Cerita dewasa,bokep 3gp seks panas xxx seru

Cerita dewasa, Download bokep 3gp, gambar bugil, abg bugil, tante girang bugil, spg bugil, model telanjang.film bokep, bokep gratis, 3gp bokep, download film bokep gratis, cerita bokep, gambar bokep, bokep video,smu bugil.

Tika, Istri Gelapku

Kisah ini sengaja aku ceritakan buat teman-teman penggemar cerita porno, terutama bagi mereka yang suka memanfaatkan internet sebagai alat komunikasi. Banyak peristiwa yang bersejarah yang terlahir akibat kenalan lewat e-mail, seperti yang telah kubuktikan.

*****

Berawal ketika aku mendapat respon dari beberapa wanita yang sempat membaca kisah-kisahku pornoku, di antaranya seorang gadis muda yang masih mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kota Makassar. Usianya kutaksir maksimal 28 tahun. Namanya Tika (nama samaran). Dia sangat tertarik dengan kisahku dan ingin kenalan denganku lebih jauh, bahkan kami sepakat lewat e-mail untuk saling tukar pengalaman.

Saya masih ingat, waktu itu sekedar iseng membuka inbox emailku kalau-kalau ada email yang masuk. Tepatnya 4 Juni 2003, sebuah alamat email yang bertuliskan @yahoo.au di ujungnya, kucoba klik dan ternyata ia mengajakku kenalan. Akupun mencoba membalasnya sesuai janjiku pada setiap kisah porno yang kukirim, meskipun kalimatnya ala kadarnya yang penting tidak mengecewakan bagi pengirimnya. Apalagi namanya menunjukkan nama seorang wanita, sehingga pasti kuusahakan menyapanya. Hanya dalam tempo 24 jam kemudian, email itu kembali muncul di kotak emailku dan isinya menunjukkan ada keseriusan mau kenalan lebih jauh denganku. Akupun semakin menunjukkan keseriusan mau kenalan dengannya, apalagi setelah kuketahui kalau ia tinggal tidak terlalu jauh jaraknya dari kota tempat tinggalku. Kami hanya beda kota kabupaten, tapi ada dalam satu wilayah propinsi Sulsel.

Balas membalas email antara aku dan Tika boleh dibilang cukup lancar. Bayangkan saja sejak 4 Juni 2003 hingga saat ini, Tika tidak pernah alpa mengirim email padaku dan tentu saja sebaliknya aku tidak pernah alpa membalasnya secara otomatis pada saat itu juga. Sampai-sampai kami membuat kesepakatan untuk buka dan kirim email setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at (3x seminggu). Banyak pengalaman dan informasi yang kami tukar. Mulai dari asal usul, pengalaman sex, ciri-ciri dan keinginan sex kami masing-masing serta jadwal pertemuan kami di kota makassar. Bahkan kami saling menginformasikan mengenai alat sensitif kami secara jujur, yang akhirnya saya kirimkan foto berkat pengajaran dari Tika soal cara mengirim foto lewat email, sebab saat itu saya masih awam dalam hal kirim mengirim foto lewat email.

Tidak kurang dari 25 kali kami saling membalas email, hingga sampai puncaknya pada tanggal 7 Oktober 2003, di mana kami betul-betul serius mau melakukan pertemuan secara langsung dan sekaligus memperaktekkan tentang pengalaman dan kebutuhan sex kami masing-masing. Saya tidak pernah yakin kalau perkenalan lewat email itu bisa mempertemukan kami secara langsung, apalagi jarak antara kota saya dengan kota tempat tinggal Tika sekitar 200 km lebih. Namun kenyataan menunjukkan bahwa janji dan keinginan sex kami bukan hanya isapan jempol dan teori saja, melainkan kami betul-betul berhasil bertemu muka, bahkan melakukan praktek bersama di salah satu wisma di Makassar.

Bagi Tika mungkin tidak terlalu sulit menemukanku di terminal setelah kami janjian ketemu di salah satu tempat di kompleks terminal Panaikan sebab dia telah menerima fotoku lebih dahulu yang kukirim lewat email. Tapi bagiku menemukan orang yang belum pernah kulihat sebelumnya, apalagi ciri-cirinya tidak sempat menjelaskan secara rinci di emailnya, tentu sangat sulit, sebab selain aku belum banyak pengalaman di kota Makassar, termasuk di terminal Panaikan, juga terlalu banyak wanita muda yang berkeliaran, apalagi aku belum yakin 100% atas janjinya mau menemuiku di terminal itu. Tapi aku tetap bertekad untuk ke Makassar siapa tahu bisa jadi kenyataan, kalaupun ia permainkan aku, kuanggap hal itu sebagai pengalaman buatku.

Jam 7.00 pagi saya sudah naik mobil dan berangkat meninggalkan rumah tempat tinggalku menuju kota makassar dengan alasan sama istriku bahwa ada urusan bisnis penting selama sehari di Makassar agar ia izinkan aku berangkat. Namun karena berbagai hambatan diperjalanan, maka aku terlambat 1 jam tiba di terminal sebagaimana rencana yang kusampaikan Tika semula. Sebelum aku turun dari mobil tumpanganku, aku tiba-tiba gemetar dan merasa takut kalau-kalau dia lebih dahulu memperhatikanku dan aku juga diliputi rasa was-wasa jangan-jangan dia mau menjebakku dengan membawa pasukannya atau teman laki-lakinya ke terminal serta berbagai macam dugaan yang muncul dibenakku.

Mataku mulai membelalak sejak mobil belok ke kanan dan berhenti di depan loket pembayaran retribusi hingga memasuki pelataran parkir. Aku turun dan membayar sewa mobil sambil berusaha tersenyum sendirian dengan perasaan tidak menentu kalau-kalau dia telah memperhatikanku. Akibat konsetrasiku mencari seorang gadis muda yang sedang bingung mencari seseorang, maka hampir aku kecolongan memberi uang kepada orang lain yang tidak kukenal. Untung saja orang itu tidak segera mengambil uang yang kusodorkan itu, sebab ternyata yang kuserahkan sewa mobilku bukan sopir mobil itu, melainkan orang lain yang kebetulan mencari muatan buat mobilnya. Ini gara-gara terlalu gembira mau ketemu dengan seorang gadis yang belum tentu datang ke terminal itu, apalagi bodi dan ciri-ciri pakaiannya belum jelas sama sekali. Kejadian itu pasti tidak pernah terlupakan seumur hidupku.

Sekitar 20 m aku bolak balik dari pelataran paling bawah ke pelataran paling atas di terminal itu, bahkan hampir semua warung dan tempat duduk-duduk para penumpang bis aku intip tanpa ada rasa segan, meskipun aku tetap agak malu kalau-kalau ada penumpang dari kotaku asalku yang mengenal dan memperhatikanku, yang bisa saja melaporkan sikapku itu pada istriku nanti. Setelah capek keliling, akhirnya aku putuskan untuk masuk wartel lalu menghubungi HV-nya, sebab lewat emailku sebelumnya aku telah berpesan agar tidak dimatikan HV-nya hari itu.

“Halo, Tika yah? di mana kamu sekarang? aku ini ada di terminal mencarimu sejak tadi” demikian kata saya melalui telepon.
“Halo, betul ini Tika. Saya ada di kampus sekarang lagi makan siang ama teman-teman di warung kampus nih. Tunggu aja di situ yah, aku akan segera meluncur ke sana, tapi tepatnya kamu nunggu di mana yah?” itulah jawaban Tika saat itu seolah menunjukkan keseriusannya mau ketemu denganku.
“Oke sayang, aku akan setia menunggumu di depan wartel belakang pos pungutan retribusi masuk, sudah ngga tahan nih mau ketemu denganmu” demikian jawaban singkat saya saat itu.

Hampir setiap mobil, terutama petek-petek dan taxi kuamati isinya dan penumpang yang turun kalau-kalau ia naik kendaraan itu, meskipun sesekali juga kuperhatikan motor yang lewat jangan sampai ia naik motor. Hanya dalam waktu sekitar 20 menit kemudian, aku tiba-tiba mendengar suara panggilan dari sebelah kiri di mana aku duduk dengan sedikit tertahan, “Halo-halo, eh-eh,” ternyata suara itu adalah berasal dari seorang gadis muda yang sedang menjinjing tas mahasiswa, yang nampaknya diarahkan padaku.

Akupun segera berbalik ke arahnya, namun ia segera berjalan berputar di samping mobil yang ada di belakangku. Walaupun sedikit ragu, tapi keyakinanku lebih besar mencurigai kalau wanita itu adalah Tika yang sejak tadi aku tunggu, aku cari dan aku idam-idamkan selama ini. Sambil mengikuti langkah kakinya, getaran jantungku semakin dag dig dug, dan tiba-tiba ia membalikkan wajahnya sehingga kami berhadap-hadapan dan saling menatap sejenak di tengah-tengah keramaian penumpang yang ada di terminal itu, hanya 30 cm jaraknya.

“Kamu Aidit khan” katanya dengan suara yang lembut.
“Yah, dan kamu Tika khan” aku balik bertanya dengan mengarahkan telunjukku pada wajahnya sambil kami tersenyum.

Entah apa yang bergejolak di pikirannya saat itu, tapi yang jelas aku rasanya ingin langsung memeluk tubuhnya, untung segera kusadari kalau tempat ini dihuni oleh banyak orang, yang tidak mustahil ada yang mengenal kami. Tanpa banyak basa basi lagi, ia segera naik mobil petek-petek dan akupun segera mengikutinya bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya. Di dalam mobil, kami banyak membicarakan soal ketidakpercayaan kami atas pertemuan ini, bahkan pengakuannya ia sedikit agak kesal dan hampir putus asa menunggu sejak pukul 10.00 pagi tadi di terminal sesuai informasi yang telah kusampaikan, namun aku berkali-kali minta maaf atas keterlambatan tiba di terminal mobil yang kutumpangi itu.

Dari 2x pindah petek-petek menuju wisma yang telah ia janjikan dalam emailnya, kami tidak pernah kehabisan bahan bicara, bahkan kami duduk sangat rapat, sehingga anginpun sulit melewati perantaraan duduk kami. Tubuh kami seolah melengket pakai lem tanpa ada perasaan malu sedikit pun dari penumpang lainnya. Dalam hati saya biar mereka memperhatikan kami toh mereka tidak mengenal kami. Kami bagaikan suami isteri yang baru ketemu setelah sekian lamanya berpisah. Betul-betul saling melepaskan kerinduan. Sekitar 30 m dari wisma yang kami tuju, Tika tiba-tiba menghentikan mobil lalu turun dan akupun mengikutinya. Maklum aku belum banyak kenal kota Makassar. Meskipun aku tetap selalu berusaha untuk membayar sewa petek-petek setiap turun, tapi selalu saja Tika mendahuluiku atau aku kalah cepat membayarnya. Sebagai seorang pria, akupun merasa berat dan malu, tapi Tika nampaknya betul-betul mau membuktikan janjinya untuk memberikan layanan 100% jika aku datang menemuinya di Makassar.

Rencana pertemuan kami di kota Makassar betul-betul sudah sangat matang, sebab kami telah membeberkan kelemahan dan keterbatasan kami masing-masing lewat email, namun kami tetap saling berjanji akan menerima apa adanya, yang penting tujuan kami hanya satu yaitu saling memberi kepuasan sex sesuai kemampuan dan pengalaman serta keinginan kami masing-masing. Pekerjaan, keuangan dan penampilan, bahkan usia, kami telah sepakat untuk tidak mempersoalkannya. Demikian seriusnya Tika mau menyenangkan diriku, sehingga ia siap membantu membayar sewa kamar wismanya dan siap memberikan tubuhnya sepenuh hati buatku serta mengorbankan perasaannya demi kebahagiaanku nanti. Bahkan kami telah janjian untuk saling menjilati kemaluan dan mencukur bulunya sebelum pertemuan, sampai-sampai ia memberitahukan jadwal tamu bulanannya agar kedatanganku nanti tidak bertepatan agar ia dapat melayaniku 100%.

Sebelum kami masuk wisma tersebut, Tika menyempatkan diri membeli aqua besar untuk keperluan dalam kamar nanti. Entah buat minum atau apa saja yang membutuhkan air. Setelah membayarnya, Tika meminta aku membawa air itu dan apapaun rasanya diperintahkan oleh Tika saat itu pasti kuturuti karena keseriusannya melayaniku, padahal Tika adalah seorang gadis muda, mulus, berkulit putih dan menggairahkan bagiku, apalagi seorang mahasiswi. Sementara aku termasuk sudah setengah baya yang berkulit hitam dan keriput, punya istri dan 3 orang anak lagi. Siapa tidak bahagia dan mangga berteman, apalagi bercinta dengan wanita seperti Tika itu yang ikhlas berkorban untuk kesenangan aku.

“Tik, apa wisma ini cukup aman buat kita? dan apa selama ini ngga sering-sering dirazia oleh petugas?” tanya saya pada Tika saat kami barengan masuk pintu wisma itu sambil mengawasi di sekelilingnya.
“Ngga taulah, sebab baru satu kali aku ke sini sewaktu pacarku membawaku dengan tujuan yang sama sampai aku tahu tempat ini, dan itupun sudah lama” jawabnya sambil menceritakan soal peristiwa persenggamaannya dengan pacarnya tempo hari di wisma tersebut.
“Mudah-mudahan aja ngga terjadi apa yang kita khawatirkan” katanya lebih lanjut.

Selesai kami lihat tarif dan kamar yang kosong pada serlembar kertas di atas meja pelayanannya, Tikapun membuka dompetnya dan aku usulkan untuk gabung saja biar lebih ringan pembayarannya. Waktu itu, kami hanya membayar Rp. 55.000 untuk 6 jam, sebab nampaknya kamar lainnya penuh semua, dan kupikir 6 jam itu cukup lama buat kami yang tidak rencana menginap. Bisa kami selesaikan beberapa ronde.

Tepat pada jam 2.00 siang, kami telah masuk di wisma yang tidak perlu saya sebutkan namanya itu. Setelah kami bayar, kami lalu naik ke lantai dua mengikuti petugas wisma dan masuk ke sebuah kamar yang dilengkapi dengan air minum, kamar kecil, TV color 14 inc dan sprinbad yang cukup besar ukurannya. Setelah petugas keluar dari kamar, tinggallah kami berdua dalam kamar. Tika menutup dan mengunci rapat pintu kamarnya lalu menutup semua gorden, lalu masuk sebentar ke kamar kecil lalu berbaring di atas rosban dengan pakaian masih lengkap. Sedangkan aku terlebih juga lebih dahulu masuk kamar kecil buat buang air, lalu ikut berbaring disamping Tika. Sambil berbaring dengan pakaian masih lengkap, kami bincang- bicang dan saling mengutarakan rasa kerinduan kami selama ini. Tanpa aku sadar, tangan kananku sudah memeluk tubuh Tika dan Tikapun tampaknya tidak segan-segan lagi membalas pelukanku, sehingga kami saling berpelukan dalam keadaan berbaring menyamping.

“Aku sangat merindukanmu sayang, ingin sekali memelukmu” ucapanku sedikit berbisik ketika wajah kami sudah saling menyentuh sehingga napas kami sudah saling beradu.
“Aku juga sangat rindu padamu suamiku, mari kita lepaskan kerinduan kita” jawabnya sambil memasukkan lidahnya dalam mulutku, sehingga kami saling mengisap, saling bergumul dan memainkan lidah dalam mulut kami masing-masing.

Permainan mulut dan lidah kami berlangsung semakin rapat dan cukup lama, sampai kami merasa terengah-engah akibat kecapean mengisap. Bahkan aku lupa mandi sesuai kesepakatan kami semula ketika kami saling berhadap-hadapan di tempat tidur itu. Demikian serunya permainan mulut kami, sehingga tidak ingin rasanya ada istirahat sejenak dan melewatkan kesempatan sedetikpun dalam kamar itu mumpung masih sempat.

Sambil bermain lidah, saya mencoba memasukkan tangan kananku ke dalam baju kain Tika hingga masuk ke dalam BH-nya yang ukurannya cukup sederhana. Sebagai seorang gadis yang jam terbangnya dalam dunia sex masih cukup terbatas bila dibanding dengan jam terbangku, tentu ia tidak tahan lama dipermainkan payudaranya, apalagi saya remas-remas kedua payudaranya dengan lembut dan sesekali menindis-nindis putingnya yang mulai mengeras dan menonjol itu. Ia tidak mampu lagi sembunyikan kenikmatan yang ia rasakan dan terasa ia mulai terangsang, yang sangat kedengaran dari suaranya yang mengerang-erang kecil. Utungnya tidak ada orang yang dekat dengan kamar itu, sebab memang kamar itu berada dibagian paling depan dan disudut wisma sehingga kami leluasa bersuara agak keras sebagai tanda kenikmatan yang kami alami.

“Ngga mau mandi dulu Kak?” katanya mengingatkanku, karena kebetulan aku keringatan akibat perjalanan jauh dari daerah tadi.
“Nantilah, setelah kita bermain-main dulu, biar kita lebih lama bercumbu rayu” jawabku sambil tetap memainkan lidah ke dalam mulutnya dan meremas-remas teteknya yang montok itu. Namun karena ia nampaknya sudah sangat terangsang, ia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mengeluarkan lidahku dari dalam mulutnya lalu duduk sambil satu demi satu ia buka kancing bajunya hingga terlepas dari badannya. Aku hanya mampu menatap indahnya tubuh seorang gadis mahasiswi. Mulus dan putih, namun sedikit agak gemuk sebanding dengan gemuk tubuhku, meskipun ia sedikit pendek dari ukuran badanku. Warna kulit kami sangat kontras karena kulitnya putih sementara kulitku agak hitam.

Setelah ia melepaskan baju kain yang dikenakannya, ia lalu kembali berbaring. Akupun melepaskan baju lengan panjang yang kukenakan seperti halnya pagawai kantoran saja. Kami kembali berpelukan dan bergumul di atas kasur yang empuk. Kali ini aku menindihnya meskipun ia masih mengenakan BH warna putih, sementara aku masih mengenakan baju dalam. Namun hal itu tidak sampai bertahan lama, sebab aku tidak tahan lagi mau segera melihat isi dalam BH-nya, sehingga aku lepaskan kaitnya dari belakang lalu meremas-remas secara bebas dengan kedua tanganku, bahkan segera kujilati dan mengisap-isap putingnya yang agak bulat dan sedikit membesar. Sehingga ia kegirangan seolah ingin teriak ketika aku maju mundurkan mulutku pada putingnya, yang kedengaran bunyinya akibat air liurku yang membasahinya.

Tanpa aba-aba dari Tika, sayapun segera merosot rok panjang yang dikenakannya, lalu kugigit-gigit dan kutusuk-tusuk kemaluannya dari luar celana dalamnya. Dari luarnya menggambarkan kalau daging yang terbungkus CD-nya itu sangat montok dan kenyal serta sedikit mulai basah. Aku tak mampu lagi bertahan menjilatinya dari luar, sehingga aku segera saja menariknya keluar lewat kedua kakinya. Ternyata dugaanku benar, di antara selangkangan Tika terdapat seonggok daging yang cukup empuk dengan tonjolan daging mungil antara kedua belahannya Nampah warnanya agak kemerahan dan kulit disekelilingnya juga berwarna putih seolah baru saja dicukur bulu-bulunya sesuai permintaanku dalam emailku sebelum pertemuan. Kini Tika dalam keadaan bugil penuh sambil baring dengan merenggangkan kedua paha yang menjepit daging empuk itu.

Tanpa aku tatap lama-lama, aku segera menjulurkan lidahku menelusuri daging empuk yang terbelah dua itu. Nampaknya aku tidak terlalu sulit masukkan lidah ke lubang tengahnya itu, karena memang sudah beberapa kali ditusuk dan dimasuki benda tumpul alias kontol sebelum kami sebagaimana pengakuannya lebih dahulu padaku lewat emailnya bahwa ia telah beberapa kali berhubungan sex dengan pacarnya, namun tidak sampai memuaskannya. Semakin lama semakin kupercepat gocokan lidahku kedalam memeknya sehingga mengeluarkan bunyi seperti kucing yang menjilat air. Tika semakin histeris dan menggerak-gerakkan pinggulnya serta dia mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga ujungnya bersentuhan dengan bahunya sambil tetap merenggangkannya. Aku semakin leluasa memasukkan lidahku lebih dalam dan memutar-mutarnya sehingga terasa memek Tika semakin mengeluarkan cairan yang membasahi seluruh dinding lubang memeknya.

“Aduh.. Kak.. enak sekali Kak.. terus Kak.. aahh.. uhh.. mm..” hanya suara itulah yang berulang-ulang keluar dari mulut Tika ketika aku menggerak-gerakkan ujung lidahku pada lubang memeknya.
“Kamu merasa enak sayang? Bagaimana sekarang? Saya masukkan saja?” pertanyaan saya sambil kupermainkan lidahku dalam lubangnya.
“Auh.. hee, ohh.. ehh.. mm..” Suara itu semakin menaikkan rangsanganku sehingga akhirnya aku secara berturut-turut membuka celanaku satu demi satu dengan dibantu oleh Tika sampai tubuhku sudah telanjang bulat.

Kini kami saling bugil dan aku sedikit mundur persis di belakang pantatnya sambil berlutut dan mengarahkan ujung kontolku pada memek Tika yang sudah basah dan sedikit terbuka itu. Sebelum aku sempat menusukkan ujung penisku ke lubang memek Tika, Tika terlebih dahulu meremas dan mengocok-gocok dengan tangannya sehingga aku semakin tidak tahan lagi bermain-main di luar. Kini senti demi senti kudorong ke depan hingga ujung kemaluanku pas tertuju pada lubang kemaluannya. Tika hanya membantu dengan kedua tangannya membuka kedua bibir memeknya itu, sehingga kontolku dapat menembus lubang memeknya dengan mudah. Aku mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga ujungnya berada di atas kedua bahuku. Kurasakan kontolku masuk menyelusup ke dalam memeknya Tika tanpa suatu kesulitan yang berarti hingga seluruhnya amblas. Tika semakin mengerang dan napasnya terengah-engah bagaikan orang yang lari dengan kencangnya. Suara dan napas kamipun saling memburuh, sekujur tubuh kami dibasahi oleh keringat. AC di kamar itu nampaknya tidak terasa pengaruhnya.

Tika menarik pinggulku dengan keras dan akupun menekan kontolku ke dalam memeknya juga dengan keras sehingga peraduan antara kontolku dengan memeknya semakin dalam dan kencang. Genjotan kontolku semakin kupercepat sampai-sampai peraduan paha kami menimbulkan suara cukup besar. Kami sempat memperhatikan gerakan-gerakan kami itu di cermin besar yang ada di samping tempat tidur, yang diselingi dengan suara TV 14 inch yang sengaja kami keraskan suaranya agar tidak sampai orang curiga atas perbuatan kami dalam kamar.

Keringat yang membasahi tubuh kami semakin bercampur, sehingga terasa tubuh kami saling lengket. Tika nampaknya tidak puas dengan posisi di bawah, iapun segera mengeluarkan kontolku dari dalam vaginanya lalu merobah posisi. Ia dengan sigapnya mengangkangiku lalu memasukkan kembali kontolku dalam vaginanya lalu ia dengan cepatnya menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kenan, ke bawah dan ke atas, sehingga aku semakin sulit menahan lahar hangat yang tertampung dalam penisku. Bahkan ia menawarkan padaku untuk membalikan tubuhnya membelakangi wajahku agar ia dapat dengan jelas mengamati gerakan-gerakan kami lewat cermin, namun aku menahannya agar tidak mengeluarkan lagi kontolku dari dalam vaginanya sebab terasa aku sudah sangat mendesak ingin muncratkan spermaku.

Mungkin pengaruh capek habis naik mobil dari jauh barusan, sehingga aku betul-betul kecapean dan sulit lagi mempertahankan gejolak sperma yang memaksa ingin keluar. Tanpa seizin Tika, spermaku kutumpahkan dalam vaginanya meskipun aku masih terus memompa memek Tika dari bawah dan mengikuti gerakan Tika hingga betul-betul kontolku keluar dengan sendirinya karena kehabisan cairan dan tenaga.

“Istirahat aja dulu Kak kalau capek, saya ngerti kok Kakak ini terlalu capek habis naik kendaraan hampir seharian” kata Tika dengan bijaksana sambil turun dari atasku lalu berbaring di sampingku.

Ia nampaknya tidak kecewa dan cukup mengerti atas keadaanku, sebab masih banyak kesempatan untuk mengulangi permainan kami sebentar. Apalagi sebelum kami melakukan semua itu, ia pernah berjanji akan memuaskanku dan ia tidak bakal kecewa atas keterbatasanku serta tidak terlalu menuntut untuk dipuaskan jika aku tidak mampu.

Mendengar kata-kata Tika itu, aku merasa malu dan tidak tau harus berbuat apa, sebab janji yang pernah kuucapkan pada emailku untuk memuaskannya, ternyata tidak mudah aku jadikan kenyataan. Entah, apa aku yang terlalu lemah dan loyo atau Tika yang terlalu kuat dan tidak mudah mencapai puncak kenikmatan seperti yang pernah disampaikanku lewat email bahwa sudah beberapa kali ia bersetubuh dengan pacarnya tapi ia tidak pernah merasakan puncak kenikmatan sex. Apalagi usiaku jauh lebih tua di atas 10 tahun dari usianya, sehingga seharusnya aku perlu obat penambah kekuatan dan daya tahan untuk mengimbanginya. Namun aku terlalu ceroboh dan kurang memperhitungkannya, sehingga aku terpaksa KO lebih awal sebelum ia ada tanda-tanda akan puas. Aku terlalu mengandalkan pengalamanku yang mempunyai jam terbang lebih banyak dari dia, apalagi selama ini hampir semua wanita yang kusetubuhi merasa KO lebih dulu karena kemampuanku dalam merangsang.

“Maaf yah sayang, aku terlalu capek dari daerah, seharusnya istirahat lebih dulu sebelum kita berperang di atas kasur ini” kata saya untuk memberi alasan agar ia tidak putus harapan.
“Nga apa-apa kok Kak, saya khan tidak terlalu berharap dari Kak untuk dipuaskan, sebab saya hanya mau melihat Kakak puas dan bahagia bersamaku apalagi saya memang tidak mudah mencapai kepuasan sex Kak” jawabnya dengan sedikit tersenyum tanpa ada rasa kecewa sedikitpun diwajahnya.
“Kakak janji, ronde kedua nanti, akan kuusahakan agar Adik bisa juga merasakan nikmatnya sex. Saya malu dan tidak mau dikatakan hanya mementingkan diri sendiri, apalagi pasti akan membuat kenangan buruh dihati adik sepanjang masa, kita istirahat sejenak aja dulu Dik” begitulah ucapan saya pada Tika mencoba memberi harapan yang besar.

Setelah aku ke kamar mandi membersihkan kemaluanku, saya kembali berbaring disamping Tika dan berusaha merayu, memeluk dan mencium bibir dan keningnya serta mengelus-elus puting susunya. Tiba-tiba aku teringat pada vitamin yang sengaja kubawa dari daerah sebagai obat yang dapat mengembalikan kondisi tubuh, khususnya bagi yang berusia lanjut. Aku bangkit dari tempat tidurku, lalu menelannya 2 biji, lalu kembali berpelukan dengan Tika di atas kasur empuk itu. Ternyata tidak sia-sia, hanya dalam beberapa menit saja, kontol saya mulai terasa mengeras kembali, apalagi setelah dipegang-pegang oleh Tika.

“Yuk, kita mulai lagi” kataku sambil tersenyum pada Tika.
“Apa Kakak sudah siap lagi? Istirahat aja dulu sebentar Kak, waktu kita masih ada beberapa jam lagi di wisma ini” katanya seolah tidak mau memaksa kemampuanku.

Sambil berkata begitu, Tika mulai meremas-remas kontolku dan nampaknya ia juga sangat menginginkan hal itu. Tika segera bangun dan kembali mengangkangi tubuhku lalu mencoba memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang masih basah karena belum dicuci. Ia sengaja saya minta agar lebih aktif dari aku, karena aku masih agak kecapean. Kontolku yang sudah mengeras kembali itu tidak terlalu sulit dimasukkan sampai seluruhnya amblas ke dalam lubang memeknya. Tikapun mulai menggenjot terus dan kembali menimbulkan bunyi khas, bahkan kali ini ia berbalik membelakangi wajahku sehingga ia tertawa kecil melihat gerakannya pada cermin di sudut kamar itu. Setelah ia puas memandangi posisi kami, Tika lalu turun dan mencoba nungging di depan saya. Sayapun mengerti maksudnya. Berkali-kali aku arahkan ujung penisku pada memeknya yang agak sedikit menganga dari belakang, tapi selalu saja mengenai lubang duburnya, sehingga ia menegurku karena merasa kesakitan.

Mungkin Tika atau saya yang kurang cocok dengan posisi itu, sehingga kami tidak jadi menerapkan posisi nungging itu, melainkan Tika kuminta berbaring terlentang lalu aku kembali menindihnya dan memasukkan kontolku dengan mudah lalu menggenjotnya dengan lebih keras dan cepat. Kali ini berlangsung agak lama daripada ronde pertama tadi.

“Ngomong ya Kak jika kau mau muncrat supaya aku tahu” katanya berbisik.
“Yah sayang, tapi masih jauh rasanya” jawabku singkat.

Peluh kami mulai bercucuran dan basah sekali sekujur tubuh kami. Walaupun aku telah berusaha menahan spermaku untuk tidak terlalu cepat keluarnya, namun tetap saja Tika belum ada tanda-tanda akan mencapai puncaknya.

“Auh.. iihh.. eehh.. aahh.. uuhh..” itulah suara-suara yang menyertai gerakan pinggul Tika ketika aku semakin mempercepat gerakan pantatku menekan pnisku masuk lebih dalam lagi. Sementara aku tetap berusaha untuk tidak mengeluarkan suara meskipun aku merasakan suatu kenikmatan yang luar biasa dibanding aku bersetubuh dengan istriku.
“Bagaimana sayang, masih jauh? Aku sudah mulai mau keluar nih, nga apa-apa khan saya keluarkan di dalam saja?” kataku berterus terang.
“Silakan Kak, aku sudah makan obat pengaman, ngga bakalan hamil kok, ibuku khan bidan, jadi mudah kudapatkan obat seperti itu” katanya meyakinkanku.

Tidak seberapa lama kemudian, akupun muncrat dalam vaginanya dan kali ini Tika merasakannya dengan denyutan kontolku. Aku tetap berusaha menahan kontolku dalam memeknya, sehingga ia merasa hampir mencapai puncaknya.

“Kak, kayaknya aku sudah mau keluar nihh, auhh, mm.. hh” Katanya sambil terengah-engah dan bersuara agak keras.
“Bagaimana, sudah hampir sayang? Saya capek sekali nih” kataku terus terang mengalah, sebab kontolku sudah mulai loyo dan kehabisan tenaga sehingga sulit sekali bertahan di dalam.

Kontolku dengan sendirinya keluar dari dalam memek Tika, sehingga kamipun berhenti bergoyang, nampun Tika tetap tidak menunjukkan kekecewaan dan putus asa di wajahnya.

“Aku telah merasa sedikit lebih puas dari ronde pertama tadi atau mungkin tadi aku udah muncrat tapi aku ngga mengetahuinya” demikian katanya seolah bahagia dan senang atas pertarungan kami di ronde ke-2.
“Kita masih punya waktu sekitar 3 jam lagi di kamar ini sayang, mudah-mudahan kita masih bisa lanjutkan ke ronde yang ke 3, kita habiskan saja semua sisa-sisa kemampuan kita di tempat ini, sebab kapan lagi kita dapat kesempatan seperti ini” kataku penuh harap.
“Kalau sudah capek dan nga mampu lagi Kak, ngga usah diteruskan dan dipaksakan, khan sudah sama-sama kita merasakan suatu kenikmatan yang cukup, nanti lain kali aja kita bisa lakukan, saya selalu siap kok kapan aja Kakak mau asal beritahu lebih dulu” kata Tika dengan santun dan penuh penghormatan serta kasih sayang padaku, sehingga aku merasa tidak enak dan berat padanya.

Kali ini, aku kembali ke kamar mandi membersihkan penis saya yang berlepotan dengan sperma, dan Tikapun menyusul, lalu kami sama-sama mengenakan CD kemudian berbaring sambil berpelukan, bermesraan, bahkan aku berusaha terus merangsangnya, terutama di bagian payudaranya dengan mengisap-isap putingnya dan meremas-remasnya serta mengecup pipinya. Kami saling bercanda dan bersenda gurau layaknya suami istri yang seolah tidak ada beban dan ketakutan sama-sekali. Cukup lama kami bermain-main di atas tempat tidur itu tanpa pakaian kecuali CD. Sesekali Tika menyentuh penisku dan meremas-remasnya dari luar CD, sedang aku juga menyentuh dan mengelus-elus vaginanya.

“Kak, istirahat saja dan tidurlah, biar lebih segar perasaannya, aku rasanya ngga capek dan nga ngantuk” katanya merayuku berkali-kali agar aku berusaha tidur. Tapi aku selalu takut kalau-kalau ia meninggalkan aku sendirian dalam kamar itu, sehingga mataku juga tidak mau tertidur apalagi sulit lagi kami dapatkan kesempatan emas seperti ini.

Entah pengaruh dari mana, tapi yang jelas tiba-tiba kontolku kembali tegang dan bergerak-gerak dalam CD-ku, sehingga dirasakan pula oleh Tika yang sedang berbaring di bagian bawah perutku. Mungkin akibat vitamin yang kutelan tadi atau karena senda gurau kami yang terlalu asyik. Tika tiba-tiba bangkit dan duduk di sampingku sambil tertawa.

“Wah, ternyata bangun lagi Kak, apa Kakak masih siap melanjutkannya untuk ronde yang terakhir sebelum kita keluar dari wisma ini kak?” tanyanya dengan tersenyum dan nampak ia gembira melihat reaksi itu.
“Boleh saja, tapi isap dulu donk biar lebih keras dan membesar lagi agar dapat bertahan lebih lama” jawabku dan meminta ia lebih aktif.
“Ayolah, mari kita coba mulai” katanya terburu-buru sambil membuka CD-ku dalam keadaan aku tetap terlentang. Hangat dan nikmat sekali.
“Ahh.. usst.. oohh.. aduhh.. eenakk sekali sayang..” begitulah eranganku berkali-kali ketika Tika meraih dan memasukkan kontolku ke dalam mulutnya lalu menggocok-gocoknya dengan mulut.

Setelah aku merasa kontolku cukup keras dan membesar lagi dalam mulut Tika, aku dengan segera bangkit dari tidurku lalu menarik celana dalam Tika hingga keluar semuanya. Kali ini aku tarik Tika berbarik sambil miring sehingga kami berhadap-hadapan, lalu aku coba mengangkat satu pahanya ke atas dan memasukkan pahaku ke dalam selangkangannya, lalu menusukkan kontolku ke lubang memeknya hingga amblas seluruhnya.

Beberapa menit kami dalam posisi seperti ini sambil kami menggerak- gerakkan pantat maju mundur, akupun mengangkat Tika ke atasku sehingga ia menindihku tanpa melepaskan kontolku dari kemaluannya. Kali ini Tika dengan keras dan cepatnya menggoyangkan pinggulnya maju mundur dan kiri kanan, bahkan ia menarik kepalaku ke atas sehingga kami setengah duduk lalu duduk dengan meletakkan kedua pahanya di atas kedua pahaku, lalu pinggul kami bergerak seirama seolah kami saling mendorong dan menarik. Kami tidak mengubah lagi posisi hingga kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan, meskipun aku yakin jika Tika belum mencapai kenikmatan sex 100%, tapi ia mengaku telah merasa puas merasakan kenikmatan sex yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Selesai membersihkan badan dan berpakaian lengkap, kami saling mengecup dan ciuman sebagai tanda terima kasih sekaligus perpisahan sementara karena aku mau pulang ke daerah asalku. Kami berjanji akan mengulangi lagi setiap ada kesempatan.

cerita 17tahun – TKW Pemikat

Empat tahun lalu aku masih tinggal dikota B. Waktu itu aku berumur 26 tahun. Aku tinggal dirumah sepupu, karena sementara masih menganggur aku iseng-iseng membantu sepupu bisnis kecil-kecilan di pasar. 3 bulan aku jalani dengan biasa saja. Hingga akhirnya secara tak disengaja aku kenal seorang pelanggan yang biasa menggunakan jasa angkutan barang pasar yang kebetulan aku yang mengemudikannya. Bu Murni namanya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul aku antar dia sampai dirumahnya yang memang agak jauh dari pasar tempat dia berjualan kain-kain dan baju.

Sesampai dirumahnya aku bantuin dia mengangkat barang-barangnya. Mungkin karena sudah mulai akrab aku enggak langsung pulang. Toh, memang ini penumpang yang terakhir. Aku duduk saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari bambu dihalaman di bawah pohon jambu. Dari dalam aku mendengar suara seperti memerintah kepada seseorang..

“Pit.. Tuh bawain air yang dikendil ke depan..,” begitu suara Bu Murni.

Aku tidak mendengar ada jawaban dari yang diperintah Bu Murni tadi. Yang ada tiba-tiba seorang gadis umur kira-kira 20 tahunan keluar dari rumah membawa gelas dan kendil air putih segar. Wajahnya biasa saja, agak mirip Bu Murni, tapi kulitnya putih dan semampai pula. Dia tersenyum..

“Mas, minum dulu.. Air kendil seger lho..” begitu dia menyapaku.
“I.. Iya.. Makasih..” balasku.

Masih sambil senyum dia balik kanan untuk masuk kembali ke dalam rumahnya. Aku masih tertegun sambil memandangnya. Seperti ingin tembus pandang saja niatku, ‘Pantatnya aduhai, jalannya serasi, lumayan deh..’ batinku.

Tak seberapa lama Bu Murni keluar. Dia sudah ganti baju, mungkin yang biasa dia pakai kesehariannya..

“Dik Wahyu, itu tadi anak saya si Pipit..” kata Bu Murni.
“Dia tuh lagi ngurus surat-surat katanya mau ke Malaysia jadi TKW.” lanjutnya. Aku manggut-manggut..
“O gitu yah.. Ngapain sih kok mau jauh-jauh ke Malaysia, kan jauh.. Nanti kalau ada apa-apa gimana..” aku menimpalinya.

Begitu seterusnya aku ngobrol sebentar lalu pamit undur diri. Belum sampai aku menstater mobil pickupku, Bu Murni sambil berlari kecil ke arahku..

“Eh dik Wahyu, tunggu dulu katanya Pipit mau ikut sampai terminal bis. Dia mau ambil surat-surat dirumah kakaknya. Tungguin sebentar ya..”

Aku tidak jadi menstater dan sambil membuka pintu mobil aku tersenyum karena inilah saatnya aku bisa puas mengenal si Pipit. Begitulah akhirnya aku dan Pipit berkenalan pertama kali. Aku antar dia mengambil surat-surat TKW-nya. Di dalam perjalanan kami ngobrol dan sambil bersendau gurau.

“Pit.., namamu Pipit. Kok nggak ada lesung pipitnya..” kataku ngeledek. Pipit juga tak kalah ngeledeknya.
“Mas aku kan sudah punya lesung yang lain.. Masak sih kurang lagi..” balas Pipit..

Di situ aku mulai berani ngomong yang sedikit nakal, karena sepertinya Pipit tak terlalu kaku dan lugu layaknya gadis-gadis didesa. Pantas saja dia berani merantau keluar negeri, pikirku.

Sesampai dirumah kakaknya, ternyata tuan rumah sedang pergi membantu tetangga yang sedang hajatan. Hanya ada anaknya yang masih kecil kira-kira 7 tahunan dirumah. Pipit menyuruhnya memanggilkan ibunya.

“Eh Ugi, Ibu sudah lama belum perginya? susulin sana, bilang ada Lik Pipit gitu yah..”

Ugi pergi menyusul ibunya yang tak lain adalah kakaknya Pipit. Selagi Ugi sedang menyusul ibunya, aku duduk-duduk di dipan tapi di dalam rumah. Pipit masuk ke ruangan dalam mungkin ambil air atau apa, aku diruangan depan. Kemudian Pipit keluar dengan segelas air putih ditangannya.

“Mas minum lagi yah.. Kan capek nyetir mobil..” katanya.

Diberikannya air putih itu, tapi mata Pipit yang indah itu sambil memandangku genit. Aku terima saja gelasnya dan meminumnya. Pipit masih saja memandangku tak berkedip. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit, dingin dan sedikit berkeringat. Tak disangka, malah tangan Pipit meremas jariku. Aku tak ambil pusing lagi tangan satunya kuraih, kugenggam. Pipit menatapku.

“Mas.. Kok kita pegang-pegangan sih..” Pipit setengah berbisik.
Agak sedikit malu aku, tapi kujawab juga, “Abis, .. Kamu juga sih..”

Setelah itu sambil sama-sama tersenyum aku nekad menarik kedua tangannya yang lembut itu hingga tubuhnya menempel di dadaku, dan akhirnya kami saling berpelukan tidak terlalu erat tadinya. Tapi terus meng-erat lagi, erat lagi.. Buah dadanya kini menempel lekat didadaku. Aku semakin mendapat keberanian untuk mengelus wajahnya. Aku dekatkan bibirku hingga menyentuh bibirnya. Merasa tidak ada protes, langsung kukecup dan mengulum bibirnya. Benar-benar nikmat. Bibirnya basah-basah madu. Tanganku mendekap tubuhku sambil kugoyangkan dengan maksud sambil menggesek buah dadanya yang mepet erat dengan tubuhku. Sayup-sayup aku mendengar Pipit seperti mendesah lirih, mungkin mulai terangsang kali..

Apalagi tanpa basa-basi tonjolan di bawah perutku sesekali aku sengaja kubenturkan kira-kira ditengah selangkangannya. Sesekali seperti dia tahu iramanya, dia memajukan sedikit bagian bawahnya sehingga tonjolanku membentur tepat diposisi “mecky”nya.

Sinyal-sinyal nafsu dan birahiku mulai memuncak ketika tanpa malu lagi Pipit menggelayutkan tangannya dipundakku memeluk, pantatnya goyang memutar, menekan sambil mendesah. Tanganku turun dan meremas pantatnya yang padat. Akupun ikut goyang melingkar menekan dengan tonjolan penisku yang menegang tapi terbatas karena masih memakai celana lumayan ketat. Ingin rasanya aku gendong tubuh Pipit untuk kurebahkan ke dipan, tapi urung karena Ugi yang tadi disuruh Pipit memanggil ibunya sudah datang kembali.

Buru-buru kami melepas pelukan, merapikan baju, dan duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Begitu masuk, Ugi yang ternyata sendirian berkata seperti pembawa pesan.

“Lik Pipit, Ibu masih lama, sibuk sekali lagi masak buat tamu-tamu. Lik Pipit suruh tunggu aja. Ugi juga mau ke sana mau main banyak teman. sudah ya Lik..”

Habis berkata begitu Ugi langsung lari ngeloyor mungkin langsung buru-buru mau main dengan teman-temannya. Aku dan Pipit saling menatap, tak habis pikir kenapa ada kesempatan yang tak terduga datang beruntun untuk kami, tak ada rencana, tak ada niat tahu-tahu kami hanya berdua saja disebuah rumah yang kosong ditinggal pemiliknya.

“Mas, mending kita tunggu saja yah.. sudah jauh-jauh balik lagi kan mubazir.. Tapi Mas Wahyu ada acara nggak nanti berabe dong..” berkata Pipit memecah keheningan.

Dengan berbunga-bunga aku tersenyum dan setuju karena memang tidak ada acara lagi aku dirumah.

“Pit sini deh.. Aku bisikin..” kataku sambil menarik lengan dengan lembut.
“Eh, kamu cantik juga yah kalau dipandang-pandang..”

Tanpa ba-Bi-Bu lagi Pipit malah memelukku, mencium, mengulum bibirku bahkan dengan semangatnya yang sensual aku dibuat terperanjat seketika. Akupun membalasnya dengan buas. Sekarang tidak berlama-lama lagi sambil berdiri. Aku mendorong mengarahkannya ke dipan untuk kemudian merebahkannya dengan masih berpelukan. Aku menindihnya, dan masih menciumi, menjilati lehernya, sampai ke telinga sebelah dalam yang ternyata putih mulus dan beraroma sejuk. Tangannya meraba tonjolan dicelanaku dan terus meremasnya seiring desahan birahinya. Merasa ada perimbangan, aku tak canggung-canggung lagi aku buka saja kancing bajunya. Tak sabar aku ingin menikmati buah dada keras kenyal berukuran 34 putih mulus dibalik bra-nya.

Sekali sentil tali bra terlepas, kini tepat di depan mataku dua tonjolan seukuran kepalan tangan aktor Arnold Swchargeneger, putih keras dengan puting merah mencuat kurang lebih 1 cm. Puas kupandang, dilanjutkan menyentuh putingnya dengan lubang hidungku, kuputar-putar sebelum akhirnya kujilati mengitari diameternya kumainkan lidahku, kuhisap, sedikit menggigit, jilat lagi, bergantian kanan dan kiri. Pipit membusung menggeliat sambil menghela nafas birahi. Matanya merem melek lidahnya menjulur membasahi bibirnya sendiri, mendesah lagi.. Sambil lebih keras meremas penisku yang sudah mulai terbuka resluiting celanaku karena usaha Pipit.

Tanganku mulai merayap ke sana kemari dan baru berhenti saat telah kubuka celana panjang Pipit pelan tapi pasti, hingga berbugil ria aku dengannya. Kuhajar semua lekuk tubuhnya dengan jilatanku yang merata dari ujung telinga sampai jari-jari kakinya. Nafas Pipit mulai tak beraturan ketika jilatanku kualihkan dibibir vaginanya. Betapa indah, betapa merah, betapa nikmatnya. Clitoris Pipit yang sebesar kacang itu kuhajar dengan kilatan kilatan lidahku, kuhisap, kuplintir-plintir dengan segala keberingasanku. Bagiku Mecky dan klitoris Pipit mungkin yang terindah dan terlezaat se-Asia tenggara.

Kali ini Pipit sudah seperti terbang menggelinjang, pantatnya mengeras bergoyang searah jarum jam padahal mukaku masih membenam diselangkangannya. Tak lama kemudian kedua paha Pipit mengempit kepalaku membiarkan mulutku tetap membenam di meckynya, menegang, melenguhkan suara nafasnya dan…

“Aauh.. Ahh.. Ahh.. Mas.. Pipit.. Mas.. Pipit.. Keluar.. Mas..” mendengar lenguhan itu semakin kupagut-pagut, kusedot-sedot meckynya, dan banjirlah si-rongga sempit Pipit itu. Iri sekali rasanya kalau aku tak sempat keluar orgasme, kuangkat mukaku, kupegang penisku, kuhujam ke vaginanya. Ternyata tak terlalu susah karena memang Pipit tidak perawan lagi. Aku tak perduli siapa yang mendahului aku, itu bukan satu hal penting. Yang penting saat ini aku yang sedang berhak penuh mereguk kenikmatan bersamanya. Lagipula aku memang orang yang tidak terlalu fanatik norma kesucian, bagiku lebih nikmat dengan tidak memikirkan hal-hal njelimet seperti itu.

Kembali ke “pertempuranku”, setengah dari penisku sudah masuk keliang vagina sempitnya, kutarik maju mundur pelan, pelan, cepet, pelan lagi, tanganku sambil meremas buah dada Pipit. Rupanya Pipit mengisyaratkan untuk lebih cepat memacu kocokan penis saktiku, akupun tanggap dan memenuhi keinginannya. Benar saja dengan “Ahh.. Uhh”-nya Pipit mempercepat proses penggoyangan aku kegelian. Geli enak tentunya. Semakin keras, semakin cepat, semakin dalam penisku menghujam.

Kira-kira 10 menit berlalu, aku tak tahan lagi setelah bertubi-tubi menusuk, menukik ke dalam sanggamanya disertai empotan dinding vagina bidadari calon TKW itu, aku setengah teriak berbarengan desahan Pipit yang semakin memacu, dan akhirnya detik-detik penyampaian puncak orgasme kami berdua datang. Aku dan Pipit menggelinjang, menegang, daan.. Aku orgasme menyemprotkan benda cair kental di dalam mecky Pipit. Sebaliknya Pipit juga demikian. Mengerang panjang sambil tangannya menjambak rambutku.. Tubuhku serasa runtuh rata dengan tanah setelah terbang ke angkasa kenikmatan. Kami berpelukan, mulutku berbisik dekat telinga Pipit.

“Kamu gila Pit.. Bikin aku kelojotan.. Nikmat sekali.. Kamu puas Pit?”
Pipit hanya mengangguk, “Mas Wahyu.., aku seperti di luar angkasa lho Mas.. Luar biasa benar kamu Mas..” bisiknya..

Sadar kami berada dirumah orang, kami segera mengenakan kembali pakaian kami, merapihkannya dan bersikap menenangkan walaupun keringat kami masih bercucuran. Aku meraih gelas dan meminumnya.

Kami menghabiskan waktu menunggu kakaknya Pipit datang dengan ngobrol dan bercanda. Sempat Pipit bercerita bahwa keperawanannya telah hilang setahun lalu oleh tetangganya sendiri yang sekarang sudah meninggal karena demam berdarah. Tapi tidak ada kenikmatan saat itu karena berupa perkosaan yang entah kenapa Pipit memilih untuk memendamnya saja.

Begitulah akhirnya kami sering bertemu dan menikmati hari-hari indah menjelang keberangkatan Pipit ke Malaysia. Kadang dirumahnya, saat Bu Murni kepasar, ataupun di kamarku karena memang bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku sekalipun.

Tak lama setelah keberangkatan Pipit aku pindah ke Jakarta. Khabar terakhir tentang Pipit aku dengar setahun yang lalu, bahwa Pipit sudah pulang kampung, bukan sendiri tapi dengan seorang anak kecil yang ditengarai sebagai hasil hubungan gelap dengan majikannya semasa bekerja di negeri Jiran itu. Sedang tentangku sendiri masih berpetualang dan terus berharap ada “Pipit-Pipit” lain yang nyasar ke pelukanku. Aku masih berjuang untuk hal itu hingga detik ini. Kasihan sekali gue..

Cerita 17tahun : Tragedi Kehidupanku

Namaku adalah Sany I*** (edited). Aku adalah seorang wanita karier berumur 28 tahun dan memiliki sebuah keluarga yang sangat saya sayangi. Suamiku bukan orang Indonesia, dia adalah orang Taiwan dan kami memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik dan sudah berusia 8 tahun sekarang ini. Hubungan perkawinan kami sangat rukun dan kami tidak pernah mengalami masalah dengan hubungan seksual ataupun keuangan karena walau bagaimanapun baik aku dan suamiku mempunyai posisi yang sangat bagus di perusahaannya masing masing.

Suamiku sering pulang pergi dari Taiwan ke Indonesia dan selalu singgah ke Singapore sebelum ke Jakarta, hal ini disebabkan karena dia bekerja di Taiwan apalagi dia tidak begitu bisa dalam bercakap-cakap bahasa Indonesia sehingga di dalam kehidupan pernikahan kami, kami selalu menggunakan bahasa mandarin atau bahasa Inggris, sehingga anak kami yang bernama Melissa mengusai 3 bahasa.

Wang K*** (edited) adalah nama suamiku dan aku sangat menyayanginya. Dia selalu pulang ke Jakarta setiap 2 minggu sekali tetapi walaupun demikian, aku tidak merasa kesepian dan tidak ada keinginan untuk melakukan affair dengan laki-laki lain walaupun percaya atau tidak, banyak teman laki-lakiku di sini sering mengajakku kencan dan ada juga yang mengajak bercinta secara terang-terangan sewaktu suamiku tidak ada di Indonesia, tetapi aku selalu menolaknya dengan berbagai alasan karena aku sangat menyayanginya.

Suatu hari di malam hari tanggal 31 Oktober 2000 (beberapa hari yang lalu), aku baru saja menyajikan sarapan malam untuk Melissa dan untuk diriku sendiri. Melissa melahap masakan char siew buatanku yang menjadi salah satu kegemarannya sehingga membuat tubuhnya semakin gemuk.

Sewaktu kami sedang makan, tiba-tiba telepon berdering dan saya menunda sarapan malam saya untuk menerima telpon tersebut. Ternyata, orang di telepon itu adalah suamiku sendiri yang mengatakan bahwa malam ini dia berada di Taiwan airport bersama teman bisnisnya. Dia berkata bahwa dia kangen sekali untuk bercinta denganku dan dia berkata bahwa setelah bisnisnya di Taiwan selesai, dia akan langsung ke Jakarta untuk bercinta denganku. Percakapan 30 menit kami terpaksa berhenti karena adanya suara wanita di latar belakangnya bahwa dia mesti “boarding” karena pesawat akan diberangkatkan. Dengan perasaan sedih dan kesal, aku terpaksa mengakhiri percakapan kami.

Untuk menghilangkan perasaan kesalku, aku mendekati anak perempuanku yang sedang asyik bermain dengan Play Station dan aku ikut bermain dengannya. Sewaktu aku sedang bermain-main dengan anakku, telepon berdering kembali dan aku menyangka itu dari suamiku, ternyata orang yang meneleponku adalah adik kandungku dan dia seperti hendak berkata sesuatu dengan perasaan sedih dan aku mengetahuinya karena dia gugup sekali sewaktu hendak berbicara denganku.

Tak lama, akhirnya dia menceritakan bahwa dia baru saja mendengar dan menyaksikan sebuah kecelakaan pesawat terbang di CNN dan dia menyebutkan sebuah nomor pesawat SQ006 yang membuat hatiku menjadi hancur berkeping-keping karena suamiku yang sangat kusayangi berada di dalamnya. Aku mendadak menangis dan merasa lemas di seluruh badan, kemudian aku tidak ingat apa-apa setelah itu. Setelah aku sadar dari pingsanku, adik perempuanku yang meneleponku tadi berada di sisiku bersama suaminya dan anakku. Melihat mereka, aku menjadi menangis kembali dan mereka menyarankan agar aku pergi ke Taiwan saat itu juga, aku mengiyakan mereka dan setelah aku siap, aku langsung pergi ke Airport dengan menggunakan taksi sementara adikku dan suaminya menemani Melissa untuk beberapa hari selama aku pergi ke Taiwan.

Selama perjalanan, aku tidak henti-hentinya menangis di dalam hati karena aku tidak mau orang-orang di sekitarku tahu bahwa aku sedang menangis. Akhirnya aku sampai juga di Taiwan dan aku langsung mencari kantor Singapore Airline dan mencari orang yang mengetahui secara jelas apa yang terjadi dalam insiden tersebut dan mengkorfimasikan pada mereka bahwa suamiku adalah salah satu korban di dalam kecelakaan tersebut.

Setelah aku mengidentifikasi jenazah suamiku yang sudah tidak berbentuk lagi, aku duduk seorang diri di salah satu bangku dan badanku lemas semuanya. Aku masih bengong saja dan tak tahu mesti berbuat apa apa setelah mengidentifikasikan jenazah suamiku sampai seseorang pria Taiwan menegurku. Setelah kami bercakap-cakap, aku mengetahui bahwa laki-laki yang mengaku bernama Sam Yam ini kehilangan istri dan anaknya di dalam kecelakaan yang juga dialami oleh suamiku.

Aku juga semakin lama semakin tidak mengerti mengapa akhirnya aku akrab dengan Sam Yam yang baru saja kukenal. Dia mengajakku ke sebuah restaurant yang tidak jauh dari Chiang Khai Sekh Airport. Kami saling bercakap-cakap mengenai kehidupan kami masing-masing dan Sam memesan 2 botol anggur merah dan kami berdua sama-sama meminum anggur merah yang dia pesan untuk menghilangkan kesedihan dan kedukaan yang kami alami masing masing.

Aku memang tidak pernah minum anggur selama hidupku sehingga beberapa teguk anggur merah itu membuatku menjadi mabuk. Aku masih ingat bahwa Sam menggendongku ke mobilnya di saat aku sudah mabuk sambil aku ngomong ngalor-ngidul tidak karuan.

Selama di mobil Sam, aku kembali menangis, tertawa dan menggoda Sam yang sedang menyetir dan disaat itu aku benar-benar tidak tahu ke mana Sam akan membawaku pergi. Akhirnya aku merasakan mobil Sam berhenti di suatu tempat dan aku masih mabuk dan aku hanya merasakan bahwa badanku sedang digendong oleh Sam ke apartemen dan akhirnya tiba di suatu ruangan kamar yang aku yakin itu adalah kamar tidurnya karena kemudian aku dibaringkan oleh Sam di ranjang tersebut.

Sam pergi meninggalkanku seorang diri di ranjang tersebut dan aku terus berteriak-teriak memanggil nama suamiku dalam bahasa Mandarin dan kadang-kadang aku tertawa dan kadang-kadang aku menangis. Aku benar-benar tidak sadar atas apa yang terjadi dengan diriku dan yang aku tahu bahwa aku sudah seperti orang gila yang tertawa dan berbicara pada diri sendiri.

Beberapa menit kemudian, Sam datang kembali ke ranjang di mana aku sedang berbaring karena aku melihatnya samar-samar dalam keadaan mabuk. Aku memperhatikan bahwa dia sedang membalut wajahku dengan kain yang sudah bercampur dengan es. Aku tahu bahwa dia ingin membuatku sadar dari perasaan mabuk dan teler akibat red wine itu.

Dikala Sam sedang melap wajahku dengan kain merah itu, aku langsung memeluk Sam tentunya dalam keadaanku yang masih tidak sadar. Saat itu, aku menyangka bahwa Sam adalah Wang Hui (suamiku) sehingga aku terus saja menciumnya dengan penuh nafsu dan sepertinya Sam ikut hanyut dalam ciumanku dan mulai menciumku dengan penuh mesra dan mungkin juga dia menganggap aku seperti istrinya yang telah meninggal. Tanganku mulai turun dan mengelus kejantanannya yang telah mengeras seperti baja. Sam mulai menyambutnya dengan mencium seluruh wajahku seperti orang yang sudah lama tidak melakukan seks. Mulai dari keningku, kemudian hidung, dan akhirnya mulutku. Aku membalas ciumannya dan akhirnya kami French Kissing. Lidah kami bertemu dan bergelut.

Badan kami mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa permainan ini akan menjadi menarik. Tangannya mulai membuka baju piyamanya. Tanpa melepaskan French Kiss kami, dia membuang bajunya dan mulai melepaskan BH-ku ke lantai. Tangan nakalnya mulai memainkan payudaraku yang indah. Tangannya mulai melepaskan pakaianku dan tak lama celana dalamku juga menyusul terhempas di lantai apartemennya. Ciuman kami terlepas untuk mengambil nafas. Nafas kami mulai menjadi berat dan kami bergerak menurut insting kami.

Sam mulai menciumi leherku dan terus turun ke arah payudaraku. Sam menciumi payudaraku dan menjilati puting susuku. Setelah lumayan puas dengan payudaraku, tangannya mulai bermain di bibir kewanitaanku. Sam memasukkan satu jari dan merasakan bibir kemaluanku mulai membasah. Sam tidak mau buang-buang waktu lagi. Sam terus menjilati bibir kemaluan dan klitorisku. Langsung saja aku mengerang dengan nada penuh kepuasan.

Sambil terus menjilati klitorisku, Sam memasukkan dua jari ke liang kewanitaanku. Tangan Sam yang satunya menemukan payudaraku dan mulai mencubit-cubit ringan puting susuku. Aku mengerang dengan gembira dan cairanku mulai tumpah dan aku telah mencapai orgasme yang keras. Sam tidak peduli, dengan ganas dia dorong maju mundur jemarinya dan dangan keras dia jilati klitorisku. Aku mendapat orgasmeku yang aku sendiri tidak tahu itu yang keberapa. Batang kemaluannya yang sejak tadi keras dan online siap-siap dimasukkan lubang cintaku. Aku menciumnya sambil terus menyebut nama suamiku yang telah meninggal.

Setelah itu, aku langsung mengulum batang kemaluannya dan aku langsung meletakkan kemaluanku di atas wajahnya. Langsung saja kujilati. Dalam posisi 69 ini, kami saling memuaskan satu sama lainnya. Tak lama, aku merasa cairan wanitaku akan keluar. “Wang Hui, I’m cumming..” aku terus menyebut nama suamiku tanpa menyadari bahwa laki-laki yang sedang kusetubuhi adalah orang asing yang baru kukenal dalam 1 hari.

Kami sangat kecapaian dan berbaring sebentar. Rupanya Sam masih hot. Aku masih memegang-megang batang kemaluannya dan genggamanku mulai bergerak naik turun. batang kemaluannya yang masih belum kuat langsung saja berdiri tegap. Aku duduk mengangkang dan mengendarai batang kemaluannya. Badanku naik turun berirama. Tangannya memainkan puting susuku yang mulai mengeras dalam pegangannya. Dia mulai mengerang dan berteriak, “Enak!”. Pinggulku juga turut bergerak naik mengikuti irama Sam.

Tanda-tanda ejakulasi mulai muncul dan irama kami semakin lebih cepat. “Ooh.. ooh..” Kami berdua mengerang bersamaan dan akhirnya aku merasakan otot-otot liang kewanitaanku mengeras dan cairan manisku tumpah ke atas batang kemaluannya. Pada saat itu juga batang kemaluannya menembakkan cairan laki-lakinya ke dalam liang kewanitaanku dan aku merasakan sensasi yang selalu kurindukan.

Kami berpakaian kembali. Kami berdua tidur berpelukan. Esok paginya, aku sungguh terkejut ketika melihat tubuhku yang dalam keadaan telanjang. Aku membangunkan Sam yang tidur sambil memeluk tubuhku dengan mesranya. Aku menanyakan apa yang terjadi dengan diri kami. Sam menceritakan seluruh kejadian yang dialami oleh kami selama semalam dan aku langsung terkejut dan meninggalkan rumah Sam dengan berjuta penyesalan. Dengan beribu ribu penyesalan, aku langsung kembali ke Airport untuk menemui jenazah suamiku dan aku berharap dia mau memaafkan apa yang terjadi antara aku dengan orang yang baru saja kukenal, Sam Yam.

Maafkan aku, suamiku sayang dan selamat tinggal sayangku. Aku berjanji bahwa aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Para pembaca, bisakah kalian memberitahu kepadaku apakah ini semua kesalahanku?