<p>&#8220;Mom, don&#8217;t make me cum yet,&#8221; he said through gritted teeth. &#8220;I&#8217;ve waited too long, you have too, to waste it like that.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, it wouldn&#8217;t be a waste,&#8221; Karen said as she sat up, smacking her lips as she did. &#8220;Believe me, it wouldn&#8217;t be a waste. And I am going to taste your cum before we&#8217;re through here. But you&#8217;re right. I want you in my pussy, and I want it bad.&#8221;</p>
<p>&#8220;How long has it been for you, Mom?&#8221; Ray asked, after they&#8217;d driven in silence for awhile.</p>
<p>&#8220;Too fucking long,&#8221; she replied. &#8220;Here, I&#8217;ll show you how long it&#8217;s been.&#8221;</p>
<p>She took his right hand and guided it up her left leg, under her skirt, up to her crotch. Ray didn&#8217;t need a map. His fingers found her soaking-wet thong and slid them inside, to her gushing cunt. He wasn&#8217;t a total stranger to pussy; he&#8217;d made it that far with a couple of girlfriends he&#8217;d had in high school, and he&#8217;d read enough to know how to use his fingers on a woman. He quickly found Karen&#8217;s clit and lightly rubbed it with his middle finger, then slid it down between her lips, which he parted en route to her fuckhole. Karen groaned as Ray slid his finger in as far as the second knuckle and began to work it around slightly.</p>
<p>Karen pressed herself to her son&#8217;s side as her hips began to rock to the tune Ray was playing in her panties. She could feel a monstrous orgasm building as Ray picked up the pace. All too soon, they found themselves in their neighborhood, at their driveway. As Ray parked the car and shut off the engine, they turned to each other again, and melded together, kissing furiously, necking like two teenagers at the submarine races. Karen realized after a few minutes that they&#8217;d better go into the house or else they&#8217;d arouse suspicion, and that was the last thing they needed.</p>
<p>Quickly, they pulled themselves together and climbed out of the car, headed for the front door. Karen&#8217;s hands trembled as she tried to put the key in the door. It took two tries before she got it open. They closed the door, and in the darkness, with just the late-rising moon for light, they embraced again, pressing their bodies together in furious, forbidden lust.</p>
<p>Karen&#8217;s eyes were dancing with an inner fire as she maneuvered Ray into the chair in their living room. She pulled the curtains together while he turned on the lamp next to the chair. She turned and looked at her son with a smoky look of pure passion. Ray had slipped his shoes off and he sat back to watch as his mother slowly strutted over to stand in front of him. Staring into his eyes, she slowly, seductively, pulled the top over her head and tossed it aside, revealing her naked breasts to his gaze for the first time. She lightly rolled her nipples between the thumb and forefinger of each hand, and felt the litle nubs stiffen in response. Reaching behind her, she unzipped her skirt and let it fall to the floor. She stepped out of it and tossed it off to the side.</p>
<p>&#8220;Go ahead and touch them,&#8221; Karen said softly as she bent over and began to unbutton Ray&#8217;s shirt. Ray captured her tits in each hand, and they were a perfect fit. He lightly squeezed the slight mounds and rolled the nipples around, and Karen couldn&#8217;t prevent a low moan from escaping her lips. She loved to have her nipples played with; it was like a straight line from her nipples to her crotch, and she could feel the juices flowing with each touch.</p>
<p>Karen finished unbuttoning Ray&#8217;s shirt, pulled it off and added it to the growing pile of clothes on the floor. She lightly raked her nails across his chest, feeling his nipples jut out in much the same way hers were. Squatting down, she moved her hands to his belt, opened it, unhooked his slacks and pulled them off. Ray&#8217;s rock-hard dick poked out through the hole in his boxers, an angry reddish-purple color. Ray&#8217;s boxers quickly joined the rest of the clothes on the floor, then Karen stood up and spent long seconds admiring her beautiful son.</p>
<p>&#8220;You have a beautiful body,&#8221; Karen whispered. &#8220;You should be proud.&#8221;</p>
<p>And she meant it. He was not muscle-bound, but he was trim and fit, with a light dusting of hair on his chest, and a cock that looked to be just about perfect. Karen was shaking with need as she slid her fingers into the sides of her panties and slowly slid them down her legs, giving Ray his first look at the place from which he&#8217;d come 19 years earlier. He was mesmerized as Karen kicked her panties to the side.</p>
<p>&#8220;You just sit back and let Mama do the work,&#8221; Karen said in a voice thick with lust.</p>
<p>She climbed onto the chair, straddling Ray&#8217;s body at the waist. She bent down and kissed him with a consuming passion as she felt his urgent cock slide between the crack of her ass. Rythmically, Karen rubbed his cock with her butt, thrilling as it jerked in response.</p>
<p>&#8220;It&#8217;s time to fuck me, baby, &#8221; she breathed. &#8220;Come to Mama.&#8221;</p>
<p>Karen sat up, lifted her hips up from Ray&#8217;s waist and grabbed his cock at the base. She rubbed the head of his dick several times between her lips, then slowly fit it into her hole. Almost as one, Karen slid her pussy down Ray&#8217;s shaft as he pushed upward with his hips. A long, loud mutual groan burst from their lips at this first incestuous union of mother and son. As long as lived, Ray knew he would never forget this moment, the moment when all of his dreams became reality, when his cock first entered his mother&#8217;s steaming-hot pussy.</p>
<p>They started slowly at first, becoming accustomed to the almost shocking feeling of their mating. As Ray had known all along, his cock was a perfect fit in Karen&#8217;s pussy. He bottomed out just at the point when their pubic bushes meshed. Karen noticed it too. Ray&#8217;s cock was absolutely perfect. Any bigger and it would have been too much. It was just right, and she suddenly threw her head back and laughed as she began to work her pussy up and down on Ray&#8217;s upthrusting dick. Ray may have been a virgin up to that moment, but he knew instintively what to do, and he grabbed Karen&#8217;s hips in an effort to control her pace.</p>
<p>&#8220;Ummmmm, baby, you&#8217;re great,&#8221; Karen exclaimed. &#8220;Fuck me like you always wanted to, baby. Let yourself go.&#8221;</p>
<p>&#8220;Unnnnnhhhh, Ggggggod, it&#8217;s too much,&#8221; Ray said as he fought to maintain control. &#8220;Oh, Mom, it&#8217;s everything I&#8217;d hoped it would be.&#8221;</p>
<p>Karen closed her eyes and let the climactic feelings build and build through her body. She was sitting on the verge of one of the queen cums of her entire life, and she was more than ready. She moaned heavily and shook her head from side to side as she worked herself up and down on her son&#8217;s wonderful cock. Faster and faster, she slid her juicy cunt back and forth, up and down, feeling the rush as Ray&#8217;s cock began to twitch in the telltale sign of imminent explosion. She&#8217;d known they&#8217;d been holding back too much passion for this to be anything but a fast and furious fuck. They&#8217;d make love later. This was just pure animal passion from two people who had deprived themselves of pleasure for too long.</p>
<p>Ray&#8217;s eyes were squeezed shut as he held off as long as he could. He could tell from the wild sounds Karen was making that she was close, and he wanted to get there with her. His hips were like pistons as he drove his cock harder and faster up his mother&#8217;s gushing cunt.</p>
<p>Karen could feel it coming, coming, coming, and her high-pitched yips got louder and shriller as she hit the top of the mountain. And just as she did, she felt Ray&#8217;s cock balloon slightly, then explode in a geyser of molten-hot cum. He spewed some dozen hard, rapid-fire bursts of jizz straight into her womb, and as she felt him cum, she convulsed in a full-body orgasm that dwarfed anything she could remember having in all the years of sex she&#8217;d had. She squealed and gasped as she came and came, and Ray gasped and grunted as he continued to squeeze out little mini-bursts of cum. For long minutes, mother and son held each other in a love grip as their sweaty bodies shook from the climax that washed over them.</p>
<p>They were still twitching when Karen finally opened her eyes and gazed down at Ray, who had the most blissful expression on his face. She gave a throaty laugh, and he joined her as they toasted the consummation of their love.</p>
<p>&#8220;Oh baby, you were sensational,&#8221; Karen said as she bent down to kiss her baby, her beautiful boy who was now her lover. And what a lover! Ray had been everything she could have hoped he would be and more. They held each other tenderly, giving each other little kisses and licks as they basked in the afterglow of their first sexual encounter.</p>
<p>But she wanted more, much more, and judging from the way Ray&#8217;s cock was already beginning to stir again, she sensed that he wanted more, as well, and soon.</p>
<p>&#8220;C&#8217;mon, lover, let&#8217;s go to bed,&#8221; Karen whispered.</p>
<p>They stopped off in the kitchen for a much-needed glass of cool water, then headed back to Karen&#8217;s bedroom to continue their night.</p>
<p>Ray just stood in the doorway of his mother&#8217;s bedroom watching, with the light from the bedside table the only illumination, as Karen sat on the bed and pulled off her heels, which she&#8217;d kept on throughout their frantic fucking in the front room. She lifted her legs and gazed over at Ray as she unhooked her stockings and slowly rolled them off her legs.</p>
<p>Karen just laughed wantonly as she lay back on the bed, completely naked now. Ray walked over and lay down next to her and they molded their bodies together, kissing each other&#8217;s lips and licking at each other&#8217;s faces. Ray could feel another hard-on building, and this time he wanted to take his time. He wanted to consume this woman, mind, body and soul, the way he had always wanted. His hand slid between his mother&#8217;s legs and he stroked her bubbling cunt, and felt her breath quicken in response.</p>
<p>Ray ran his tongue down Karen&#8217;s neck, down to her tits, which sat up high and proud. He kissed, licked, sucked, even chewed a little on her stiff pink nipples, and Karen clutched the back of his head to hold him in place.</p>
<p>Gently, but firmly, Ray pulled his head away from Karen&#8217;s breasts and licked his way down her stomach, to her abdomen. Abruptly, he got up on his knees between his mother&#8217;s legs. Karen thought he was going to slip his cock into her again, but he surprised her by pulling her legs up by the backs of her knees and burying his face in her sodden pussy.</p>
<p>Karen squealed at the sudden assault, and from the jolts of pleasure that Ray&#8217;s mouth was administering. He slashed at her sloppy cunt with his tongue, sucking up as much of the tangy fluid as he could, and finishing with a flourish around her blood-engorged clit. Then he opened his mouth wide and vacuumed her entire opening, lips and all, into his mouth almost like he was sucking a small cock, then pursed his lips and sucked what was left of their commingled juice into his mouth and down his throat.</p>
<p>&#8220;You nasty boy,&#8221; Karen panted delightedly. &#8220;Ohhhhh yeeeaaaaahh! Eat Mama&#8217;s pussy, baby.&#8221;</p>
<p>This was something no other lover had ever done to her before, and it sent her arousal soaring into the stratosphere. The other men she&#8217;d had, especially her ex-husband, would have been grossed out by the idea of eating her pussy after they had cum in it. But it just seemed like the logical thing to do, Ray figured, and as far as he was concerned, it tasted like ambrosia.</p>
<p>Karen&#8217;s whole body was on fire as Ray ate her pussy with a vigor bordering on glee. She couldn&#8217;t believe how original, how wildly inventive, her virgin son was proving to be as a lover. But while Ray may have been a virgin as far as actual sexual experience was concerned, he was well-read, and he had studied the ways to please a woman, in the hopes that someday he might be allowed to do exactly what he was doing at that very moment. He ate his mother&#8217;s pussy like a pro, spearing her hole with his tongue, lapping at her lips and sucking hard at her clit with his lips.</p>
<p>Karen could feel another tremendous orgasm coming to a head, and she didn&#8217;t bother to stop it, because she knew more were right around the corner. Her body jerked like she&#8217;d been shocked, her back arched and she cried out wildly in her passion. Ray just kept right on feasting on the copious flow of juice that gushed from his mother&#8217;s cunt as she came.</p>
<p>Ray&#8217;s cock was still only semi-soft, so Karen pulled lightly on his hair, to give her sensitive cunt a few minutes to rest and to get him up where she could return the favor. Ray straddled his mom&#8217;s chest and held his cock out for her to suck, and she didn&#8217;t mess around. She lifted her head and slid the wet head of his cock between her lips and began to work about half his length back and forth in her hot mouth. Her tongue was playing brisk arpeggios around the shaft and under the crown as she sucked him up to a full hard-on.</p>
<p>Ray let her suck on his cock just long enough for him to get fully-engorged, then he ripped it out of her mouth and slid down her body until he was once again on his knees between his mother&#8217;s wide-splayed legs. Karen had her left hand around his back and with her right hand she motioned silently for him to come on in. Ray gripped his cock at the base and slid the head past Karen&#8217;s gates and pushed it home in one screaming thrust.</p>
<p>Cries and gasps of pleasure filled the bedroom as Ray quickly got up to ramming speed. He propped himself on his hands as he methodically drilled his cock in his mother&#8217;s spastic slot. Karen locked her legs around Ray&#8217;s waist and rolled her hips around, up and down in an equally methodical motion as another orgasm quickly build up speed. Her raven hair thashed on the pillow as she shook her head from side to side, speechless from the intensity of their union.</p>
<p>Without warning, her climax burst through her body like fireworks, and she emitted unintelligible sounds and beat her fists on her son&#8217;s back as it washed over her. But Ray just kept right on fucking her in measured strokes, oblivious to her orgasmic convulsions. He was gaining confidence with every plunge of his iron rod in his mother&#8217;s trembling pussy. He knew he was in the process of taming a woman that no other man, not even his detested father, had been able to master. He wrapped his arms around Karen&#8217;s sweaty body, leaned down and locked his lips on hers. They kissed frantically, wantonly, then Ray pulled his lips away, but kept his face right up to his mother&#8217;s.</p>
<p>&#8220;You&#8217;re loving this, aren&#8217;t you,&#8221; he panted as he nibbled on her neck. &#8220;You love having your son&#8217;s hot cock fucking the hell out of you.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh God, yes, yes, yessssss!&#8221; Karen cried in response. &#8220;C&#8217;mon, baby, be a mother fucker, Be MY mother fucker. Don&#8217;t ever stop fucking me! I want you every way, always. You can have all of me, any time you want, just keep&#8230; on&#8230; fuuuucking &#8230; meeee.&#8221;</p>
<p>Even as Karen spit out her words, yet another orgasm exploded in her spasming cunt, and another one was right on the heels of it. Her mind was blown as she found herself in the land of multiple orgasms, a place she&#8217;d never been before. They just kept on exploding like a string of firecrackers that&#8217;s been lit all at once.</p>
<p>At long last, Ray could feel the tingle in his balls that told him he was almost there. He couldn&#8217;t believe the sensation of his mother&#8217;s pussy as it gripped his cock with each climactic burst.. He pulled himself up on his knees, picked up Karen&#8217;s ankles and bent her legs back as far as they could go, until her knees were pressed against her breasts, and let himself go. He fucked his mom with utter abandon, jackhammering her pussy harder and faster as he felt the tingle grow in his scrotum until he saw dark spots behind his eyes.</p>
<p>Ray gave a choking sound as he felt his balls suddenly contract, and then with a long groan, he emptied himself in the deepest reaches of Karen&#8217;s twitching twat. He scalded her womb with seemingly-endless jets of white-hot cum and he slumped onto the backs of Karen&#8217;s thighs as he continued to spit out bolts of semen, long after the initial rush had passed.</p>
<p>Karen, too, saw stars as her climax reached a crescendo and her nails dug little arcs into her son&#8217;s back as she thrashed on the bed underneath him. Finally, their mutual orgasm began to ebb, and Ray let go of his mother&#8217;s legs and slid off to the side, utterly drained. Mother and son wrapped themselves in each other&#8217;s arms as a peaceful sleep began to descend on them.</p>
<p>Ray awoke from a pleasant dream lying on his side with a king-sized erection wedged between his mother&#8217;s legs. Glancing over Karen&#8217;s shoulder, he saw the time was a little after 4 a.m., and a bright shaft of moonlight shone through a gap in the curtain over the bedroom window and reflectied off her jet-black hair. He gazed in wonder at his mom&#8217;s sleeping figure, listened to her soft, rhythmic breathing. He still had trouble believing that he was there, lying next to his sexy mom after a night of passionate lovemaking.</p>
<p>The very thought sent a spark through his body, and like it had a mind of its own, the head of his cock slid past the folds of her pussy. With a subtle flexing of his hips, he pushed his dick all the way in, emitting a soft groan as he entered. Karen&#8217;s pussy was still wet and hot from earlier, and it readily accepted his throbbing-hard member. Instinctively, her hips humped back in acknowledgment as Ray slowly began to fuck his mother in the spoon position.</p>
<p>At first, Karen thought she was dreaming, but as Ray&#8217;s thrusts became a little more insistent, she emerged groggily from her slumber, and groaned softly at the delightful feeling of a man &#8211; her man &#8211; fucking her once again. Ray&#8217;s left hand was wrapped around Karen&#8217;s side and he squeezed her left tit as he slowly fucked his cock back and forth in her soupy cunt. He buried his nose in his mother&#8217;s hair and inhaled her essence, then licked the back of her neck and around to her ear, getting a welcoming squeal in response.</p>
<p>&#8220;Mmmmmmmmm, nice,&#8221; Karen said sleepily. &#8220;This is the best way to wake up, with my hard man giving me his cock. Ummmmmmm.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh Mom, I love you so much,&#8221; Ray said with feeling. &#8220;You&#8217;re sooo hot.&#8221;</p>
<p>Just then, his cock slipped out of Karen&#8217;s pussy and the head brushed up against her anal opening. Ray rubbed his cock across her asshole, and Karen purred wantonly as her arousal began to mount. Ray took advantage of the respite to climb up off the bed, onto his knees, and pulled Karen onto her stomach, then picked up her hips. Karen kept her face and breasts on the bed, but lifted her butt into the air to give her son easier access from behind. Ray took the hint and pushed his cock back into her, quickly establishing a steady fucking motion.</p>
<p>As he slowly, but steadily fucked his mother from behind, he couldn&#8217;t help but notice her pink asshole winking up at him as if in invitation. Licking a finger, he rimmed the already-wet hole then pushed it in past the second knuckle. Karen growled wantonly as Ray began to slowly finger-fuck her ass in time with his thrusts in her pussy.</p>
<p>&#8220;Oh my,&#8221; she gasped. &#8220;You really are a dirty little boy. You wanna fuck Mama&#8217;s ass? Do you? I&#8217;ll bet you didn&#8217;t know that your Mama loves getting her ass fucked.&#8221;</p>
<p>Ray just grunted and kept a steady pace in Karen&#8217;s cunt. Without breaking their union, Karen reached over to the bedside table, opened the drawer and pulled out a tube of KY Jelly. She handed it to Ray and told him to, &#8220;get me all slicked up and open, then fuck my ass with everything you&#8217;ve got.&#8221;</p>
<p>Ray always obeyed his mother, so he pulled his finger out of her backside, squeezed out a generous strip of lube onto a pair of fingers and rubbed them around the anal ring then slid one finger back in. He kept one hand on Karen&#8217;s hip as he leisurely fucked her pussy and kept the other busy in her ass. Soon, the one finger was joined by a second and he spent several minutes briskly finger-fucking Karen&#8217;s butt, as her moans of pleasure swelled. When he had three fingers moving back and forth in her ass, Ray knew she was just about ready.</p>
<p>&#8220;OK, Mom, you asked for it, here it comes,&#8221; he said through clenched teeth. He pulled his hand out of Karen&#8217;s ass, then pulled his cock from her dripping cunt. With the lubed hand, he jacked his cock several times, getting it all slick and shiny, while Karen reached back with both hands and spread her butt cheeks, which had the effect of opening her hole a little wider as if to give him a better target. Ray watched the lewd display for a minute or two, then pressed the head to her puckered opening and pushed slowly forward.</p>
<p>Karen released her butt and filled her hands with the sheet, and clenched her eyes shut as she felt the pressure on her ass. Suddenly, the head of Ray&#8217;s cock broke through her tight ring and he slid slowly into her rectum. When he had about half of it in, Karen lunged backward and impaled herself the rest of the way on his rock-hard rod.</p>
<p>&#8220;Aaaaaarragh!&#8221; Karen wailed as she felt Ray&#8217;s dick invade her ass. It had been awhile since she&#8217;d put one of her toys up her butt, and it took a few seconds for her rectum to get used to the intrusion. But she knew it wouldn&#8217;t be long before she was experiencing pleasure extreme from the feeling of being filled in the ass.</p>
<p>Ray gasped as his mother&#8217;s velvety rectum molded itself around his burning cock. He never could have imagined just how hot and tight a woman&#8217;s ass could be, and he had to fight off the urge to explode just from the first contact of his cock with the most private part of her body.</p>
<p>He gripped Karen&#8217;s hips as well as he could with his slippery hands and worked her asshole over his throbbing cock. He quickly established a steady pace pumping his dick like an oil derrick, sending hot flashes of pleasure up and down his mother&#8217;s body.</p>
<p>Karen moaned and gasped as she wallowed in the feeling of having a live cock in her ass for the first time in many, many years. She had been introduced to anal sex early on, and it was one of her guilty pleasures.</p>
<p>&#8220;Ahhhhh, God, it&#8230; feels&#8230; sooooo&#8230; gooooood,&#8221; Karen wailed. &#8220;I looooovvvve it sooooo much.&#8221;</p>
<p>Ray reached underneach his mom&#8217;s sweaty body and ran his hands lightly over her little titties, which jiggled lightly. Karen lifted her head and swished her long dark locks back, and felt the strands sticking to her skin. She reached under her straining body with a hand, found her obscenely-bloated clit and worked a finger furiously over the pulsing bud.</p>
<p>Mother and son humped in unison, in utter erotic abandon, giving themselves over to pleasure in a way they couldn&#8217;t have imagined just a few hours earlier. The intensity of their coupling took their breath away as they strained toward another mutual explosion.</p>
<p>Karen&#8217;s mind and body were wide awake now as she felt every nerve ending straining toward orgasmic relief. Ray, too, could feel it in his bones, at the base of his spine, where another huge load of cum was locked and loaded. Coos, cries, moans and groans &#8211; not to mention the steady squishing of Ray&#8217;s cock pistoning back and forth in Karen&#8217;s ass &#8211; filled the bedroom as the silver moon bathed them in a ghostly light.</p>
<p>Karen let her head drop onto her pillow, her eyes closed in reverie. She rubbed her nipples up and down on the crisp bed sheet, allowing the friction to send electric sparks of lust ripping through her body. Ray&#8217;s head was like a bobble-head doll as he fought for control.</p>
<p>&#8220;Uh, uh, uh,&#8221; he grunted. &#8220;I can&#8217;t hold it back any longer, Mom. I&#8217;m&#8230; gonna&#8230; cummmmmmm!&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh baby, go on, fuck my ass and fill me up,&#8221; Karen panted. &#8220;C&#8217;mon big boy! Shoot your cum! Do it! Do it! Do it!&#8221;</p>
<p>And he did. With a few final deep thrusts, Ray felt the cum boil from his balls, race through his shaft and explode out the end of his cock, bathing his mother&#8217;s bowels in hot semen. He felt like his entire insides were coming out the end of his dick as he completely let himself go.</p>
<p>Karen was right there with him, as her body was wracked by a megaton orgasm that shook her from head to toe. Cum cream covered her hand as she clawed at her pussy, trying to keep the sensations flowing as long as possible.</p>
<p>Ray just kept humping, even as they both slumped onto the bed, their bodies still twitching as their orgasms played themselves out. No words were necessary; they just fell asleep where they lay, exhausted, and Ray was already asleep before his wilted cock finally oozed from Karen&#8217;s widespread asshole.</p>
<p>This time, it was Karen who woke up first, a little after 11 that Sunday morning. The summer sun was shining through the window, washing over the bed in bright light. The brightness of the day matched her mood as she looked over at the sleeping love of her life, the man &#8211; and he was a man now &#8211; she&#8217;d always kept in her heart as her No. 1.</p>
<p>But now Ray was not only her son, her baby, her only child, but her lover. She knew incest was one of society&#8217;s most fundamental taboos, one of the most egregious sins, and in many contexts, that view was warranted. She could never have lived with herself if she&#8217;d done this even two years earlier, when Ray was 17. Now, however, he was an adult in her eyes, and capable of making an intelligent decision about what he wanted to do and who he wanted to do it with.</p>
<p>She got up to use the bathroom, and when she was finished, she looked at herself in the full-length mirror behind the bathroom door. Her hair was a tangled mess, stringy with dried sweat. Her entire body was sticky, also with layers of dried sweat. Her entire crotch was sore and was still gooey with what was left of Ray&#8217;s cum, and the insides of her thighs were caked with dried semen. Her breasts were pinkish from where they&#8217;d been groped, and her nipples were chafed from where she&#8217;d rubbed them vigorously on her sheet. She had a small hickey on her neck from where Ray had nipped at her in his passion. Her muscles ached from her exertions and she was still tired as could be.</p>
<p>Karen thought she&#8217;d never looked or felt better in her life.</p>
<p>Still wearing her stickiness, the filth of lovemaking, like a badge, she padded naked to the kitchen and made coffee. She was standing by the oven when she felt Ray&#8217;s presence behind her, and he wrapped his arms around her and hugged her close. Karen breathed a sigh of contentment as she leaned back into his arms.</p>
<p>&#8220;I love you, Mom,&#8221; Ray said.</p>
<p>&#8220;I love you, too, Ray-Ray,&#8221; Karen replied, using the pet name she had for him when he was a small child.</p>
<p>&#8220;Any regrets?&#8221; he asked.</p>
<p>&#8220;None whatsoever,&#8221; she answered. Then she turned around and kissed her son deeply, and she felt his cock stir yet again, starting to stiffen into her abdomen.</p>
<p>&#8220;My God,&#8221; she said when they broke their kiss. &#8220;I can&#8217;t believe you&#8217;ve got anything left in that thing after what you did to me last night.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hey, Mom, I&#8217;m 19,&#8221; Ray said in a laughing tone of voice. &#8220;Our powers of recuperation are legendary.&#8221;</p>
<p>&#8220;No doubt,&#8221; Karen said. &#8220;But let&#8217;s wait a little. I need coffee, a shower and something to eat. And then I have something special I want to do with him.&#8221;</p>
<p>She gave his cock a loving squeeze, then they sat at their square kitchen table and drank coffee. Ray threw on some shorts and retrieved the Sunday paper, and they sat naked drinking coffee and reading the paper. After they&#8217;d read the interesting sections of the paper, they decided to go back and take a bath, rather than a shower. They agreed that they wanted to kick back, relax and discuss some issues concerning the changed nature of their relationship.</p>
<p>The bath was indeed hot and relaxing, and they sat together soaking up the ambience and talking. In the harsh light of day, there were some decisions they needed to make about how to pursue what they hoped would be a long-term incestuous relationship. Karen had found what she&#8217;d always been searching for sexually and relationally, and she had no intention of giving him up. And Ray had achieved the fulfillment of all of his dreams. He had the sexiest, most beautiful, most perfect woman in the world and he knew there could be no other for him.</p>
<p>They would have to move, and soon. Ray had already been talking about accelerating his curriculum to graduate from community college in December, and he had gotten information on several colleges in the metro area, since at the time he had figured to be living there. Now, however, he would start looking further afield, maybe even out of state, to a quiet place where they could live openly as a couple without attracting much suspicion, someplace with a good law school. And they talked about the possibility of Karen attending college, since Ray&#8217;s birth had ended those plans nearly 20 years ago. So many possibilities had become open to them now that they had broken the barrier and become one.</p>
<p>As the water cooled, they got serious about bathing. Karen grabbed a rag and the soap and set about washing her lover clean of the remains of their lust. When she was finished, she instructed him to sit on the side of the tub. She spread his legs and sucked his cock into her mouth. Immediately, she felt it swell, and she quickly began to bob her head up and down on the rapidly-stiffening flesh. When he was fully hard, sucked him all the way, until her nose was mashed in his damp pubic hair, and felt his cock burrow into her throat. Three times she sucked him all the way in, then she pulled away and told him it was time for him to wash her.</p>
<p>&#8220;Jesus, Mom, where did you learn to suck a cock like that?&#8221; Ray said.</p>
<p>&#8220;Oh, here and there,&#8221; she replied.</p>
<p>Ray just nodded sardonically, and set about lovingly soaping up and rinsing his mother&#8217;s hot body. He also spend a lot of time shampooing her lustrous black hair, running his fingers through it as he massaged the shampoo and conditioner. He also spend some time soaping the inside of Karen&#8217;s pussy, and she lay back and let the orgiastic feelings begin to build.</p>
<p>But she stopped him before they went too far. She had definite plans for this afternoon, and she wanted to let her arousal simmer a little bit.</p>
<p>After finishing their bath, they decided to fix pancakes and bacon. Ray had a high time daubing pancake batter on his mom&#8217;s nipples and licking it off. There were few words as they ate, just smoldering looks of lust.</p>
<p>When they had cleared the dishes from the table and straightened up the kitchen, Karen instructed Ray to sit back down in thechair. His cock was already half-hard from anticipation of another round of love with his mom, and he was ready. Karen&#8217;s still-damp hair swayed in dark strands as walked over to stand in front of him. She stared at him for just a moment before kneeling down on the floor. She pulled open his legs and ran her hands between them, up the insides of his thighs to his cock, which twitched in respponse. She picked up his balls and cock in both hands and lightly massaged them, feeling the slick wetness of his pre-cum. She brought her face right up to his dick and whispered, as much to it as to Ray.</p>
<p>&#8220;I told you I wanted to taste your cum,&#8221; she said. &#8220;I want you to fill my belly with your hot cream.&#8221;</p>
<p>Karen started by licking the shaft of his cock like an ice cream cone, lapping it in up and down strokes as she held it up with her fist. Her tongue circled the head, under the crown, then back down the shaft. She laved his balls with her tongue, then sucked each one into her mouth lightly, as Ray threw his head back and groaned in ecstacy.</p>
<p>Back up the shaft she licked, up to the head, then she opened her mouth and let the head slip past her lips. She sucked just the head for a few seconds, then slowly drew him into her mouth. When he was about halfway in, the head of his cock encountered the entrance to his mother&#8217;s throat, but she just opened up and sucked him all the way in. Her lips pursed at the base of his cock as drool began to run out the corners of her mouth.</p>
<p>When she thought she was about to choke, she pulled her head back up and began to slowly work two-thirds of his cock rhythmically back and forth in her hot mouth. Her tongue rolled around the head and shaft as she worked him.</p>
<p>Karen&#8217;s eyes were half-shut as though she was lost in some ozone layer. And, in a sense, she was. As she lovingly sucked her son&#8217;s throbbing dick, it drove home just how much she enjoyed sucking a hard cock. Sucking cock had been her introduction to sex way back in her sophomore year of high school, when her first boyfriend came to the startling conclusion that the shy, but gorgeous brunette who rarely said boo in class had a nasty streak a mile wide. She&#8217;d offered to blow him in a futile effort to preserve her virginity as long she could.</p>
<p>Ray&#8217;s moans of pleasure brought her back to the present, and she looked up him with loving eyes as she filled her mouth with his meat. Every once in awhile, she&#8217;d plunge his whole length into her throat, but for now, she was content to work about half of him in her mouth.</p>
<p>Ray couldn&#8217;t believe the feeling of his mom&#8217;s talented mouth on his cock. There was no question that he was under the care of a woman who loved to suck cock. He grooved on how she looked up at him with her mouth full of his cock. It gave him an incredible feeling of power to know his mother worshipped his dick like that. Sloppy, rhythmic sounds wafted up from where Karen steadily worked his cock.</p>
<p>When she finally pulled her mouth off his cock and took several deep breaths, Ray just shook his head in wonder. After sliding Ray&#8217;s cock back into her mouth, Karen reached down with her free hand and began to strum her engorged clit with her middle finger. She wasn&#8217;t terribly concerned about getting herself off, but she did want to keep her fires banked. No, this was for Ray, strictly for his pleasure, his enjoyment. There would be times when she would expect similar treatment, but now was not the time.</p>
<p>Karen sucked on her son&#8217;s cock for a few more minutes, but she felt her knees starting to get sore, and she had an idea of how she could really give Ray a treat.</p>
<p>She stood up and pulled Ray up from the chair. She gave him a deep kiss, and Ray got a good taste of himself.</p>
<p>&#8220;I told you I want you to take me every way you can,&#8221; Karen said with an excited tone. &#8220;You ever hear of a skullfuck?&#8221;</p>
<p>Ray gave her a puzzled look and shook his head. Karen gave him a wicked smile.</p>
<p>&#8220;Watch this,&#8221; she said.</p>
<p>Karen climbed onto the kitchen table and laid down on her back. Ray&#8217;s eyes widened as he watched his sexy mom stretch herself on the table, which was covered by a tablecloth. Karen scooted back until her head was hanging off the edge then she reached back with her hands for Ray&#8217;s cock.</p>
<p>&#8220;Cmon, baby, fuck Mama&#8217;s mouth,&#8221; Karen purred. &#8220;Just treat me like a whore. Fuck my face and fill me with your cum.&#8221;</p>
<p>Ray stroked his wet cock, which looked like an iron bar. He walked over to where Karen&#8217;s head hung off the table and dangled his cock over her face. He rubbed the leaking head all over her face, her nose, eyes and over her lips and outstretched tongue, as Karen squealed with delight. Reaching up with her hands, she took Ray&#8217;s cock and guided it to her wide-open mouth. Her tongue lashed the head as Ray fed into into her mouth, and she kept licking as he slowly drove his cock past her mouth and into her throat.</p>
<p>Once he was in almost all the way, Ray pulled back then began to drive his cock back and forth in his mom&#8217;s throat. He felt a shiver run through his body as he watched Karen&#8217;s throat. He could actually see the outline of his cock as pumped in her throat. Faster and harder, he fucked his mom&#8217;s mouth, as a stream of drool flowed past her lips and down her chipmunk cheeks.</p>
<p>Karen could feel another blazing orgasm building and she spread her legs and began to furious work her cunt with her hands. Three fingers of one hand plunged frantically in her pussy, while her other hand mauled her clit and squeezed her labia. The lack of air created almost an intoxicating feeling in her body as sweat broke out all over. Muffled squeals that were equal parts lust and concern came from her ravaged throat.</p>
<p>Just for a moment, Ray pulled his cock from her mouth and let Karen gulp air into her lungs while he slapped her face with his cock and rubbed it all over her face.</p>
<p>Then he shoved it brutally back into her mouth, grabbed his mother&#8217;s head with both hands and resumed pounding her throat with his cock. And all the time he was giving her his best sexual patter.</p>
<p>&#8220;Aww yeah, suck it, Mom,&#8221; he growled, the beast in him having been unleashed. &#8220;You wanted it hard, well here it is. Take every bit of it, bitch.&#8221;</p>
<p>He could feel a hard stony load coming quickly to a boil, and he could tell that Karen was getting close as well from the way she was thrashing on the table and the way her hips were coming up to try to suck both her hands into her pussy. Gasping, Ray picked up his pace almost to a blur as he felt the tingle in his scrotum pass the point of control.</p>
<p>&#8220;Ah yeah, I&#8217;mmm cummmmmmmin&#8217;,&#8221; he wailed. And he felt a machine-gun burst of cum jet out the end of his cock she spew deep into his mother&#8217;s stomach. Karen swallowed frantically to get every drop as she tumbled off the cliff in a thrashing climax. She jerked and twitched as the ppowerful orgasm rocked her from head to toe.</p>
<p>Ray shot every bit of cum he had in his balls before he finally pulled his slowly wilting cock from his mom&#8217;s mouth. He staggered backward and practically fell into a chair, while Karen sucked in deep gulps of air, her chest heaving as she rolled her head onto the table and fought for some semblence of conciousness.</p>
<p>They just lay back where they were, stunned by the intensity of what they&#8217;d just done. When the madness passed from Ray&#8217;s mind, he felt a wave of remorse.</p>
<p>&#8220;Mom?&#8221; he asked in a small voice. &#8220;Are you OK? I&#8217;m sorry. I didn&#8217;t&#8230; I didn&#8217;t mean to hurt you. I don&#8217;t know what came over me.&#8221;</p>
<p>Karen looked over at her son and smiled wearily.</p>
<p>&#8220;Well, I&#8217;m not sure I want to see that side of you very often, but it&#8217;s OK,&#8221; she replied. &#8220;I did ask for it.&#8221;</p>
<p>Then she sat up and looked at her son who had become a man.</p>
<p>&#8220;I&#8217;ve changed you,&#8221; she said. &#8220;I can see how much you&#8217;ve grown just in the last few hours. You&#8217;re a man, my son, a real man, more man than anyone I&#8217;ve ever been with, and don&#8217;t ever want to let you go.&#8221;</p>
<p>And with that, she dropped off the table, beckoned for Ray to come with her and they strolled arm-in-arm back to her bedroom &#8211; their bedroom &#8211; for a well-deserved nap.</p>
<p>As they dozed off, they both knew they were going to have a good life together as lovers. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaindo.com/mommys-naked-love.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

